Jangan Merasa, Diri Lebih Baik Dari Orang Lain
Sebuah kapal karam di tengah laut karena
terjangan badai dan ombak hebat. Hanya dua
orang lelaki yang bisa menyelamatkan diri.
Mereka berenang ke sebuah pulau kecil yang
gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu
apa yang harus dilakukan. Namun mereka berdua
yakin bahwa tidak ada yang dapat dilakukan
kecuali berdoa.
Untuk mengetahui doa siapakah yang paling
dikabulkan, mereka sepakat untuk membagi
pulau kecil itu menjadi dua wilayah. Dan
mereka tinggal sendiri-sendiri berseberangan
di sisi-sisi pulau tersebut. Doa pertama
mereka panjatkan, mereka memohon agar
diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki ke
satu melihat sebuah pohon penuh dengan buah-
buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya.
Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki
yang lainnya tetap kosong.
Bagaimana dengan nasib lelaki kedua ? Siapa
yang akhirnya menang ?
Ceritanya berlanjut sbb:
Seminggu kemudian, lelaki yang ke satu merasa kesepian dan memutuskan untuk berdoa agar diberikan seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal yang karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang berenang dan terdampar di sisi tempat lelaki ke satu itu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apanya.
Segera saja, lelaki ke satu ini berdoa memohon rumah, pakaian, dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban saja, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya, lelaki ke satu ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi harinya mereka menemukan sebuah kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki ke satu dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap untuk berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lelaki ke dua yang tinggal di sisi lain pulau.
Menurutnya, memang lelaki kedua itu tidak pantas menerima berkah tersebut karena doa-doanya tak pernah terkabulkan. Begitu kapal siap berangkat, lelaki ke satu ini mendengar suara dari langit menggema, “Hai, mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?” “Berkahku hanyalah milikku sendiri, karena hanya doakulah yang dikabulkan,” jawab lelaki ke satu ini. “Doa lelaki temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka, ia tak pantas mendapatkan apa-apa.” “Kau salah!” suara itu membentak membahana. “Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan, semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa.”
“Katakan padaku,” tanya lelaki ke satu itu.”Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus merasa berhutang atas semua ini padanya?” “Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan!”
Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain ? Sadarilah betapa banyak orang yang telah mengorbankan segala sesuatu demi keberhasilan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain. Dan janganlah menilai seseorang/sesuatu hanya dari “yang terlihat” saja.
From:email
Rabu, 14 Januari 2009
Selasa, 13 Januari 2009
Orang Benar Tumbuh Seperti Pohon Korma
Ringkasan khotbah 11.01.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Kedua Januari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
Orang Benar Tumbuh Seperti Pohon Korma
Mazmur 92:13a
“Orang benar akan bertumbuh seperti pohon korma……”
Siapakah orang benar? Masih adakah orang benar? Paulus katakan dalam Roma 3:10-23 – tidak ada yang benar, seorangpun tidak…. Tetapi Pemazmur katakan orang benar akan bertumbuh/bertunas seperti pohon korma. Apakah ada kesalahan? Tidak!
Saudara dan saya sudah dibenarkan karena iman – Roma 5:1. Tadinya kita adalah orang-orang yang patut dihukum, kita semua sudah berdosa, tetapi syukur kepada Allah, yang sudah memberikan Yesus bagi dunia, “Dia yang walaupun dalam rupa Allah tetapi tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”- Filipi 2:5-8, ini semua dilakukanNya HANYA SEMATA-MATA supaya saudara diselamatkan dan dibenarkan dihadapan Allah. Saudara diselamatkan dan dibenarkan bukan karena saudara telah melakukan perbuatan baik, sebaliknya karena engkau beriman kepada Kristus – Efesus 2:8-9. Setetes darah Kristus, lebih berharga dari pada apapun di dunia ini. Roma 5:9 mengatakan DarahNya membenarkan dan menyelamatkan kita. Sungguh tak ternilai darah Kristus bagi orang yang percaya. Itulah sebabnya, engkau dikatakan “Orang Benar”, karena saudara sudah dibenarkan karena IMAN kepada Yesus Kristus.
Dan kalau engkau sudah dibenarkan – menajdi orang benar, maka kehidupanmu harus bertumbuh seperti pohon korma. Pohon korma suka tumbuh di tanah yang tandus dan kering. Tanaman ini tumbuh subur di daerah Timur Tengah yang gersang. Mengapa tanaman ini dapat tumbuh di daerah demikian? Sebabnya adalah karena ia mempunyai :
Akar yang dalam. Akarnya menembus sampai jauh kedalam tanah, dan akarnya akan berhenti pada saat menemukan sumber air yang memberikan kehidupan pada dirinya sendiri. Kalau sudah demikian, walaupun angin dan badai menerpa batang pohon tersebut, paling-paling pohon ini hanya condong kekiri dan miring kekanan. Dan saat angin badai berhenti mengamuk, maka pohon ini kembali tegak berdiri. Demikianlah kehidupan orang benar/Kristen, harus tumbuh berakar sampai bertemu dengan air kehidupan itu, yaitu Kristus dan Firman-Nya. Hanya inilah yang dapat memeberikan kekuatan pada kita disaat menghadapi angin dan badai pencobaan hidup yang semakin hari semakin kuat. Kalau saudara tidak berakar kuat, saudara akan tumbang. Efesus 3:17 katakan, berakarlah dalam kasih, dan Kolose 2:7 – berakarlah dalam iman. Tuhan mau setiap orang Kristen harus berakar di dalam kasih dan dalam iman kepada-Nya supaya kuat menghadapi segala macam angin pencobaan hidup.
Pohon korma mempunyai batang yang lurus keatas. Allah menghendaki supaya orang Kristen hidup tulus dan lurus, terus tumbuh lurus keatas sampai menghadap Allah di Sion. Tetapi Nabi Mika berkata dalam Mika 7:4a “Orang yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri….”, manusia tidak menyukai yang lurus, tetapi saudara dan saya, Tuhan kehendaki bertumbuhlah seperti pohon korma, lurus katas. Yesus berkata, engkau berada diantara serigala, sebab itu, cerdiklah seperti ular dan TULUS seperti merpati. Jangan hanya cerdik tetapi tidak tulus, maka engkau seperti ular = licik, jangan pula hanya tulus tanpa kecerdikan, maka Hosea 7:11 katakan, engkau seperti merpati tolol. Didalam ketulusan engkau harus tumbuh lurus keatas, dan didalam kecerdikanmu engkau harus berakar jauh kedalam mencari sumber air kehidupan, supaya engkau hidup dan kuat. Setelah engkau bertumbuh demikian, maka engkau harus :
Berbuah yang manis. Buah korma tidak ada yang asam. Allah menghendaki supaya kita menghasilkan buah kehidupan yang manis, yang keluar dari perbuatan kita.
Oleh karena itu, Allah menghendaki supaya kita bertumbuh seperti pohon korma! Amin.
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Kedua Januari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
Orang Benar Tumbuh Seperti Pohon Korma
Mazmur 92:13a
“Orang benar akan bertumbuh seperti pohon korma……”
Siapakah orang benar? Masih adakah orang benar? Paulus katakan dalam Roma 3:10-23 – tidak ada yang benar, seorangpun tidak…. Tetapi Pemazmur katakan orang benar akan bertumbuh/bertunas seperti pohon korma. Apakah ada kesalahan? Tidak!
Saudara dan saya sudah dibenarkan karena iman – Roma 5:1. Tadinya kita adalah orang-orang yang patut dihukum, kita semua sudah berdosa, tetapi syukur kepada Allah, yang sudah memberikan Yesus bagi dunia, “Dia yang walaupun dalam rupa Allah tetapi tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”- Filipi 2:5-8, ini semua dilakukanNya HANYA SEMATA-MATA supaya saudara diselamatkan dan dibenarkan dihadapan Allah. Saudara diselamatkan dan dibenarkan bukan karena saudara telah melakukan perbuatan baik, sebaliknya karena engkau beriman kepada Kristus – Efesus 2:8-9. Setetes darah Kristus, lebih berharga dari pada apapun di dunia ini. Roma 5:9 mengatakan DarahNya membenarkan dan menyelamatkan kita. Sungguh tak ternilai darah Kristus bagi orang yang percaya. Itulah sebabnya, engkau dikatakan “Orang Benar”, karena saudara sudah dibenarkan karena IMAN kepada Yesus Kristus.
Dan kalau engkau sudah dibenarkan – menajdi orang benar, maka kehidupanmu harus bertumbuh seperti pohon korma. Pohon korma suka tumbuh di tanah yang tandus dan kering. Tanaman ini tumbuh subur di daerah Timur Tengah yang gersang. Mengapa tanaman ini dapat tumbuh di daerah demikian? Sebabnya adalah karena ia mempunyai :
Akar yang dalam. Akarnya menembus sampai jauh kedalam tanah, dan akarnya akan berhenti pada saat menemukan sumber air yang memberikan kehidupan pada dirinya sendiri. Kalau sudah demikian, walaupun angin dan badai menerpa batang pohon tersebut, paling-paling pohon ini hanya condong kekiri dan miring kekanan. Dan saat angin badai berhenti mengamuk, maka pohon ini kembali tegak berdiri. Demikianlah kehidupan orang benar/Kristen, harus tumbuh berakar sampai bertemu dengan air kehidupan itu, yaitu Kristus dan Firman-Nya. Hanya inilah yang dapat memeberikan kekuatan pada kita disaat menghadapi angin dan badai pencobaan hidup yang semakin hari semakin kuat. Kalau saudara tidak berakar kuat, saudara akan tumbang. Efesus 3:17 katakan, berakarlah dalam kasih, dan Kolose 2:7 – berakarlah dalam iman. Tuhan mau setiap orang Kristen harus berakar di dalam kasih dan dalam iman kepada-Nya supaya kuat menghadapi segala macam angin pencobaan hidup.
Pohon korma mempunyai batang yang lurus keatas. Allah menghendaki supaya orang Kristen hidup tulus dan lurus, terus tumbuh lurus keatas sampai menghadap Allah di Sion. Tetapi Nabi Mika berkata dalam Mika 7:4a “Orang yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri….”, manusia tidak menyukai yang lurus, tetapi saudara dan saya, Tuhan kehendaki bertumbuhlah seperti pohon korma, lurus katas. Yesus berkata, engkau berada diantara serigala, sebab itu, cerdiklah seperti ular dan TULUS seperti merpati. Jangan hanya cerdik tetapi tidak tulus, maka engkau seperti ular = licik, jangan pula hanya tulus tanpa kecerdikan, maka Hosea 7:11 katakan, engkau seperti merpati tolol. Didalam ketulusan engkau harus tumbuh lurus keatas, dan didalam kecerdikanmu engkau harus berakar jauh kedalam mencari sumber air kehidupan, supaya engkau hidup dan kuat. Setelah engkau bertumbuh demikian, maka engkau harus :
Berbuah yang manis. Buah korma tidak ada yang asam. Allah menghendaki supaya kita menghasilkan buah kehidupan yang manis, yang keluar dari perbuatan kita.
Oleh karena itu, Allah menghendaki supaya kita bertumbuh seperti pohon korma! Amin.
Senin, 12 Januari 2009
The Emperor and The Seed
The Emperor And The Seed
An emperor in the Far East was growing old and knew it was time to choose his successor. Instead of choosing one of his assistants or his children, he decided something different. He called young people in the kingdom together one day. He said, "It is time for me to step down and choose the next emperor. I have decided to choose one of you."
The kids were shocked! But the emperor continued. "I am going to give each one of you a seed today. One very special seed. I want you to plant the seed, water it and come back here after one year from today with what you have grown from this one seed. I will then judge the plants that you bring, and the one I choose will be the next emperor!"
One boy named Ling was there that day and he, like the others, received a seed. He went home and excitedly told his mother the story. She helped him get a pot and planting soil, and he planted the seed and watered it carefully. Every day he would water it and watch to see if it had grown. After about three weeks, some of the other youths began to talk about their seeds and the plants that were beginning to grow.
Ling kept checking his seed, but nothing ever grew. 3 weeks, 4 weeks, 5 weeks went by. Still nothing. By now, others were talking about their plants but Ling didn't have a plant, and he felt like a failure. Six months went by, still nothing in Ling's pot. He just knew he had killed his seed.
Everyone else had trees and tall plants, but he had nothing. Ling didn't say anything to his friends, however. He just kept waiting for his seed to grow.
A year finally went by and all the youths of the kingdom brought their plants to the emperor for inspection. Ling told his mother that he wasn't going to take an empty pot. But honest about what happened, Ling felt sick to his stomach, but he knew his mother was right. He took his empty pot to the palace. When Ling arrived, he was amazed at the variety of plants grown by the other youths. They were beautiful in all shapes and sizes. Ling put his empty pot on the floor and many of the other kinds laughed at him. A few felt sorry for him and just said, "Hey nice try."
When the emperor arrived, he surveyed the room and greeted the young people. Ling just tried to hide in the back. "What great plants, trees and flowers you have grown," said the emperor. "Today, one of you will be appointed the next emperor!" All of a sudden, the emperor spotted Ling at the back of the room with his empty pot. He ordered his guards to bring him to the front. Ling was terrified. "The emperor knows I'm a failure! Maybe he will have me killed!"
When Ling got to the front, the Emperor asked his name. "My name is Ling," he replied. All the kids were laughing and making fun of him. The emperor asked everyone to quiet down. He looked at Ling, and then announced to the crowd, "Behold your new emperor! His name is Ling!" Ling couldn't believe it. Ling couldn't even grow his seed. How could he be the new emperor?
Then the emperor said, "One year ago today, I gave everyone here a seed. I told you to take the seed, plant it, water it, and bring it back to me today. But I gave you all boiled seeds, which would not grow. All of you, except Ling, have brought me trees and plants and flowers. When you found that the seed would not grow, you substituted another seed for the one I gave you. Ling was the only one with the courage and honesty to bring me a pot with my seed in it. Therefore, he is the one who will be the new emperor!"
If you plant honesty, you will reap trust.
If you plant goodness, you will reap friends.
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory.
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success.
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation.
If you plant openness, you will reap intimacy.
If you plant patience, you will reap improvements.
If you plant faith, you will reap miracles.
But
If you plant dishonesty, you will reap distrust.
If you plant selfishness, you will reap loneliness.
If you plant pride, you will reap destruction.
If you plant envy, you will reap trouble.
If you plant laziness, you will reap stagnation.
If you plant bitterness, you will reap isolation.
If you plant greed, you will reap loss.
If you plant gossip, you will reap enemies.
If you plant worries, you will reap wrinkles.
If you plant sin, you will reap guilt.
So be careful what you plant now, It will determine what you will reap tomorrow, The seeds you now scatter, Will make life worse or better, your life or the ones who will come after. Yes, someday, you will enjoy the fruits, or you will pay for the choices you plant today.
From:email
An emperor in the Far East was growing old and knew it was time to choose his successor. Instead of choosing one of his assistants or his children, he decided something different. He called young people in the kingdom together one day. He said, "It is time for me to step down and choose the next emperor. I have decided to choose one of you."
The kids were shocked! But the emperor continued. "I am going to give each one of you a seed today. One very special seed. I want you to plant the seed, water it and come back here after one year from today with what you have grown from this one seed. I will then judge the plants that you bring, and the one I choose will be the next emperor!"
One boy named Ling was there that day and he, like the others, received a seed. He went home and excitedly told his mother the story. She helped him get a pot and planting soil, and he planted the seed and watered it carefully. Every day he would water it and watch to see if it had grown. After about three weeks, some of the other youths began to talk about their seeds and the plants that were beginning to grow.
Ling kept checking his seed, but nothing ever grew. 3 weeks, 4 weeks, 5 weeks went by. Still nothing. By now, others were talking about their plants but Ling didn't have a plant, and he felt like a failure. Six months went by, still nothing in Ling's pot. He just knew he had killed his seed.
Everyone else had trees and tall plants, but he had nothing. Ling didn't say anything to his friends, however. He just kept waiting for his seed to grow.
A year finally went by and all the youths of the kingdom brought their plants to the emperor for inspection. Ling told his mother that he wasn't going to take an empty pot. But honest about what happened, Ling felt sick to his stomach, but he knew his mother was right. He took his empty pot to the palace. When Ling arrived, he was amazed at the variety of plants grown by the other youths. They were beautiful in all shapes and sizes. Ling put his empty pot on the floor and many of the other kinds laughed at him. A few felt sorry for him and just said, "Hey nice try."
When the emperor arrived, he surveyed the room and greeted the young people. Ling just tried to hide in the back. "What great plants, trees and flowers you have grown," said the emperor. "Today, one of you will be appointed the next emperor!" All of a sudden, the emperor spotted Ling at the back of the room with his empty pot. He ordered his guards to bring him to the front. Ling was terrified. "The emperor knows I'm a failure! Maybe he will have me killed!"
When Ling got to the front, the Emperor asked his name. "My name is Ling," he replied. All the kids were laughing and making fun of him. The emperor asked everyone to quiet down. He looked at Ling, and then announced to the crowd, "Behold your new emperor! His name is Ling!" Ling couldn't believe it. Ling couldn't even grow his seed. How could he be the new emperor?
Then the emperor said, "One year ago today, I gave everyone here a seed. I told you to take the seed, plant it, water it, and bring it back to me today. But I gave you all boiled seeds, which would not grow. All of you, except Ling, have brought me trees and plants and flowers. When you found that the seed would not grow, you substituted another seed for the one I gave you. Ling was the only one with the courage and honesty to bring me a pot with my seed in it. Therefore, he is the one who will be the new emperor!"
If you plant honesty, you will reap trust.
If you plant goodness, you will reap friends.
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory.
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success.
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation.
If you plant openness, you will reap intimacy.
If you plant patience, you will reap improvements.
If you plant faith, you will reap miracles.
But
If you plant dishonesty, you will reap distrust.
If you plant selfishness, you will reap loneliness.
If you plant pride, you will reap destruction.
If you plant envy, you will reap trouble.
If you plant laziness, you will reap stagnation.
If you plant bitterness, you will reap isolation.
If you plant greed, you will reap loss.
If you plant gossip, you will reap enemies.
If you plant worries, you will reap wrinkles.
If you plant sin, you will reap guilt.
So be careful what you plant now, It will determine what you will reap tomorrow, The seeds you now scatter, Will make life worse or better, your life or the ones who will come after. Yes, someday, you will enjoy the fruits, or you will pay for the choices you plant today.
From:email
Akhir Suatu Hal lebih Baik dari pada Awalnya
Ringkasan khotbah 04.01.’09
Pengkhotbah 7:7-10
“Sungguh, pemerasan membodohkan orang berhikmat, dan uang suap merusakkan hati. Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati. Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh. Janganlah mengatakan:”Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?” Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu”.
Dalam kehidupan manusia, tekanan dan pemerasan datangnya tiada berhenti, silih berganti, dan bahkan seringkali tekanan-tekanan itu membodohkan orang berhikmat sekalipun. Tetapi meskipun kita berada didalam tekanan, sebagai orang percaya…..maka akhir suatu hal lebih baik daripada awalnya – ay. 8
Sebagai contoh, kita melihat tekanan hidup yang dihadapi oleh bangsa Israel didalam Keluaran 1:7-14, mereka mengalami kepahitan hidup sebab mereka ditindas dengan kerja paksa, diperlakukan dengan kejam. Bahkan terjadi pembunuhan terhadap setiap anak lelaki di dalam keluarga orang Israel. Ditengah-tengah kehidupan seperti inilah orang Israel berseru-seru kepada Tuhan dan Tuhan mendengar erangan mereka. Tuhan ingat akan perjanjianNya dengan Abraham Ishak dan Yakup. Maka Allah melihat orang Israel itu dan memperhatikan mereka – Kelauaran 2:23-25. Dengan kata lain Tuhan turut campur tangan untuk melepaskan mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Dan pada akhirnya kita tahu kisah ini, bangsa ini di bawah pimpinan Musa keluar dari Mesir menuju Tanah Kanaan, Tanah Perjanjian dengan penuh sorak sorai dan pujian – Mazmur 105 :43-45. Inilah yang dikatakan oleh Pengkhotbat 7:8a – akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya.
Bukankah kehidupan kita seringkali seperti itu? Ada tekanan, ada pemerasan, kesulitan, pergumulan dan lain sebagainya, tetapi percayalah akan Firman Allah : “ Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya”. Ada waktunya dimana kita akan dibawah keluar dari setiap permasalahan hidup, sebab setiap persoalan hidup yang kita hadapi, Tuhan berjanji akan memberikan kemenangan demi kemenangan, sehingga kita disebut “lebih dari pada pemenang” oleh Dia – Yesus – yang telah mengasihi kita. Hanya ada hal-hal yang harus kita lakukan :
Pengkhotbah 7:8b – Panjang Sabar – menghadapi tekanan-tekanan hidup harus sabar. Roma 12:11-12 katakan sabar didalam kesesakan sambil tekun di dalam doa. Kesabaran hanya akan terjadi kalau kita bawah seluruh persoalan hidup kita di dalam doa, dan Yakobus 1:4 – ketekunan/kesabaran itu akan memperoleh buah yang matang. Haleluayah.
Jangan tinggi hati – sudah susah jangan masih mau sombonglah! Tuhan mau mengajar kita semua, supaya melalui tekanan-tekanan hidup kita mau merendah hati kita.
Ayat 9 - Jangan lekas marah. Seringkali kita suka marah kepada keadaan, kepada orang lain, diri sendiri. Bahkan marah kepada Tuhan karena keadaan hidup yang berat. Jangan saudara! Kemarahan bisa beri kesempatan pada iblis. Ingat Kain dan Habel dalam Kejadian pasal 4. Iblis memakai kemarahan Kain sehingga terjadilah pembunuhan terhadap adiknya Habel. Sangat tragis dan mengerikan.
Ayat 10 – “jangan mengatakan mengapa zaman dulu baik dari pada zaman sekarang?”. Jangan katakan hal ini. Sebab yang benar adalah hari ini lebih baik daripada hari kemarin, tahun ini lebih baik dari pada tahun kemarin. “akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya”. Imanilah hal ini sambil melangkah maju terus di tahun yang baru ini, dan percayalah hari-hari yang engkau jalani bersama Yesus akan lebih baik dari pada yang hari yang sudah-sudah. Tuhan memberkati. Amin!
Pengkhotbah 7:7-10
“Sungguh, pemerasan membodohkan orang berhikmat, dan uang suap merusakkan hati. Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati. Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh. Janganlah mengatakan:”Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?” Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu”.
Dalam kehidupan manusia, tekanan dan pemerasan datangnya tiada berhenti, silih berganti, dan bahkan seringkali tekanan-tekanan itu membodohkan orang berhikmat sekalipun. Tetapi meskipun kita berada didalam tekanan, sebagai orang percaya…..maka akhir suatu hal lebih baik daripada awalnya – ay. 8
Sebagai contoh, kita melihat tekanan hidup yang dihadapi oleh bangsa Israel didalam Keluaran 1:7-14, mereka mengalami kepahitan hidup sebab mereka ditindas dengan kerja paksa, diperlakukan dengan kejam. Bahkan terjadi pembunuhan terhadap setiap anak lelaki di dalam keluarga orang Israel. Ditengah-tengah kehidupan seperti inilah orang Israel berseru-seru kepada Tuhan dan Tuhan mendengar erangan mereka. Tuhan ingat akan perjanjianNya dengan Abraham Ishak dan Yakup. Maka Allah melihat orang Israel itu dan memperhatikan mereka – Kelauaran 2:23-25. Dengan kata lain Tuhan turut campur tangan untuk melepaskan mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Dan pada akhirnya kita tahu kisah ini, bangsa ini di bawah pimpinan Musa keluar dari Mesir menuju Tanah Kanaan, Tanah Perjanjian dengan penuh sorak sorai dan pujian – Mazmur 105 :43-45. Inilah yang dikatakan oleh Pengkhotbat 7:8a – akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya.
Bukankah kehidupan kita seringkali seperti itu? Ada tekanan, ada pemerasan, kesulitan, pergumulan dan lain sebagainya, tetapi percayalah akan Firman Allah : “ Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya”. Ada waktunya dimana kita akan dibawah keluar dari setiap permasalahan hidup, sebab setiap persoalan hidup yang kita hadapi, Tuhan berjanji akan memberikan kemenangan demi kemenangan, sehingga kita disebut “lebih dari pada pemenang” oleh Dia – Yesus – yang telah mengasihi kita. Hanya ada hal-hal yang harus kita lakukan :
Pengkhotbah 7:8b – Panjang Sabar – menghadapi tekanan-tekanan hidup harus sabar. Roma 12:11-12 katakan sabar didalam kesesakan sambil tekun di dalam doa. Kesabaran hanya akan terjadi kalau kita bawah seluruh persoalan hidup kita di dalam doa, dan Yakobus 1:4 – ketekunan/kesabaran itu akan memperoleh buah yang matang. Haleluayah.
Jangan tinggi hati – sudah susah jangan masih mau sombonglah! Tuhan mau mengajar kita semua, supaya melalui tekanan-tekanan hidup kita mau merendah hati kita.
Ayat 9 - Jangan lekas marah. Seringkali kita suka marah kepada keadaan, kepada orang lain, diri sendiri. Bahkan marah kepada Tuhan karena keadaan hidup yang berat. Jangan saudara! Kemarahan bisa beri kesempatan pada iblis. Ingat Kain dan Habel dalam Kejadian pasal 4. Iblis memakai kemarahan Kain sehingga terjadilah pembunuhan terhadap adiknya Habel. Sangat tragis dan mengerikan.
Ayat 10 – “jangan mengatakan mengapa zaman dulu baik dari pada zaman sekarang?”. Jangan katakan hal ini. Sebab yang benar adalah hari ini lebih baik daripada hari kemarin, tahun ini lebih baik dari pada tahun kemarin. “akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya”. Imanilah hal ini sambil melangkah maju terus di tahun yang baru ini, dan percayalah hari-hari yang engkau jalani bersama Yesus akan lebih baik dari pada yang hari yang sudah-sudah. Tuhan memberkati. Amin!
Jumat, 09 Januari 2009
Tuhan Allah adalah Matahari
Ringkasan khotbah 01.01.’09
(Ibadah Tahun Baru 2009, GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
Mazmur 84:12
“Sebab Tuhan Allah adalah matahari dan Perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela”.
Memasuki tahun 2009, banyak hal yang kita tidak ketahui, bagaikan sesuatu yang masih terselubung, gelap, tetapi Firman Allah katakan “…..Dia adalah matahari…..”. segelap apapun suatu keadaan, kalau ada matahari, pasti akan ada terang disana.
Dalam kegelapan, orang biasanya akan merasa kalang kabut, tidak leluasa bergerak, kebebasan sangat terbatasi, bahkan ada yang takut gelap akan merasa tercekik tak dapat bernapas. Itulah keadaan yang banyak diprediksikan orang yang akan terjadi di dalam tahun 2009 ini. Kegelapan moneter sedang melanda dunia (krisis global), ekonomi, keamanan, politik semuanya berada dalam keadaan ketidakpastian, seperti terselubung, tidak diketahui, dengan kata lain ada dalam kegelapan. Orang dapat saja berprediksi, memperkirakan apa yang akan terjadi. Tetapi bagi kita orang percaya, Tuhan kita adalah Matahari yang memberi terang bagi kita. Bahkan dikatakan dalam Yesaya 60:20 “Bagimu akan ada matahari yang tidak pernah terbenam dan bulan yang tidak surut, sebab TUHAN akan menjadi penerang bagimu, dan hari-hari perkabunganmu akan berakhir”. Tuhan dapat menolong setiap orang percaya ditengah-tengah kesulitan. Sekalipun tahun 2009 adalah tahun yang sangat berat dan susah, namun Tuhan kita Yesus Kristus sanggup memelihara saudara dan saya. Dia sanggup membela kita semua, sebab selain Dia adalah matahari, juga dikatakan “…Dia adalah perisai…..”. perisai fungsinya adalah untuk membela, menangkis serangan musuh.
Pada waktu Abram risau karena dia tidak memiliki keturunan sebagai pewaris, tetapi Tuhan menjawab dia dalam kejadian 15:1 – “….Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu…..”. Dalam keadaan sama sekali tidak punya harapan untuk memperoleh keturunan, sebab usianya dan istrinya yang sudah lanjut, dimana tidak mungkin bagi mereka suami istri dapat memperoleh anak lagi, oleh karena dia tetap berharap dan percaya akan janji Allah, bahwa ia akan menjadi bapak banyak bangsa, dan imannya tidak menjadi lemah, sekalipun tubuhnya sangat lemah, tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang, bahwa Tuhan adalah perisai dan pembelanya dan Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Dan kita tahu semua, pada akhirnya secara mujizat Ishak lahir – anak Perjanjian.
Kasih dan kemuliaan Ia berikan. Bapa, oleh karena kasihNya telah memberikan Yesus bagi kita, supaya kita yang harusnya binasa memperoleh kehidupan yang kekal. Dan Yesus, kehidupanNya semuanya diberikan kepada kita. Dia menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya – 2 Korintus 8:9. Sejak manusia jatuh dalam dosa, kita semua sudah mati rohani. Tetapi Yesus, Dia datang ke duania mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Dia lakukan semua ini karena kasih-Nya kepada manusia, termasuk saudara dan saya.
Dia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. Hiduplah di dalam kekudusan dan engkau akan merasakan kebaikan Tuhan. Sekalipun ditengah keadaan yang sulit, Dia akan tetap memberikan kebaikanNya kepada saudara.
Oleh karena itu, Efesus 5:2 – hiduplah didalam kasih dan 2 timotius 2:1 – jadilah kuat di dalam Kristus. Berjalan terus disepanjang tahun 2009 ini dengan satu keyakinan, Tuhan adalah pembela kita, dan biarlah kita rasakan kebaikan Tuhan dari hari lepas hari dengan tiada putus-putusnya. Amin!
(Ibadah Tahun Baru 2009, GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
Mazmur 84:12
“Sebab Tuhan Allah adalah matahari dan Perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela”.
Memasuki tahun 2009, banyak hal yang kita tidak ketahui, bagaikan sesuatu yang masih terselubung, gelap, tetapi Firman Allah katakan “…..Dia adalah matahari…..”. segelap apapun suatu keadaan, kalau ada matahari, pasti akan ada terang disana.
Dalam kegelapan, orang biasanya akan merasa kalang kabut, tidak leluasa bergerak, kebebasan sangat terbatasi, bahkan ada yang takut gelap akan merasa tercekik tak dapat bernapas. Itulah keadaan yang banyak diprediksikan orang yang akan terjadi di dalam tahun 2009 ini. Kegelapan moneter sedang melanda dunia (krisis global), ekonomi, keamanan, politik semuanya berada dalam keadaan ketidakpastian, seperti terselubung, tidak diketahui, dengan kata lain ada dalam kegelapan. Orang dapat saja berprediksi, memperkirakan apa yang akan terjadi. Tetapi bagi kita orang percaya, Tuhan kita adalah Matahari yang memberi terang bagi kita. Bahkan dikatakan dalam Yesaya 60:20 “Bagimu akan ada matahari yang tidak pernah terbenam dan bulan yang tidak surut, sebab TUHAN akan menjadi penerang bagimu, dan hari-hari perkabunganmu akan berakhir”. Tuhan dapat menolong setiap orang percaya ditengah-tengah kesulitan. Sekalipun tahun 2009 adalah tahun yang sangat berat dan susah, namun Tuhan kita Yesus Kristus sanggup memelihara saudara dan saya. Dia sanggup membela kita semua, sebab selain Dia adalah matahari, juga dikatakan “…Dia adalah perisai…..”. perisai fungsinya adalah untuk membela, menangkis serangan musuh.
Pada waktu Abram risau karena dia tidak memiliki keturunan sebagai pewaris, tetapi Tuhan menjawab dia dalam kejadian 15:1 – “….Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu…..”. Dalam keadaan sama sekali tidak punya harapan untuk memperoleh keturunan, sebab usianya dan istrinya yang sudah lanjut, dimana tidak mungkin bagi mereka suami istri dapat memperoleh anak lagi, oleh karena dia tetap berharap dan percaya akan janji Allah, bahwa ia akan menjadi bapak banyak bangsa, dan imannya tidak menjadi lemah, sekalipun tubuhnya sangat lemah, tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang, bahwa Tuhan adalah perisai dan pembelanya dan Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Dan kita tahu semua, pada akhirnya secara mujizat Ishak lahir – anak Perjanjian.
Kasih dan kemuliaan Ia berikan. Bapa, oleh karena kasihNya telah memberikan Yesus bagi kita, supaya kita yang harusnya binasa memperoleh kehidupan yang kekal. Dan Yesus, kehidupanNya semuanya diberikan kepada kita. Dia menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya – 2 Korintus 8:9. Sejak manusia jatuh dalam dosa, kita semua sudah mati rohani. Tetapi Yesus, Dia datang ke duania mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Dia lakukan semua ini karena kasih-Nya kepada manusia, termasuk saudara dan saya.
Dia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. Hiduplah di dalam kekudusan dan engkau akan merasakan kebaikan Tuhan. Sekalipun ditengah keadaan yang sulit, Dia akan tetap memberikan kebaikanNya kepada saudara.
Oleh karena itu, Efesus 5:2 – hiduplah didalam kasih dan 2 timotius 2:1 – jadilah kuat di dalam Kristus. Berjalan terus disepanjang tahun 2009 ini dengan satu keyakinan, Tuhan adalah pembela kita, dan biarlah kita rasakan kebaikan Tuhan dari hari lepas hari dengan tiada putus-putusnya. Amin!
Kamis, 08 Januari 2009
Lompatan Belalang
Lompatan Belalang...
Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling Tinggi diantara sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat dapat pergi kesana.
Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut. Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat keindahan desa itu.
Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar. Belalang itu bertanya kepada anjing,"Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan disini ?" "Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini" jawab anjing dengan sombongnya.
Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda. Dia lalu berkata lagi "Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita". "Baik", jawab si anjing. "Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut".
Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut. Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata gagal pula.
Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata ,"Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang ? Kamu sudah kalah". "Belum", jawab si belalang. "Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua ?" "Apapun tantangan itu, aku siap" tukas si anjing. Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat ditempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, dari diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya".
Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum.
"Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga", kata si anjing. "Tidak perlu", jawab si belalang. "Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang."
MyFriendz...Seberapakah tinggikah kamu `melompat'...? Dalam kehidupan, seringkali tanpa sadar kita mencoba membandingkan kemajuan dan perkembangan diri kita dengan standard orang lain.
Membandingkan pendapatan kita dengan orang lain, pekerjaan kita dengan pekerjaan orang lain, salary kita dengan salary orang lain, barang-barang yang kita miliki dengan barang orang lain, kesuksesan yang kita miliki dengan kesuksesan orang lain, karir kita dengan karir orang lain dlsb...
Dan seringkali lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan yang didapat. Mengapa...? Karena kita masing-masing dilahirkan dengan potensi yang berbeda, dengan bakat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, dan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan.
Cara yang tepat untuk mengukur seberapa jauh diri kita telah berkembang dan maju adalah membandingkan diri kita saat ini dengan diri kita dimasa lalu. Apakah kamu hari ini lebih kaya dibanding setahun yang lalu..? Apakah kamu hari ini lebih bisa mengontrol emosi dibanding bulan lalu...? Apakah kamu hari ini lebih sehat dibanding kemarin...? Apakah kamu hari ini lebih bijaksana dibanding setahun yang lalu...?
Intinya adalah kamu dan saya mempunyai potensi dan standard yang berbeda tentang kemenangan. Adalah tidak bijaksana kalau membandingkan potensi kita dengan yang lain. Kemenangan sejati adalah ketika dengan potensi yang kamu miliki, kamu bisa melampaui standard dirimu sendiri.
Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, namun kemenangan atas diri sendiri. Buat diri kamu hari ini selalu lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.
From:Email
Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling Tinggi diantara sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat dapat pergi kesana.
Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut. Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat keindahan desa itu.
Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar. Belalang itu bertanya kepada anjing,"Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan disini ?" "Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini" jawab anjing dengan sombongnya.
Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda. Dia lalu berkata lagi "Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita". "Baik", jawab si anjing. "Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut".
Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut. Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata gagal pula.
Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata ,"Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang ? Kamu sudah kalah". "Belum", jawab si belalang. "Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua ?" "Apapun tantangan itu, aku siap" tukas si anjing. Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat ditempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, dari diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya".
Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum.
"Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga", kata si anjing. "Tidak perlu", jawab si belalang. "Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang."
MyFriendz...Seberapakah tinggikah kamu `melompat'...? Dalam kehidupan, seringkali tanpa sadar kita mencoba membandingkan kemajuan dan perkembangan diri kita dengan standard orang lain.
Membandingkan pendapatan kita dengan orang lain, pekerjaan kita dengan pekerjaan orang lain, salary kita dengan salary orang lain, barang-barang yang kita miliki dengan barang orang lain, kesuksesan yang kita miliki dengan kesuksesan orang lain, karir kita dengan karir orang lain dlsb...
Dan seringkali lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan yang didapat. Mengapa...? Karena kita masing-masing dilahirkan dengan potensi yang berbeda, dengan bakat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, dan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan.
Cara yang tepat untuk mengukur seberapa jauh diri kita telah berkembang dan maju adalah membandingkan diri kita saat ini dengan diri kita dimasa lalu. Apakah kamu hari ini lebih kaya dibanding setahun yang lalu..? Apakah kamu hari ini lebih bisa mengontrol emosi dibanding bulan lalu...? Apakah kamu hari ini lebih sehat dibanding kemarin...? Apakah kamu hari ini lebih bijaksana dibanding setahun yang lalu...?
Intinya adalah kamu dan saya mempunyai potensi dan standard yang berbeda tentang kemenangan. Adalah tidak bijaksana kalau membandingkan potensi kita dengan yang lain. Kemenangan sejati adalah ketika dengan potensi yang kamu miliki, kamu bisa melampaui standard dirimu sendiri.
Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, namun kemenangan atas diri sendiri. Buat diri kamu hari ini selalu lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.
From:Email
Ucaplah Syukur
Ringkasan Khotbah 28.12.08
(Ibadah Ucapan Syukur Akhir Tahun GPdI Hagios Family Jemaat Mangga Dua Square)
(Ibadah Ucapan Syukur Akhir Tahun GPdI Hagios Family Jemaat Mangga Dua Square)
Efesus 5:20-21
"Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus"
Kehidupan orang Kristen, tidak terlepas dari mengucap syukur. Ada kuasa dibalik ucapan syukur. Kita mengucap syukur bukan hanya pada saat kita berada dalam keberkatan, sehat, bahagia dan sebagainya, tapi firman Allah katakan dalam 1 Tesalonika 5:18 "...mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah dalam Kristus Yesus." Artinya mengucap syukur baik dalam keadaan senang maupun susah. Sulit bagi seseorang untuk bersyukur ketika ia berada dalam keadaan susah, sebab sangat berat untuk melakukannya. Tetapi itulah yang Tuhan mau kita lakukan, karena ada maksud Allah dibalik semuanya itu, yaitu semata-mata untuk kebaikan kita.
Salah satu tujuan Allah supaya kita mempersembahkan syukur sebagai korban adalah kita memuliakan Allah. - Mazmur 50:23
Setiap persembahan syukur, itu merupakan suatu korban. Kata "korban" adalah pemberian untuk menyatakan bakti dan kesetiaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sedangkan berkorban adalah menjadi korban, menderita rugi. Jadi dari pengertian ini, kita tahu sekarang bahwa mempersembahkan syukur adalah mengorbankan sesuatu sebagai tanda bakti dan kesetiaan kita sekalipun keadaan yang kita hadapi tidak nyaman bagi "daging" kita. Tetapi inilah salah satu cara kita memuliakan Allah.
Selain itu, kita berada di dalam kesesakkan atau keadaan seperti itu, kalau kita mau mempersembahkan syukur sebagai korban kepada Allah dan membayar nazar kita kepadaNya, maka Dia akan meluputkan kita dari semua hal itu - Mazmur 50:14-15. Bahkan dalam hal jasmanipun, Tuhan memberikan jaminan kepada kita - Filipi 4:6-7.
Oleh karena itu saudara-saudaraku, belajarlah mulai sekarang berani mengucap syukur dalam segala hal. Mohon kekuatan dan kesanggupan dari Tuhan Yesus supaya kita sanggup melakukan firmanNya ini. Dan saudara akan mengalami mujizat yang heran, sesuatu yang ajaib akan terjadi di dalam hidupmu. Sebab ada kuasa dibalik ucapan syukur. Dan kuasa dan mujizat itu Tuhan sediakan bagi kita semua. Amin!
Oleh:Pdt. Eddy Tatimu
Salah satu tujuan Allah supaya kita mempersembahkan syukur sebagai korban adalah kita memuliakan Allah. - Mazmur 50:23
Setiap persembahan syukur, itu merupakan suatu korban. Kata "korban" adalah pemberian untuk menyatakan bakti dan kesetiaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sedangkan berkorban adalah menjadi korban, menderita rugi. Jadi dari pengertian ini, kita tahu sekarang bahwa mempersembahkan syukur adalah mengorbankan sesuatu sebagai tanda bakti dan kesetiaan kita sekalipun keadaan yang kita hadapi tidak nyaman bagi "daging" kita. Tetapi inilah salah satu cara kita memuliakan Allah.
Selain itu, kita berada di dalam kesesakkan atau keadaan seperti itu, kalau kita mau mempersembahkan syukur sebagai korban kepada Allah dan membayar nazar kita kepadaNya, maka Dia akan meluputkan kita dari semua hal itu - Mazmur 50:14-15. Bahkan dalam hal jasmanipun, Tuhan memberikan jaminan kepada kita - Filipi 4:6-7.
Oleh karena itu saudara-saudaraku, belajarlah mulai sekarang berani mengucap syukur dalam segala hal. Mohon kekuatan dan kesanggupan dari Tuhan Yesus supaya kita sanggup melakukan firmanNya ini. Dan saudara akan mengalami mujizat yang heran, sesuatu yang ajaib akan terjadi di dalam hidupmu. Sebab ada kuasa dibalik ucapan syukur. Dan kuasa dan mujizat itu Tuhan sediakan bagi kita semua. Amin!
Oleh:Pdt. Eddy Tatimu
Langganan:
Postingan (Atom)
