Jumat, 23 Januari 2009

Just One More Step

" There is nothing as simple as walking - putting one foot in front of the other. Think of situation you are in as a journey (of 1000 miles) - you'll keep putting one foot in front of the other (very basic thing!) until you finish. So when you feel you want to give up in whatever you are doing, remember how easy it is to place one foot in front of the other, how easy it is to take JUST ONE MORE STEP, JUST ONE! Do this, just take ONE MORE STEP, (one more minute, one more round, one more paragraph, JUST ONE MORE); you'll be surprised how much you have covered! Of course after taking this one step, it wouldn't hurt to ask yourself: CAN'T I TAKE JUST ONE MORE? JUST ONE MORE?"
When you feel weak, just take one more step. Just place one foot in front of the other (just once), think of yourself walking- CAN YOU REALLY NOT DRAG ONE FOOT IN FRONT OF ANOTHER, JUST ONE MORE STEP?

From:email

Kamis, 22 Januari 2009

Pemecah Batu

Pemecah Batu

Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya.

Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya.

Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan kepada seorang pejabat.

Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.

Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari.

Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.

Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya.

Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan.

Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya.

Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.

Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung.

Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung.

Ketika ia menjadi gunung, ia melihat ada orang yang memecahnya.

Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu.

Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.

Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja... sampai kita mulai membanding-bandingkan.

Kebahagiaan sejati tidaklah terkondisi oleh apa pun.

From:email

Selasa, 20 Januari 2009

10 Racun Dalam Diri

10 Racun Dalam Diri

Racun pertama : Menghindar
Gejalanya, laridari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab,
padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan
mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.
Antibodinya : Realitas
Cara : Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam
menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi
pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa
lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan
setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah
bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan
dengan keras.

Racun kedua : Ketakutan
Gejalanya, tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain
bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkimpoian,
kesulitan seksual.
Antibodinya : Keberanian
Cara : Hindari menjadi sosok yang bergantung pada
kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak
pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling
ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi
masalah melalui sikap mental yang benar. Kebenarian
merupakan merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan
mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau
psikolog.

Racun ketiga : Egoistis
Nyiyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada
memberi.
Antibodinya : Bersikap sosial.
Cara : Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akn
diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu
diketahui orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang
lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.

Racun keempat : Stagnasi
Gejalanya berhenti satu fase, membuat diri kita merasa
jenuh, bosan, dan tidak bahagia.
Antibodinya : Ambisi
Cara : Teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa
depan kita. kita kan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat
meraih ambisi kita tersebut.

Racun kelima : Rasa rendah diri
Gejala : Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri
serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.
Antibodinya : Keyakinan diri.
Cara : Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang
yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan
kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target
yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita
yakin bahwa kita mampu mencapainya.

Racun keenam : Narsistik
Gejala : Kompleks superioritas, terlampau sombong,
kebanggaan diri palsu.
Antibodinya : Rendah hati.
Cara : Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan
teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan
bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita
akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain
sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.

Racun ketujuh : Mengasihani diri
Gejala : Kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan,
murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di
dunia.
Antibodinya : Sublimasi
Cara : Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada
diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk
berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap
ketergantungan kepada orang lain.

Racun kedelapan : Sikap bermalas-malasan
Gejala : Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan
waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.
Antibodinya : Kerja
Cara : Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal
kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara
aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat
keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa
henti.

Racun kesembilan : Sikap tidak toleran
Gejala : Pikiran picik, kebencian
rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama
tertentu, prasangka religius.
Antibodinya : Kontrol diri
Cara : Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri.
Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi
kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari
keberagaman kultur dan agama.

Racun kesepuluh : Kebencian
Gejala : Keinginan balas dendam, kejam, bengis.
Antibodinya : Cinta kasih
Cara : Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan
melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang
menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang
memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri
karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat
melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan
kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.

Simpanlah paket tiket untuk perasaan tidak bahagia dan
mengaculah pada paket tiket ini saat kita sedang mengalami
rasa depresi dan tidak bahagia. Gunakan sebagai sarana pertolongan pertama
dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindar dari
ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang.

From:email

Think Win - Win

THINK WIN-WIN
Seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai.

Tiba tiba datang seekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya. Lalu kelinci itu berkata : "Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."

Sang Rubah jantan merasa tertantang, "Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?"

Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya dengan nikmat.

Sang Kelinci kembali bersantai, sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai.

Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak memangsanya. Lalu kelinci berkata : "Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."

Sang serigala merasa tertantang, " Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?"

Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan melahapnya dengan nikmat.

Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri diatas pasir.

Tiba tiba datang se-ekor beruang besar yang hendak memangsanya. Lalu kelinci berkata :" Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."

Sang Beruang merasa tertantang, " Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?"

Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha Beruang dan melahapnya dengan nikmat.

Pohon kelapa melambai lambai. Lembayung senja sudah tiba, habis sudah waktu bersantai.

Sang Kelinci melongok kedalam lubang kelinci, sambil melambai "Hai, keluar, sudah sore, besok kita teruskan !!"

Keluarlah se-ekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya. Sambil menguap Harimau berkata "Kerjasama kita sukses hari ini, kita makan kenyang dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang."


(Winner selalu berpikir mengenai kerja sama, sementara Looser selalu berpikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya.)

From:email

Jumat, 16 Januari 2009

Ketika Tuhan Turut Bekerja

KETIKA TUHAN TURUT BEKERJA, 9000 ROTI UNTUK HARI INI

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:5-6)

Seorang pemburu atheis satu ketika tersesat di tengah hutan. Ia kemudian bertemu dengan sekelompok macan. Tiba-tiba saja ia menjadi gugup. Spontan ia mengeluarkan senapan dan mulai menembakkannya ke arah macan tersebut. Sayang, tembakan-tembakan tersebut meleset dan ia-pun kehabisan peluru. Macan-macan ganas ini kemudian bergerak mendekati sang pemburu. Tanpa menunggu waktu lama, segera sang pemburu ini mengambil langkah seribu. Ia berlari sekencang mungkin.

Beberapa ratus meter kemudian, ia terpeleset dan masuk jurang. Beruntung ia sempat meraih dahan sebuah pohon di tepi jurang tersebut. "Tolong... tolong!!!" teriaknya. Berkali-kali ia berteriak namun tak juga ada yang menjawab.

Hampir putus asa ia kembali berteriak : "Tuhan... Tuhan... apakah engkau sungguh ada?" Sejenak keadaan menjadi sangat sunyi lalu terdengar suara : "Ya, Aku ada". Pemburu ini melanjutkan : "Tuhan, Engkau tentu tahu kalau selama hidupku, aku meragukan keberadaan-Mu namun sekarang aku percaya bahwa Engkau sungguh ada. Maukah Engkau menolongku, Tuhan? Aku berjanji Tuhan jika engkau menolongku maka aku akan membaktikan sisa hidupku untuk melayani-Mu dan memberitakan kebaikan-Mu kepada setiap orang yang aku temui mulai dari hari ini hingga akhir hayatku"

"Baiklah, Aku akan menolongmu," kata Tuhan. "Cepat Tuhan... tolonglah aku," ujar si pemburu memohon. "Tetapi Aku ingin mengetahui satu hal darimu," kata Tuhan. "Apakah itu?" tanya si pemburu. "Maukah engkau mempercayaiKu dengan segenap hati dan akal budimu?" tanya Tuhan. "Tentu saja aku mau Tuhan. Aku percaya padamu seribu persen! Cepat tolong aku, Tuhan," jawab si pemburu yang penuh keringat dingin itu.

"Baiklah kalau engkau memang percaya. Sekarang, lepaskan tanganmu dari dahan pohon itu dan Aku akan menolongmu," kata Tuhan. Spontan si pemburu berujar, "Tuhan, apakah Engkau sudah gila?" Kemudian si pemburu kembali berteriak, "Halo... adakah orang di sana yang bisa mendengar suara saya? Tolong... tolong...!"

Apa hikmah yang bisa Anda petik dari cerita di atas? Bisa jadi Anda dan saya hanya akan tersenyum atau tertawa setelah membaca cerita tersebut. Namun jika kita sungguh peka, seringkali dalam hidup ini kita berperilaku seperti si pemburu tadi. Kita masih setengah hati dalam mengakui kekuasaan-Nya, terutama jika hal tersebut di luar logika manusia. Kita lebih mengandalkan kekuatan manusia daripada bersandar pada-Nya.

Seringkali kita harus melihat dengan mata kepala sendiri baru bisa percaya. Jika hal tersebut tidak sesuai dengan akal sehat, kita lantas menolaknya. Santo Agustinus pernah mengatakan, "Iman artinya menyakini apa yang tidak kita lihat dan upah dari iman adalah melihat apa yang kita yakini."

Meski kitab suci dengan sangat jelas mengatakan, "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia (1 Korintus 2:9)." Terkadang tetap saja sulit bagi kita untuk menerimanya.

Ibu Teresa suatu ketika pernah berujar : "Iman memelihara orang yang memelihara iman." Tentu Ibu Teresa tidak sedang main-main ketika mengucapkannya. Ia memiliki begitu banyak pengalaman hidup yang menceritakan kesaksian imannya. Salah satu hal yang sangat ajaib dan sangat menarik adalah ketika kita melihat Ibu Teresa yang puluhan tahun berkarya di tengah-tengah orang yang berpenyakit menular namun hingga akhir hayatnya ia sama sekali tidak tertular penyakit tersebut. Luar biasa karya Tuhan dalam hidup Ibu Teresa! Dari sini saya juga belajar bahwa kasih bukanlah sekedar sebuah perasaan (seperti ketika orang berpacaran atau merindukan pasangannya) namun kasih juga dapat menjadi sebuah kekuatan. Orang sering menyebutnya sebagai the power of love.

Ada juga kisah lain tentang bagaimana Ibu Teresa begitu mengimani bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Dalam bukunya yang berjudul In the Heart of the World, Ibu Teresa menulis:

Di Calcutta, kami memasak untuk sembilan ribu orang setiap hari. Suatu hari, seorang suster datang dan berkata : "Ibu, tidak ada sesuatu pun untuk dimakan. Tidak ada sesuatu pun untuk diberikan kepada orang-orang itu." Saya tidak mempunyai jawaban. Dan kemudian pada jam sembilan pagi itu, sebuah truk penuh dengan roti datang ke rumah kami. Setiap hari pemerintah memberikan sepotong roti dan susu kepada anak-anak miskin di sekolah. Tetapi hari itu tidak seorang pun tahu kenapa semua sekolah tiba-tiba diliburkan. Dan semua roti diantar ke rumah Ibu Teresa.

Lihat, Allah meliburkan sekolah. Dia tidak membiarkan orang-orang kita pergi tanpa makanan. Dan inilah pertama kalinya dalam hidup mereka saya kira, bahwa mereka mendapatkan roti yang baik seperti itu dan dalam jumlah yang amat banyak. Dengan cara ini Anda bisa melihat kelembutan hati Allah.

Bisa jadi pengalaman seperti itu juga pernah terjadi dalam hidup Anda. Saya sendiri pernah mengalami beberapa kejadian luar biasa yang hingga hari ini amat sulit saya jelaskan dengan logika. Dari perjalanan itu saya mengimani bahwa dalam hidup ini tidak ada yang namanya kebetulan jika kita senantiasa mau melihatnya dengan mata iman. Pengalaman hidup tersebut juga membuat saya semakin memahami tentang penyelenggaran Ilahi dalam kehidupan orang yang percaya dan berserah kepada-Nya.

"Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia (2 Tawarikh 16:9)." Tuhan menyertai Anda selalu!

From:email

Kegelapan Yang Paling Gelap 8

Kegelapan Yang Paling Gelap 8
Oleh: Pdt. A.H. Mandey


Hamba, hamba, tetapi berbeda dengan dua hamba yang lain. Dua hamba yang lain mempunyai lima talenta dia kerjakan, sehingga mendapat tambahan lima talenta. Yang mendapat dua talenta, mengerjakan sehingga mendapat tambahan dua talenta. Jadi dari 5, menjadi 5+5, dari 2 menjadi 2+2, artinya ada pertumbuhan, ada pertambahan. Pertambahannya nggak tanggung-tanggung, 100%, dari 5+5, dari 2+2, 100% kan? Nah, apakah maksud daripada Yesus disini? Tentang orang yang tidak mengembangkan talenta yang diberikan kepadanya? Menyembunyikannya dibawah tanah? Menuduh Allah itu Allah yang tidak adil? Akhirnya dia dibuang kedalam kegelapan yang paling gelap.

Itu adalah tempat yang sama seperti dalam Matius 8 tadi. Orang dari Timur dari Barat akan pergi duduk bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub dalam kerajaan sorga. Mengapa? Karena talenta yang ada padanya itu - yang diberikan padanya - tidak dikembangkan; tidak berkembang dari 1 menjadi 1+1, sedangkan yang 5 menjadi 5+5, berkembang. Ada hasilnya. Yang 2 menjadi 2+2, ada hasilnya. Yang satu tidak dikerjakan. Tidak berkembang, tidak berubah.

Nah dari hal apakah ini berbicara? kalau tadi dalam contoh pertama, kalau orang dari Timur Barat berkumpul dalam kerajaan sorga, tapi anak kerajaan dibuang dalam kegelapan yang paling gelap, disebut situ: anak kerajaan, berbicara dari hal apakah itu? Berbicara dari hal iman. Sebab si penghulu laskar sudah berkata:"Aku mempunyai bawahan" dst. Kalau Yesus katakan satu kata saja, sudah beres. Yesus berkata belum pernah aku melihat iman seperti ini. Jadi ini ada hubungan dibuangnya orang ke dalam tempat yang gelap yang paling gelap itu adalah pertama kalau tidak mempunyai iman. Saudara mungkin tanya, iman yang bagaimana? Iman yang menurut ukuran Firman Allah.

Kamis, 15 Januari 2009

Katak dan Hujan

Katak Dan Hujan

Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. "Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.




"Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik." jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. "Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu? " tanya
si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.

"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. "Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.




"Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. "Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!" ucapnya sambil terus memejamkan mata.

"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai. "Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang," ungkap sang induk katak begitu tenang.

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!"

Anugrah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum.

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.



Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, pasti akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan.

from:email