Hati yang Sempurna
Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah
yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu
sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah.
Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata "Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku?". Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ; namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu
tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah?
Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa "Anda pasti bercanda, pak tua", katanya, "bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan". "Ya", kata pak tua itu, "hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan. Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya. Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan - - memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang itu,
dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu.
Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu ?"
Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, dan merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir ke dalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.
Si Tou Timou Tumou Tou (kita hidup untuk menghidupkan orang lain) - DR G.S.S.J Ratulangi
(Pahlawan nasional dari Manado - Sulawesi Utara)
Karena hidup bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani - GBU
from:email
Kamis, 12 Februari 2009
Robohkan Tembok Itu Dengan Cara Allah
Ringkasan khotbah 01.02.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu PertamaPebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
ROBOHKAN TEMBOK ITU DENGAN CARA ALLAH
Yosua 6:1-20
Perjalanan hidup manusia tidak terlepas dari berbagai macam persoalan. Ibarat perjalanan Yosua dan bangsa Israel menuju tanah Kanaan. Dalam perjalanan tersebut, Yosua dan rombongan harus melewati sebuah kota dengan temboknya yang berkubu yang mengelilingi kota itu. Tujuan perjalanan tersebut adalah menuju tanah perjanjian, yang dijanjikan Allah kepada Abraham Ishak dan Yakub. Tetapi ditengah perjalanan mereka berhadapan dengan sebuah “penghalang”, yaitu kota Yerikho dengan tembok yang mengelilinginya. Untuk supaya mereka dapat berjalan terus, kota ini harus ditaklukkan, dan untuk dapat menaklukkan kota ini, maka temboknya harus dirobohkan terlebih dahulu. Tetapi sebelum daripada itu, mereka harus menyeberangi sungai Yordan!
Demikian pula perjalanan saudara dan saya di dalam dunia ini. Banyak kita temui penghalang demi penghalang, bagaikan tembok-tembok Yerikho, yang kokoh dan kuat menghalangi perjalanan hidup kita. Tuhan juga menjanjikan Tanah Perjanjian bagi saudara dan saya, yaitu Yerusalem Baru, Surga yang mulia, tetapi kita harus berusaha berjalan terus bersama kekuatan dari Tuhan hingga tiba disana.
Yosua percaya, negeri itu telah diberikan Tuhan kepada mereka, bangsa Israel. Dan dia percaya juga, bahwa perjalanan mereka ini akan disertai Tuhan sesuai dengan firman-Nya dalam Yosua 1:2-9. Dan tidak ada “tembok” apapun yang dapat menghadang perjalanan mereka. Dan akhirnya, kita semua tahu kisah ini, tembok itu roboh dan mereka menguasai kota Yerikho dan meneruskan perjalanan mereka menuju tanah Perjanjian.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, langkah-langkah apa yang ditempuh Yosua, sehingga mengakibatkan tembok Yerikho itu roboh? Ya, benar! Mereka mengelilingi tembok itu berulang-ulang selama tujuh hari dengan cara-Nya Tuhan – Yosua 6:1-20. Tetapi yang membuat mereka menerima petunjuk Tuhan untuk melakukan hal itu, adalah: pertama, sebelum Yosua memasuki Yerikho, “ia melayangkan pandangannya” – Yosua 5:13. Yosua mempunyai satu pandangan yang positip ke arah Yerikho. Dalam visinya ia melihat ada kemenangan dibalik tembok tersebut. Visinya adalah visi yang positip. Ia tidak menganggap tembok itu sebagai suatu masalah yang menghalangi perjalanannya. Ia tahu Allah telah memberikan kota itu kepada bangsanya. Dan Tuhan menyertai mereka sesuai dengan Firman-Nya – Yosua 6:2. Didalam Ibrani 11:7 dikatakan “…..dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan……” itulah visi. Didalam visi ada keyakinan/iman dan pengharapan. Oleh sebab itu, janganlah melihat setiap problem sebagai suatu penghalang. Sebab dibalik setiap masalah pasti ada pelajaran-pelajaran penting tentang kehidupan yang sedang Tuhan ijinkan kita belajar. Maka dari itu, bersyukurlah selalu dalam segala hal! Berikutnya dalam Yosua 5:14 “…lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah….”. Haruslah hidupkan terus kehidupan doa di dalam sujud dan menyembah kepada Tuhan. Menghadapi persoalan, janganlah berhenti berdoa. Pereratlah hubungan kita dengan Tuhan melalui doa. Di dalam doa Tuhan dapat memberikan petunjuk-petunjuk-Nya, seperti di dalam ayat ini. Segera sesudah itu, pada Yosua 5:15 “….tanggalkanlah kasut…..”. Rendahkanlah diri dengan menghormati Tuhan. 1 Petrus 5:6 “ Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Setelah Yosua melakukan hal-hal ini, lalu Tuhan memberikan petunjuk lebih lanjut, bagaimana merobohkan tembok Yerikho itu. Dan melalui petunjuk tersebut, tembok itu roboh, Yerikho direbut, Yosua dan bangsanya memperoleh kemenangan.
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu PertamaPebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
ROBOHKAN TEMBOK ITU DENGAN CARA ALLAH
Yosua 6:1-20
Perjalanan hidup manusia tidak terlepas dari berbagai macam persoalan. Ibarat perjalanan Yosua dan bangsa Israel menuju tanah Kanaan. Dalam perjalanan tersebut, Yosua dan rombongan harus melewati sebuah kota dengan temboknya yang berkubu yang mengelilingi kota itu. Tujuan perjalanan tersebut adalah menuju tanah perjanjian, yang dijanjikan Allah kepada Abraham Ishak dan Yakub. Tetapi ditengah perjalanan mereka berhadapan dengan sebuah “penghalang”, yaitu kota Yerikho dengan tembok yang mengelilinginya. Untuk supaya mereka dapat berjalan terus, kota ini harus ditaklukkan, dan untuk dapat menaklukkan kota ini, maka temboknya harus dirobohkan terlebih dahulu. Tetapi sebelum daripada itu, mereka harus menyeberangi sungai Yordan!
Demikian pula perjalanan saudara dan saya di dalam dunia ini. Banyak kita temui penghalang demi penghalang, bagaikan tembok-tembok Yerikho, yang kokoh dan kuat menghalangi perjalanan hidup kita. Tuhan juga menjanjikan Tanah Perjanjian bagi saudara dan saya, yaitu Yerusalem Baru, Surga yang mulia, tetapi kita harus berusaha berjalan terus bersama kekuatan dari Tuhan hingga tiba disana.
Yosua percaya, negeri itu telah diberikan Tuhan kepada mereka, bangsa Israel. Dan dia percaya juga, bahwa perjalanan mereka ini akan disertai Tuhan sesuai dengan firman-Nya dalam Yosua 1:2-9. Dan tidak ada “tembok” apapun yang dapat menghadang perjalanan mereka. Dan akhirnya, kita semua tahu kisah ini, tembok itu roboh dan mereka menguasai kota Yerikho dan meneruskan perjalanan mereka menuju tanah Perjanjian.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, langkah-langkah apa yang ditempuh Yosua, sehingga mengakibatkan tembok Yerikho itu roboh? Ya, benar! Mereka mengelilingi tembok itu berulang-ulang selama tujuh hari dengan cara-Nya Tuhan – Yosua 6:1-20. Tetapi yang membuat mereka menerima petunjuk Tuhan untuk melakukan hal itu, adalah: pertama, sebelum Yosua memasuki Yerikho, “ia melayangkan pandangannya” – Yosua 5:13. Yosua mempunyai satu pandangan yang positip ke arah Yerikho. Dalam visinya ia melihat ada kemenangan dibalik tembok tersebut. Visinya adalah visi yang positip. Ia tidak menganggap tembok itu sebagai suatu masalah yang menghalangi perjalanannya. Ia tahu Allah telah memberikan kota itu kepada bangsanya. Dan Tuhan menyertai mereka sesuai dengan Firman-Nya – Yosua 6:2. Didalam Ibrani 11:7 dikatakan “…..dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan……” itulah visi. Didalam visi ada keyakinan/iman dan pengharapan. Oleh sebab itu, janganlah melihat setiap problem sebagai suatu penghalang. Sebab dibalik setiap masalah pasti ada pelajaran-pelajaran penting tentang kehidupan yang sedang Tuhan ijinkan kita belajar. Maka dari itu, bersyukurlah selalu dalam segala hal! Berikutnya dalam Yosua 5:14 “…lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah….”. Haruslah hidupkan terus kehidupan doa di dalam sujud dan menyembah kepada Tuhan. Menghadapi persoalan, janganlah berhenti berdoa. Pereratlah hubungan kita dengan Tuhan melalui doa. Di dalam doa Tuhan dapat memberikan petunjuk-petunjuk-Nya, seperti di dalam ayat ini. Segera sesudah itu, pada Yosua 5:15 “….tanggalkanlah kasut…..”. Rendahkanlah diri dengan menghormati Tuhan. 1 Petrus 5:6 “ Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Setelah Yosua melakukan hal-hal ini, lalu Tuhan memberikan petunjuk lebih lanjut, bagaimana merobohkan tembok Yerikho itu. Dan melalui petunjuk tersebut, tembok itu roboh, Yerikho direbut, Yosua dan bangsanya memperoleh kemenangan.
Rabu, 11 Februari 2009
Change or Die
Change Or Die
Ada sebuah cerita mengenai seorang raja kaya yang pada suatu hari berjalan mengelilingi negeri yang dicintainya.
Pada jaman itu belum ditemukan alas kaki, sehingga sang raja melewati daerah-daerah yang kadang kala berbatuan
sehingga tapak kakinya sakit. Setelah pulang kembali ke istana, sang raja memerintahkan kepada menterinya agar menguliti setiap sapi di wilayah kekuasaannya untuk menutupi seluruh jalan di negeri itu agar kakinya tak lagi sakit jika berkeliling. Sang menteri berpikir sejenak, dan mengatakan kepada raja, "Baginda biarpun kita menguliti seluruh sapi di negeri ini tak akan menutupi seluruh jalan yang ada di negeri ini. Saya mengusulkan untuk membuat sepatu untuk baginda dari kulit sapi, agar kemana pun baginda pergi kakinya akan selalu terlindung."
Seringkali cara yang termudah dan termurah dan efektif dalam menghadapi perubahan adalah memulainya dari diri kita sendiri. Seringkali kita ingin orang lain, keadaan bahkan dunia ini untuk berubah terlebih dahulu, namun perubahan itu akan lebih mudah dan realistis terjadi jika kita mulai dari diri kita terlebih dahulu.
Cerita lain mengenai sebuah kapal perang raksasa yang melintasi laut yang tertutup dengan kabut tebal, sang kapten yang gagah perkasa menyerahkan arah kapal tersebut kepada supervisor kapal yang mengamati keadaan
laut di depan kapal dari menara pantau tertinggi di kapal tersebut. Suatu ketika sang supervisor berteriak, "Kapten ada kapal di depan kita." Kapten menjawab, "Beritahukan kapal itu agar membanting 20 derajat ke arah kiri."
Sang supervisor memberikan kode dengan isyarat lampu kepada kapal tersebut, kemudian dibalas dengan perintah agar kapal perang tersebut yang membanting 20 derajat ke arah kiri. Sang kapten sangat marah dan emosi dan memberikan perintah kepada supervisor kapal agar membalas pesan seperti berikut, "Dengar ini adalah perintah dari kapten kapal perang!." Kemudian datang balasan yang mengatakan, "Ini adalah perintah dari supervisor tingkat II." Merasa dipermalukan, sang kapten memberikan perintah, "Kami adalah kapal perang."
kemudian balasan datang yang mengisyaratkan, "Kami adalah mercu suar!"
Ada kalanya kita harus mengambil tindakan untuk berubah. Jika Anda bertemu "mercu suar" dalam hidup Anda,
bersiaplah untuk berubah atau Anda akan hancur. Perubahan adalah hal yang tidak meng-enakkan dan tidak
jarang membuat kita ragu, takut bahkan menunda pengambilan tindakan. Mengapa? Karena perubahan menimbulkan resiko baru yang mungkin lebih beresiko dibandingkan jika kita tidak berubah sama sekali. Namun ada kalanya kita harus mengambil suatu keputusan untuk berubah, jika setelah berkali-kali kita "terantuk" oleh permasalahan yang sama. Dunia ini bagaikan tempat "belajar" untuk setiap insan manusia. Jika kita terus melakukan kesalahan yang sama dan menolak untuk berubah, kita tidak dapat maju ke "tingkat yang lebih tinggi."
Ingatlah setiap perubahan akan membawa kita kepada dua pilihan, gagal atau berhasil, pastikan Anda berfokus terhadap keberhasilan itu. Hidup ini bagaikan roda dunia yang akan terus berputar. Roda itu terus berputar karena dengan berputar ke depan, roda itu baru dapat maju. George Bernard Shaw mengatakan kemajuan adalah hal yang mustahil terjadi tanpa adanya perubahan, dan mereka yang tidak mampu mengubah cara pikirnya tidak akan merubah apapun. Charles F. Kettering pun mengatakan hal yang tidak kalah dahsyatnya bahwa dunia ini membenci akan perubahan namun perubahan itulah satu-satunya yang mendatangkan kemajuan. Roda kehidupan akan terus berputar, kadang di atas kadang di bawah, banyak orang yang menahan akan adanya perubahan dan
selalu ingin terus berada di atas roda yang berputar. Mereka terus berusaha untuk tetap berada pada posisi atas sehingga ketika perubahan terjadi dan mereka berada di posisi bawah roda, mereka tidak bersiap sehingga tidak mampu bangkit dari kegagalan.
Kesuksesan seseorang terjadi ketika ia mampu dan siap menghadapi perubahan. Camkanlah apa yang dikatakan
Carol Burnett bahwa hanya kitalah satu-satunya yang dapat mengubah hidup kita. Tidak ada orang lain yang dapat melakukannya untuk kita. Menahan arus perubahan dimana dibutuhkan, dapat menghancurkan kehidupan Anda.
Walaupun perubahan membawa perasaan tidak menentu, tidak berubah juga mendatangkan resiko yang tidak
kalah bahayanya. Jika Anda tidak merasa yakin dengan arah yang Anda ambil saat ini, sudah saatnya Anda menempuh arah yang lain. Makin cepat Anda mengambil keputusan untuk berubah makin baik.
Adalah hal yang penting untuk diketahui, jika Anda terus melakukan hal yang sama, Anda akan mendapatkan hasil yang sama. Jika Anda menginginkan hasil yang berbeda,Anda harus menyambut perubahan dengan sikap yang positif.
Live your life with passion! - GBU
From:email
Ada sebuah cerita mengenai seorang raja kaya yang pada suatu hari berjalan mengelilingi negeri yang dicintainya.
Pada jaman itu belum ditemukan alas kaki, sehingga sang raja melewati daerah-daerah yang kadang kala berbatuan
sehingga tapak kakinya sakit. Setelah pulang kembali ke istana, sang raja memerintahkan kepada menterinya agar menguliti setiap sapi di wilayah kekuasaannya untuk menutupi seluruh jalan di negeri itu agar kakinya tak lagi sakit jika berkeliling. Sang menteri berpikir sejenak, dan mengatakan kepada raja, "Baginda biarpun kita menguliti seluruh sapi di negeri ini tak akan menutupi seluruh jalan yang ada di negeri ini. Saya mengusulkan untuk membuat sepatu untuk baginda dari kulit sapi, agar kemana pun baginda pergi kakinya akan selalu terlindung."
Seringkali cara yang termudah dan termurah dan efektif dalam menghadapi perubahan adalah memulainya dari diri kita sendiri. Seringkali kita ingin orang lain, keadaan bahkan dunia ini untuk berubah terlebih dahulu, namun perubahan itu akan lebih mudah dan realistis terjadi jika kita mulai dari diri kita terlebih dahulu.
Cerita lain mengenai sebuah kapal perang raksasa yang melintasi laut yang tertutup dengan kabut tebal, sang kapten yang gagah perkasa menyerahkan arah kapal tersebut kepada supervisor kapal yang mengamati keadaan
laut di depan kapal dari menara pantau tertinggi di kapal tersebut. Suatu ketika sang supervisor berteriak, "Kapten ada kapal di depan kita." Kapten menjawab, "Beritahukan kapal itu agar membanting 20 derajat ke arah kiri."
Sang supervisor memberikan kode dengan isyarat lampu kepada kapal tersebut, kemudian dibalas dengan perintah agar kapal perang tersebut yang membanting 20 derajat ke arah kiri. Sang kapten sangat marah dan emosi dan memberikan perintah kepada supervisor kapal agar membalas pesan seperti berikut, "Dengar ini adalah perintah dari kapten kapal perang!." Kemudian datang balasan yang mengatakan, "Ini adalah perintah dari supervisor tingkat II." Merasa dipermalukan, sang kapten memberikan perintah, "Kami adalah kapal perang."
kemudian balasan datang yang mengisyaratkan, "Kami adalah mercu suar!"
Ada kalanya kita harus mengambil tindakan untuk berubah. Jika Anda bertemu "mercu suar" dalam hidup Anda,
bersiaplah untuk berubah atau Anda akan hancur. Perubahan adalah hal yang tidak meng-enakkan dan tidak
jarang membuat kita ragu, takut bahkan menunda pengambilan tindakan. Mengapa? Karena perubahan menimbulkan resiko baru yang mungkin lebih beresiko dibandingkan jika kita tidak berubah sama sekali. Namun ada kalanya kita harus mengambil suatu keputusan untuk berubah, jika setelah berkali-kali kita "terantuk" oleh permasalahan yang sama. Dunia ini bagaikan tempat "belajar" untuk setiap insan manusia. Jika kita terus melakukan kesalahan yang sama dan menolak untuk berubah, kita tidak dapat maju ke "tingkat yang lebih tinggi."
Ingatlah setiap perubahan akan membawa kita kepada dua pilihan, gagal atau berhasil, pastikan Anda berfokus terhadap keberhasilan itu. Hidup ini bagaikan roda dunia yang akan terus berputar. Roda itu terus berputar karena dengan berputar ke depan, roda itu baru dapat maju. George Bernard Shaw mengatakan kemajuan adalah hal yang mustahil terjadi tanpa adanya perubahan, dan mereka yang tidak mampu mengubah cara pikirnya tidak akan merubah apapun. Charles F. Kettering pun mengatakan hal yang tidak kalah dahsyatnya bahwa dunia ini membenci akan perubahan namun perubahan itulah satu-satunya yang mendatangkan kemajuan. Roda kehidupan akan terus berputar, kadang di atas kadang di bawah, banyak orang yang menahan akan adanya perubahan dan
selalu ingin terus berada di atas roda yang berputar. Mereka terus berusaha untuk tetap berada pada posisi atas sehingga ketika perubahan terjadi dan mereka berada di posisi bawah roda, mereka tidak bersiap sehingga tidak mampu bangkit dari kegagalan.
Kesuksesan seseorang terjadi ketika ia mampu dan siap menghadapi perubahan. Camkanlah apa yang dikatakan
Carol Burnett bahwa hanya kitalah satu-satunya yang dapat mengubah hidup kita. Tidak ada orang lain yang dapat melakukannya untuk kita. Menahan arus perubahan dimana dibutuhkan, dapat menghancurkan kehidupan Anda.
Walaupun perubahan membawa perasaan tidak menentu, tidak berubah juga mendatangkan resiko yang tidak
kalah bahayanya. Jika Anda tidak merasa yakin dengan arah yang Anda ambil saat ini, sudah saatnya Anda menempuh arah yang lain. Makin cepat Anda mengambil keputusan untuk berubah makin baik.
Adalah hal yang penting untuk diketahui, jika Anda terus melakukan hal yang sama, Anda akan mendapatkan hasil yang sama. Jika Anda menginginkan hasil yang berbeda,Anda harus menyambut perubahan dengan sikap yang positif.
Live your life with passion! - GBU
From:email
Selasa, 10 Februari 2009
Jadilah Seperti Angsa
Bila antar teman kita seperti Angsa. Alangkah indahnya … !!!
Bila anda sedang berada di negara 4 musim, kadang anda melihat Angsa terbang berombongan, pergi ke daerah yang lebih hangat, menghindari musim dingin…
Perhatikan, mereka terbang dalam formasi “V”. Mungkin anda kepingin tahu kenapa...
Dengan terbang dalam formasi “V”, efisiensi seluruh “Grup” akan naik sebesar 71 %, dibandingkan dengan terbang sendiri-sendiri.
Pelajaran 1:
Bekerja secara Team, bergerak ke arah tujuan yang sama, membuat kita mencapai tujuan lebih cepat dan lebih ringan.
Ketika salah satu Angsa meninggalkan formasi. Apa yang terjadi ………?
Dia mengalami daya tahan udara yang besar, dan kesulitan terbang sendiri………
Akhirnya dia dengan cepat kembali ke “formasi” untuk berbagi efek terbang dalam formasi …
Pelajaran ke 2:
Selalu kompak di dalam Team yang bergerak ke satu tujuan, akan membutuhkan lebih sedikit energi. Akan lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk mencapai tujuan. Setiap anggota akan merasa berkewajiban untuk menolong sesama.
Ketika team leader kelelahan ……… Apa yang terjadi ……………?
Dia berpindah ke ujung formasi “V”, sementara itu Angsa lain akan mengambil tempatnya.
Pelajaran 3:
Berbagi kepemimpinan, harus didasari saling hormat dan percaya di antara anggota di setiap saat. Saling berbagi tugas atau masalah yang paling berat. Pusatkan kemampuan, dan bakat Team untuk memecahkan masalah.
Angsa terbang dalam formasi “V” sambil “berkotek” hal ini akan memberi semangat terbang “team leader”. Juga dengan cara demikian mereka terbang dengan kecepatan yang sama……
Pelajaran 4:
Bila mana ada semangat dan “penyemangat”, kecepatan penyelesain pekerjaan lebih besar. Keberadaan “semangat” akan selalu memotivasi, menolong dan menguatkan… Akan menghasikan kualitas yang terbaik.
Ketika salah satu Angsa sakit atau kelelahan………… Dia akan tertinggal dan keluar dari formasi……
Apa yang terjadi ………?
Beberapa Angsa akan keluar juga dari formasi, dan membentuk formasi baru untuk menolong dan mengawal dia… sampai dia sehat dan kembali masuk ke formasi atau terus dengan formasi tsb, atau jatuh dan meninggal.
Pelajaran 5:
Tinggalah berdampingan dengan yang lain apapun perbedaan kita. Lebih lebih pada waktu kesulitan dan tantangan yang besar...
Jika kita kompak dan saling mendukung…... Jika kita menjiwai kerja sama yang baik.. Melupakan perbedaan masing-masing maka kita akan selalu dapat mengatasi tantangan. Jika kita selami arti dari persahabatan.. Dan kita selalu bersedia untuk berbagi………
HIDUP AKAN LEBIH BERARTI DAN KITA AKAN MELEWATI WAKTU MENDATANG DENGAN KEBAHAGIAAN...
MY FRIENDS …………..... LET’S BE LIKE THE GOOSE!!!
From:email
Bila anda sedang berada di negara 4 musim, kadang anda melihat Angsa terbang berombongan, pergi ke daerah yang lebih hangat, menghindari musim dingin…
Perhatikan, mereka terbang dalam formasi “V”. Mungkin anda kepingin tahu kenapa...
Dengan terbang dalam formasi “V”, efisiensi seluruh “Grup” akan naik sebesar 71 %, dibandingkan dengan terbang sendiri-sendiri.
Pelajaran 1:
Bekerja secara Team, bergerak ke arah tujuan yang sama, membuat kita mencapai tujuan lebih cepat dan lebih ringan.
Ketika salah satu Angsa meninggalkan formasi. Apa yang terjadi ………?
Dia mengalami daya tahan udara yang besar, dan kesulitan terbang sendiri………
Akhirnya dia dengan cepat kembali ke “formasi” untuk berbagi efek terbang dalam formasi …
Pelajaran ke 2:
Selalu kompak di dalam Team yang bergerak ke satu tujuan, akan membutuhkan lebih sedikit energi. Akan lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk mencapai tujuan. Setiap anggota akan merasa berkewajiban untuk menolong sesama.
Ketika team leader kelelahan ……… Apa yang terjadi ……………?
Dia berpindah ke ujung formasi “V”, sementara itu Angsa lain akan mengambil tempatnya.
Pelajaran 3:
Berbagi kepemimpinan, harus didasari saling hormat dan percaya di antara anggota di setiap saat. Saling berbagi tugas atau masalah yang paling berat. Pusatkan kemampuan, dan bakat Team untuk memecahkan masalah.
Angsa terbang dalam formasi “V” sambil “berkotek” hal ini akan memberi semangat terbang “team leader”. Juga dengan cara demikian mereka terbang dengan kecepatan yang sama……
Pelajaran 4:
Bila mana ada semangat dan “penyemangat”, kecepatan penyelesain pekerjaan lebih besar. Keberadaan “semangat” akan selalu memotivasi, menolong dan menguatkan… Akan menghasikan kualitas yang terbaik.
Ketika salah satu Angsa sakit atau kelelahan………… Dia akan tertinggal dan keluar dari formasi……
Apa yang terjadi ………?
Beberapa Angsa akan keluar juga dari formasi, dan membentuk formasi baru untuk menolong dan mengawal dia… sampai dia sehat dan kembali masuk ke formasi atau terus dengan formasi tsb, atau jatuh dan meninggal.
Pelajaran 5:
Tinggalah berdampingan dengan yang lain apapun perbedaan kita. Lebih lebih pada waktu kesulitan dan tantangan yang besar...
Jika kita kompak dan saling mendukung…... Jika kita menjiwai kerja sama yang baik.. Melupakan perbedaan masing-masing maka kita akan selalu dapat mengatasi tantangan. Jika kita selami arti dari persahabatan.. Dan kita selalu bersedia untuk berbagi………
HIDUP AKAN LEBIH BERARTI DAN KITA AKAN MELEWATI WAKTU MENDATANG DENGAN KEBAHAGIAAN...
MY FRIENDS …………..... LET’S BE LIKE THE GOOSE!!!
From:email
Senin, 09 Februari 2009
Kejujuran Yang Menyelamatkan Jiwa
Kejujuran yang Menyelamatkan Jiwa
Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan.
Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.
Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.
Uang untuk biaya rumah sakit,karena anak ibu baru saja mengalami kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong.
Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu.
Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”. setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian yang baru saja dialami kepada Ibu nya.
Lalu ibunya berkata , “ Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin , namun kamu KAYA dengan KEBAIKAN dan KEJUJURAN.
Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.
Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil”.
(“Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” )
From:email
Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan.
Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.
Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.
Uang untuk biaya rumah sakit,karena anak ibu baru saja mengalami kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong.
Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu.
Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”. setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian yang baru saja dialami kepada Ibu nya.
Lalu ibunya berkata , “ Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin , namun kamu KAYA dengan KEBAIKAN dan KEJUJURAN.
Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.
Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil”.
(“Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” )
From:email
Rabu, 04 Februari 2009
A Little Girls Prayer
A Little Girls Prayer
Helen Roseveare, a missionary doctor from England to Zaire Africa, told this as it happened to her in Africa.
"One night I had worked hard to help a mother in the labor ward; but in spite of all we could do she died leaving us with a tiny premature baby and a crying two-year-old daughter. We would have difficulty keeping the baby alive, as we had no incubator. (We had no electricity to run an incubator.) We also had no special feeding facilities.
Although we lived on the equator, nights were often chilly with treacherous drafts. One student midwife went for the box we had for such babies and the cotton wool the baby would be wrapped in. Another went to stoke up the fire and fill a hot water bottle. She came back shortly in distress to tell me that in filling the bottle, it had burst. Rubber perishes easily in tropical climates. "And it is our last hot water bottle!" she exclaimed.
As in the West it is no good crying over spilled milk, so in Central Africa it might be considered no good crying over burst water bottles. They do not grow on trees, and there are no drugstores down forest pathways.
"All right," I said, "Put the baby as near the fire as you safely can, and sleep between the baby and the door to keep it free from drafts. "Your job is to keep the baby warm."
The following noon, as I did most days, I went to have prayers with any of the orphanage children who chose to gather with me. I gave the youngsters various suggestions of things to pray about and told them about the tiny baby. I explained our problem about keeping the baby warm enough, mentioning the hot water bottle. The baby could so easily die if it got chills. I also told them of the two-year-old sister, crying because her mother had died. During the prayer time, one ten-year-old girl, Ruth, prayed with the usual blunt conciseness of our African children. "Please, God," she prayed, "send us a water bottle. It'll be no good tomorrow, God, as the baby will be dead, so please send it this afternoon."
While I gasped inwardly at the audacity of the prayer, she added by way of a corollary, "And while You are about it, would You please send a dolly for the little girl so she'll know You really love her?"
As often with children's prayers, I was put on the spot. Could I honestly say, "Amen?" I just did not believe that God could do this. Oh, yes, I know that He can do everything. The Bible says so. But there are limits, aren't there? The only way God could answer this particular prayer would be by sending me a parcel from the homeland. I had been in Africa for almost four years at that time, and I had never, ever received a parcel from home. Anyway, if anyone did send me a parcel, who would put in a hot water bottle? I lived on the equator!
Halfway through the afternoon, while I was teaching in the nurses' training school, a message was sent that there was a car at my front door. By the time I reached home, the car had gone, but there, on the verandah, was a large twenty-two pound parcel. I felt tears pricking my eyes. I could not open the parcel alone, so I sent for the orphanage children. Together we pulled off the string, carefully undoing each knot. We folded the paper, taking care not to tear it unduly. Excitement was mounting. Some thirty or forty pairs of eyes were focused on the large cardboard box. From the top, I lifted out brightly colored, knitted jerseys. Eyes sparkled as I gave them out. Then there were the knitted bandages for the leprosy patients, and the children looked a little bored. Then came a box of mixed raisins and sultanas -- that would make a nice batch of buns for the weekend. Then, as I put my hand in again, I felt the.... could it really be? I grasped it and pulled it out -- yes, a brand-new, rubber hot water bottle!
I cried. I had not asked God to send it; I had not truly believed that He could. Ruth was in the front row of the children. She rushed forward, crying out, "If God has sent the bottle, He must have sent the dolly, too!"
Rummaging down to the bottom of the box, she pulled out the small, beautifully dressed dolly. Her eyes shone! She had never doubted. Looking up at me, she asked: "Can I go over with you, Mummy, and give this dolly to that little girl, so she'll know that Jesus really loves her?"
That parcel had been on the way for five whole months. Packed up by my former Sunday school class, whose leader had heard and obeyed God's prompting to send a hot water bottle, even to the equator. And one of the girls had put in a dolly for an African child -- five months before -- in answer to the believing prayer of a ten-year-old to bring it "that afternoon."
"Before they call, I will answer!" Isa 65:24
Email
Helen Roseveare, a missionary doctor from England to Zaire Africa, told this as it happened to her in Africa.
"One night I had worked hard to help a mother in the labor ward; but in spite of all we could do she died leaving us with a tiny premature baby and a crying two-year-old daughter. We would have difficulty keeping the baby alive, as we had no incubator. (We had no electricity to run an incubator.) We also had no special feeding facilities.
Although we lived on the equator, nights were often chilly with treacherous drafts. One student midwife went for the box we had for such babies and the cotton wool the baby would be wrapped in. Another went to stoke up the fire and fill a hot water bottle. She came back shortly in distress to tell me that in filling the bottle, it had burst. Rubber perishes easily in tropical climates. "And it is our last hot water bottle!" she exclaimed.
As in the West it is no good crying over spilled milk, so in Central Africa it might be considered no good crying over burst water bottles. They do not grow on trees, and there are no drugstores down forest pathways.
"All right," I said, "Put the baby as near the fire as you safely can, and sleep between the baby and the door to keep it free from drafts. "Your job is to keep the baby warm."
The following noon, as I did most days, I went to have prayers with any of the orphanage children who chose to gather with me. I gave the youngsters various suggestions of things to pray about and told them about the tiny baby. I explained our problem about keeping the baby warm enough, mentioning the hot water bottle. The baby could so easily die if it got chills. I also told them of the two-year-old sister, crying because her mother had died. During the prayer time, one ten-year-old girl, Ruth, prayed with the usual blunt conciseness of our African children. "Please, God," she prayed, "send us a water bottle. It'll be no good tomorrow, God, as the baby will be dead, so please send it this afternoon."
While I gasped inwardly at the audacity of the prayer, she added by way of a corollary, "And while You are about it, would You please send a dolly for the little girl so she'll know You really love her?"
As often with children's prayers, I was put on the spot. Could I honestly say, "Amen?" I just did not believe that God could do this. Oh, yes, I know that He can do everything. The Bible says so. But there are limits, aren't there? The only way God could answer this particular prayer would be by sending me a parcel from the homeland. I had been in Africa for almost four years at that time, and I had never, ever received a parcel from home. Anyway, if anyone did send me a parcel, who would put in a hot water bottle? I lived on the equator!
Halfway through the afternoon, while I was teaching in the nurses' training school, a message was sent that there was a car at my front door. By the time I reached home, the car had gone, but there, on the verandah, was a large twenty-two pound parcel. I felt tears pricking my eyes. I could not open the parcel alone, so I sent for the orphanage children. Together we pulled off the string, carefully undoing each knot. We folded the paper, taking care not to tear it unduly. Excitement was mounting. Some thirty or forty pairs of eyes were focused on the large cardboard box. From the top, I lifted out brightly colored, knitted jerseys. Eyes sparkled as I gave them out. Then there were the knitted bandages for the leprosy patients, and the children looked a little bored. Then came a box of mixed raisins and sultanas -- that would make a nice batch of buns for the weekend. Then, as I put my hand in again, I felt the.... could it really be? I grasped it and pulled it out -- yes, a brand-new, rubber hot water bottle!
I cried. I had not asked God to send it; I had not truly believed that He could. Ruth was in the front row of the children. She rushed forward, crying out, "If God has sent the bottle, He must have sent the dolly, too!"
Rummaging down to the bottom of the box, she pulled out the small, beautifully dressed dolly. Her eyes shone! She had never doubted. Looking up at me, she asked: "Can I go over with you, Mummy, and give this dolly to that little girl, so she'll know that Jesus really loves her?"
That parcel had been on the way for five whole months. Packed up by my former Sunday school class, whose leader had heard and obeyed God's prompting to send a hot water bottle, even to the equator. And one of the girls had put in a dolly for an African child -- five months before -- in answer to the believing prayer of a ten-year-old to bring it "that afternoon."
"Before they call, I will answer!" Isa 65:24
Selasa, 03 Februari 2009
An Impossible Dream
A Miracle Of Miracles: Realizing An Impossible Dream
"So many of our dreams at first seem impossible, then they seem improbable, and then, when we summon the will, they soon become inevitable." Christopher Reeve
Recently, for the first time in 5 years I simply went out back, put my cane down, and started walking. I made it 42 yards.
Today I walked 5 miles.
My medical team had said this would be impossible. My brain could no longer send the signals for walking because those nerves in my spinal cord had been destroyed. Though certainly unintentional, my doctors did take something very important away from me: hope.
A while back, a psychologist pal of mine urged me to try to help myself. I was angry. I said, "They're four of Boston's leading neurologists. They all said I'd never get any better."
"They could have all been wrong."
"They said there's nothing I can do! No rehabilitation. No physical therapy. I'm not putting any effort into trying to walk and then be miserable when I fail."
"Trying is never failure."
I'd get steaming mad at people like her. What did they know? They came out in droves. I heard various things I should try: a soy-based diet, massage, Yoga, acupuncture, positive thinking. All of these well-meaning non-experts believed that traditional medical doctors do not know everything about human potential.
However, there was a common denominator in my friends' advice. And that was the word, "Try."
What made me finally try? The answer is simpler than I'd have ever imagined. That day I tried walking on my own, I had simply said to myself, "Why not?"
When I walk I have a Frankenstein-style gait. I get embarrassed so I explain. I met a gal who said, "Stop excusing yourself. Walk proud!" She's just one of the many who've taught me that if I open my heart to acceptance, the world is filled with support teams.
I've also resolved to open my obstinate mind and really listen to others, experts or not. This not only fosters my own sometimes-frail belief in my abilities; it fosters faith in miracles.
One morning my husband, Bob, said there was a huge present for me in our driveway. He had researched "bicycles for disabled people." It was a 300 pound cycle for two. The seats were side by side. He could pedal while I sat by him and enjoyed the outdoors again.
Um . . . did I mention it came assembled with a set of pedals for me too?
Now, hundreds of miles later, after exhaustive hours of pedaling along beautiful bike trails, I only wish that we owned stock in Ben-Gay.
Bob needs a tube a day to keep up with me.
Last week he repeated, "There's a huge present in our driveway." He led me outside. "Voila!" he said. "Oh no," I moaned. Bob dubbed it "The One-Woman Dynamo Power Bike."
"Sweetheart? You know I can't bike on my own."
He laughed sweetly. "I know. And you can't walk either. Then why does the pedometer I bought you have 74 miles on it?"
And so, I made a now often repeated declaration that I am praying others will say to themselves as well. "Yes. I can."
Think I love my bike? You bet. Think I love Bob? Of course. Think I love life again after cloistering myself in a self imposed no-can-do closet? Goodness! You have to ask?
How do we find hope when hope seems impossible? Do we simply believe in our hearts, our minds and our very souls that we can beat the odds?
Yes.
Christopher Reeve said, "When we have hope, we discover powers within ourselves we may have never known. Once we choose hope, everything is possible."
His immutable words still ring in my heart and I so hope they will in everyone else's: "And you don't have to be a 'Superman' to do it."
~ Saralee Perel ~
From:email
"So many of our dreams at first seem impossible, then they seem improbable, and then, when we summon the will, they soon become inevitable." Christopher Reeve
Recently, for the first time in 5 years I simply went out back, put my cane down, and started walking. I made it 42 yards.
Today I walked 5 miles.
My medical team had said this would be impossible. My brain could no longer send the signals for walking because those nerves in my spinal cord had been destroyed. Though certainly unintentional, my doctors did take something very important away from me: hope.
A while back, a psychologist pal of mine urged me to try to help myself. I was angry. I said, "They're four of Boston's leading neurologists. They all said I'd never get any better."
"They could have all been wrong."
"They said there's nothing I can do! No rehabilitation. No physical therapy. I'm not putting any effort into trying to walk and then be miserable when I fail."
"Trying is never failure."
I'd get steaming mad at people like her. What did they know? They came out in droves. I heard various things I should try: a soy-based diet, massage, Yoga, acupuncture, positive thinking. All of these well-meaning non-experts believed that traditional medical doctors do not know everything about human potential.
However, there was a common denominator in my friends' advice. And that was the word, "Try."
What made me finally try? The answer is simpler than I'd have ever imagined. That day I tried walking on my own, I had simply said to myself, "Why not?"
When I walk I have a Frankenstein-style gait. I get embarrassed so I explain. I met a gal who said, "Stop excusing yourself. Walk proud!" She's just one of the many who've taught me that if I open my heart to acceptance, the world is filled with support teams.
I've also resolved to open my obstinate mind and really listen to others, experts or not. This not only fosters my own sometimes-frail belief in my abilities; it fosters faith in miracles.
One morning my husband, Bob, said there was a huge present for me in our driveway. He had researched "bicycles for disabled people." It was a 300 pound cycle for two. The seats were side by side. He could pedal while I sat by him and enjoyed the outdoors again.
Um . . . did I mention it came assembled with a set of pedals for me too?
Now, hundreds of miles later, after exhaustive hours of pedaling along beautiful bike trails, I only wish that we owned stock in Ben-Gay.
Bob needs a tube a day to keep up with me.
Last week he repeated, "There's a huge present in our driveway." He led me outside. "Voila!" he said. "Oh no," I moaned. Bob dubbed it "The One-Woman Dynamo Power Bike."
"Sweetheart? You know I can't bike on my own."
He laughed sweetly. "I know. And you can't walk either. Then why does the pedometer I bought you have 74 miles on it?"
And so, I made a now often repeated declaration that I am praying others will say to themselves as well. "Yes. I can."
Think I love my bike? You bet. Think I love Bob? Of course. Think I love life again after cloistering myself in a self imposed no-can-do closet? Goodness! You have to ask?
How do we find hope when hope seems impossible? Do we simply believe in our hearts, our minds and our very souls that we can beat the odds?
Yes.
Christopher Reeve said, "When we have hope, we discover powers within ourselves we may have never known. Once we choose hope, everything is possible."
His immutable words still ring in my heart and I so hope they will in everyone else's: "And you don't have to be a 'Superman' to do it."
~ Saralee Perel ~
From:email
Langganan:
Postingan (Atom)
