Jumat, 30 Januari 2009

Ombak Kecil dan Ombak Besar

OMBAK KECIL DAN OMBAK BESAR

Alkisah, di tengah samudra yang maha luas, tampaklah ombak besar sedang bergulung-gulung dengan suaranya yang menggelegar, tampak bersuka ria menikmati kedasyatan kekuatannya, seakan-akan menyatakan keberadaan dirinya yang besar dan gagah perkasa.

Sementara itu, jauh di belakang gelombang ombak besar, tampak sang ombak kecil bersusah payah mengikuti. Ia terlihat lemah, tertatih-tatih, tak berdaya, dan jauh tersisih di belakang. Akhirnya, ombak kecil hanya bisa menyerah dan mengekor ke mana pun ombak besar pergi. Tetapi, di benaknya selalu muncul pertanyaan, mengapa dirinya begitu lebih lemah dan tak berdaya?

Suatu kali, ombak kecil bermaksud mengadu kepada ombak besar. Sambil tertaih-tatih ombak kecil berteriak: “Hai ombak besar. Tunggu!”

Sayup-sayup suara ombak kecil didengar juga oleh ombak besar. Lalu sang ombak besar sedikit memperlambat gerakannya dan berputar-putar mendekati arah datangnya suara. “Ada apa sahabat?” Jawab ombak besar dengan suara menggelegar hebat.

“Aih, pelankan suaramu. Dengarlah, mengapa engkau bisa begitu besar? Begitu kuat, gagah, dan perkasa? Sementara diriku, ah, begitu kecil, lemah dan tak berdaya. Apa sesungguhnya yang membuat kita begitu berbeda, wahai ombak besar?”

Ombak besar pun menjawab, “Sahabatku, kamu menganggap dirimu sendiri kecil dan tidak berdaya, sementara kamu menganggap aku begitu hebat dan luar biasa, anggapanmu itu muncul karena kamu belum sadar dan belum mengerti jati dirimu yang sebenarnya, hakikat dirimu sendiri”.

“Jati diri? Hakikat diri? Kalau jati diriku bukan ombak kecil, lalu aku ini apa?” Tanya ombak kecil, “Tolong jelaskan, aku semakin bingung dan tidak mengerti.”

Ombak besar meneruskan, “Memang di antara kita terasa berbeda tetapi sebenarnya jati diri kita adalah sama, kamu bukan ombak kecil, aku pun juga bukan ombak besar. Ombak besar dan ombak kecil adalah sifat kita yang sementara. Jati diri kita yang sejati sama, kita adalah air. Bila kamu menyadari bahwa kita sama-sama air, maka kamu tidak akan menderita lagi, kamu adalah air, setiap waktu kamu bisa menikmati menjadi ombak besar seperti aku, kuat gagah dan perkasa.”

Mendengar kata-kata bijak sang ombak besar, mendadak timbul kesadaran dalam diri ombak kecil. “Ya, benar, aku bukan ombak kecil. Jati diriku adalah air, tidak perlu aku berkecil hati dan menderita.”

Dan, sejak saat itu, si ombak kecil pun menyadari dan menemukan potensi dirinya yang maha dasyat. Dengan ketekunan dan keuletannya, ia berhasil menemukan cara-cara untuk menjadikan dirinya semakin besar, kuat, dan perkasa, sebagaimana sahabatnya yang dulu dianggapnya besar. Akhirnya, mereka hidup bersama dalam keharmonisan alam. Ada kalanya yang satu lebih besar dan yang lain kecil. Kadang yang satu lebih kuat dan yang lain lemah.

Begitulah, mereka menikmati siklus kehidupan dengan penuh hikmat dan kesadaran.

Sebagai manusia, sering kali kita terjebak dalam kebimbangan akibat situasi sulit yang kita hadapi, yang sesungguhnya itu hanyalah pernak-pernik atau tahapan dalam perjalanan kehidupan. Sering kali kita memvonis keadaan itu sebagai suratan takdir, lalu muncullah mitos-mitos: aku tidak beruntung, nasibku memang jelek, aku orang gagal, dan lebih parah lagi menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk “ketidakadilan” Tuhan.

Dengan memahami bahwa jati diri kita adalah sama-sama manusia, tidak ada alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain. Karena sesungguhnya kesuksesan, kesejahteraan dan kebahagiaan bukan monopoli orang-orang tertentu. Jika orang lain bisa sukses, kita pun juga bisa sukses! Kesadaran tentang jati diri bila telah mampu kita temukan, maka di dalam diri kita akan timbul daya dorong dan semangat hidup yang penuh gairah sedahsyat ombak besar di samudra nan luas. Siap menghadapi setiap tantangan dengan mental yang optimis aktif, dan siap mengembangkan potensi terbaik demi menapaki puncak tangga kesuksesan.

“Jati diri kita adalah sama-sama manusia! Tidak ada alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain. Jika orang lain bisa sukses, kita pun bisa sukses!”

From:email

Kamis, 29 Januari 2009

Adat Istiadat dan Ke-Keristenan

Ringkasan khotbah 25.01.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Keempat Januari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)

Adat Istiadat dan KeKristenan

Hari-hari ini, di seluruh dunia orang-orang Tiong Hoa sedang berada di dalam suasana Imlek.
Saudara-saudara jemaat Tuhan di sini juga tidak terkecuali sedang berada dalam suasana yang sama untuk menyambut Hari Raya Imlek besok bukan? Menjadi pertanyaan yang sama sampai hari ini adalah “Apakah orang Tiong Hoa yang sudah Kristen boleh merayakan Hari Raya Imlek?” Tetapi sebelumnya saya mengajak saudara-saudara untuk mengerti, apakah Imlek itu. Kata “Imlek” sendiri artinya “penanggalan menurut peredaran bulan”. Jadi tidak ada arti apa-apa. Cara penanggalan berdasarkan peredaran bulan, sudah dilakukan orang sejak zaman dahulu kala. Baik orang Tiong Kok, Arab, Yahudi, Mesir dlsb melakukan hal yang sama. Dan penanggalan yang kita kenal sekarang adalah penanggalan berdasarkan peredaran matahari atau yang disebut “Yang Lek”. Yang sebenarnya yang dimaksudkan orang dengan Hari Raya Imlek adalah Hari Raya Musim Semi, atau Sin Cia (Sin Chun dalam dialek Mandarin). Sin Chun (Chun / musim semi yang baru) adalah hari pertama Musim Semi. Ini adalah saat para petani bersuka ria karena menyambut musim tanam. Mereka telah melalui Musim Gugur dan Musim dingin dimana mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Maka sangat wajar, bila musim Semi datang perasaan mereka penuh dengan kegembiraan. Peristiwa ini terjadi sejak zaman dahulu kala. Tiongkok adalah bangsa agraris, penduduknya kebanyakan bertani. Oleh karena itu sudah menjadi satu tradisi, bila musim semi tiba, mereka sangat bersuka cita; mereka berpesta rakyat, makan minum, menari-nari, saling berkunjung keluarga dan lain sebagainya. Dengan berjalannya waktu, tradisi ini mereka mulai ritualkan. Ada sembahyang sebagai tanda ucapan syukur kepada Dewa Langit dan Dewa Bumi. Membagi-bagi Ang Pao(bungkusan merah) dalamnya diisi sejumlah duit. Seturut dengan perkembangan zaman, tradisi ini terus dikembangkan sampai seperti hari ini.
Kembali kepada pertanyaan, apakah orang Kristen Tionghoa boleh merayakan Sin Cia? Saya mau katakan dalam batas-batas tertentu, BOLEH! Artinya kalau hanya salaman, makan, kasih Ang Pao pun boleh-boleh aja. Kasih selamat sukses dan sehat. Boleh juga. Tanpa Sin Cia pun kita sering berkata demikian kepada orang-orang kan! Yang tidak boleh adalah, kalau setiap adat-istiadat itu kita kaitkan dengan unsur-unsur spiritual lalu kita sakralkan dalam bentuk-bentuk penyembahan, INI SAMA SEKALI TIDAK BOLEH!
Yesus pernah menegur dengan keras kepada orang-orang Yahudi yang menanyakan kepada Yesus tentang murid-murid-Nya yang makan dengan tidak membasuh tangan – Markus 7:1-2,5. Rupanya hal membasuh tangan dan lain-lain adalah merupakan adat-istiadat nenek moyang mereka – Markus 7:3-4. Maka Yesus menjawab mereka :”…. Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat-istiadat manusia.” – Markus 7:6-8.
Adat-istiadat tidak semua jelek, juga tidak semua baik bagi kita orang Kristen. Semua bangsa di dunia mempunyai adat-istiadat masing-masing. Kebiasaan manusia di dunia ini kalau ketemu – apa lagi kalau sudah lama tidak ketemu – saling salam salaman, apakah ini tidak baik? Tentu saja baik. Walaupun cara menyampaikan salaman itu masing-masing bangsa berbeda-beda, ada yang berjabat tangan, ada yang menggenggam kedua kepalan tangan sambil digoyang-goyangkan didepan dada, ada yang nunduk 90 derajat, ada yang cipiki-cipika dlsb. Tradisi yang tidak baik bagi kita orang percaya adalah kalau tradisi-tradisi itu dimasukan unsur spiritual/kepercayaan tertentu. Hal ini kita jauhi. Saudara harus ingat, Firman Allah mengingatkan kita pada kondisi jemaat di Galatia, mereka tadinya tidak mengenal Allah dan menyembah para berhala. Tetapi setelah diselamatkan oleh pelayanan Paulus mereka mengenal Allah. Lama kelamaan mereka kembali kepada cara penyembahan mereka yang lama, sehingga Paulus menulis surat kepada mereka dalam Galatia 4:9-11 “….. kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun……” Inilah yang banyak dilakukan oleh orang-orang Kristen akhir zaman. Kalau ada perayaan suka lihat hari, bulan, tahun, bahkan jam-jam tertentu. Ini sama dengan yang Yesus katakan kepada orang Yahudi “Munafik”- Markus 7:6.
Kita sekalian tidak mau disebut orang munafik ‘kan! Makanya jangan ikut-ikutan dengan tradisi-tradisi yang mengandung unsur ritual dan kepercayaan. Anda mau saling kunjungi keluarga besok, silahkan. Itu Alkitabiah sebab memelihara persatuan keluarga dan saling mengasihi antara saudara yang satu dengan saudara yang lain – 1 Yoh. 4:20-21. Mau makan bersama? Silahkan. Mau kasih Ang Pao atau terima Ang Pao, silahkan. Pendeta pun mau “Ang Pao”.
Saya bukan mau kompromi dengan tradisi Tiong Hoa, tetapi apa yang wajar-wajar saja yang kita lakukan. Yang terpenting kita jangan mempercayai kepercayaan-kepercayaan yang ada dibalik tradisi-tradisi dan adat istiadat nenek moyang itu. Sebagaimana Firman Allah katakan dalam Kolose 2:8 “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” Terlalu banyak tradisi dan adat-istiadat Tionghoa kalau mau dibicarakan. Dari perkawinan, kehamilan, kelahiran anak, usaha bisnis, pekerjaan, rumah tinggal, sampai kematian, pekuburan semua ada tata cara tradisinya. Oleh karena itu, saudara-saudara harus sangat berhati-hati dengan semuanya itu, jangan sampai terpengaruh atau tertawan dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia. Tetapi sebaliknya marilah kita meninggalkan segala tradisi-tradisi dan adat-istiadat leluhur yang hampa dan tidak berarti itu, dan lakukanlah segala sesuatu menurut ajaran dan perintah Kristus. Amin!

Rabu, 28 Januari 2009

Samson's Riddle

SAMSON’S RIDDLE
By: Donny Tatimu

Judges 14:14,18 (AMP)
And he said to them, Out of the eater came forth food, and out of the strong came forth sweetness. And they could not solve the riddle in three days.
What is sweeter than honey? What is stronger than a lion?


What is the answer to this riddle?
I believed the answer to this riddle, can effect our way of life, how we think, how we decided something, how we treat other people, how we behave, even how we set our own mind.
Why? It is simply because that is what happen to Samson!

"Out of the STRONG, came forth SWEETNESS..." this was the riddle.
What is the "strong"?
Songs 8:6, "Set me like a seal upon your heart, like a seal upon your arm; FOR LOVE IS as STRONG as death, jealousy is as hard and cruel as Sheol (the place of the dead). Its flashes are flashes of fire, a most vehement flame [the very flame of the Lord]"
LOVE is strong

What is the "sweetness"?
Psalms 119:103,"How sweet are Your words to my taste,"
WORDS [or, promises, something nice that came out from mouth] is sweet.

Now, let me make this riddle clear to you. Please allow me to change the last question from Judges 14:18. "What is stronger than a lion", into "what is love you more than a lion?"
For this question, The Bible gave us three answers about that:
1. Man can be a lion ;
Deut. 33:22; 2 Sam 23:20.
But worse than that: a whore can be a lion with honey in her mouth (Prov. 5:3-10)
This is the first answer to Samson’s riddle. And this was Samson’s answered. Almost all the day of his life, he fall in LOVE to whores, and to their SWEET WORDS.
For study: Judges 14:1, 18-20; Judg. 16.
Samson did nothing for Israel! Samson fought the Philistines, JUST BECAUSE of women! This was Samson’s biggest mistake, WRONG ANSWER!

2. Devil can be a lion;
The second answer "a lion" can point to Devil himself, 1 Peter 5:8, "for that enemy of yours, the devil, roams around like a lion roaring [in fierce hunger], seeking someone to seize upon and devour."
What is the Devil’s secret weapon? His "roar", his words, his promises. When you believe, or fall in his deception, you loose! You’ve got a WRONG ANSWER! The Devil give nothing for free!
Ephesians 6:11

3. God is a lion.
Rev. 5:5, "Then one of the elders [of the heavenly Sanhedrin] said to me, Stop weeping! See, the Lion of the tribe of Judah, the Root (Source) of David, has won (has overcome and conquered)! He can open the scroll and break its seven seals!"
If God is always the answer of your life, you get the RIGHT ANSWER, for the RIGHT PERSON, in the RIGHT TIME and the RIGHT PLACE, on the RIGHT WAY.
"What is sweeter than honey?" The answer is God’s promise is SWEETER than honey (Ps. 119:103)
What a man, or a woman, and devil and the world can offer, is HONEY! Not more than that! But what God offer to us, is something SWEETER than anything can give, it is His Living Words!

What is your answer? Man’s love and all that he can promise to give to you; or, Devil’s love and all that he can promise to give to you (Luke 4), he tried once, when he offered the world to Jesus. Or, God’s love, and ALL the GRACE and GLORY and POWER that He already provided for us?

Selasa, 27 Januari 2009

6 Pertanyaan dan Jawaban

6 pertanyaan dan jawaban

Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. ..
Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.. .
Pertama...
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya" ...
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar...
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian".. .
Sebab kematian adalah PASTI adanya....

Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua...
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab...
"negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang" ...
Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan
adalah benar...
Tapi yang paling benar adalah "masa lalu"...
Siapa pun kita... bagaimana pun kita...dan betapa kayanya kita...
tetap kita
TIDAK bisa kembali ke masa lalu...
Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan datang..

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga...
"Apa yang paling besar di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab
"gunung", "bumi", dan "matahari".. .
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru ...
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu"...
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya...
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu...
Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai
nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)...

Pertanyaan keempat adalah...
"Apa yang paling berat di dunia ini...???"
Di antara muridnya ada yang menjawab...
"baja", "besi", dan "gajah"...
"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru ..
tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"...

Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"
Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ...
"Semua itu benar...", kata Sang Guru...
tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"...

Lalu pertanyaan keenam adalah...
"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!! !"
"(hampir) Benar...", kata Sang Guru
tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia"...
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan
melukai perasaan saudaranya sendiri...

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...
senantiasa belajar dari MASA LALU...
dan tidak memperturutkan NAFSU...???
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH....
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???

(From:email)

Jumat, 23 Januari 2009

Kegelapan Yang Paling Gelap 9

Kegelapan Yang Paling Gelap 10
Oleh: Pdt. A.H. Mandey

Kedua, maka kita membaca tadi dalam Matius 22, seorang yang masuk dalam pesta perkawinan tidak mempunyai pakaian pasta nikah. Dia dibuang kedalam kegelapan yang paling gelap juga. Apakah konteksnya? Apakah sebabnya dia dibuang? Tidak mempunyai pakain pesta. Apakah pakaian itu? Berbicara dari hal kebenaran.

Pertama soal iman, kedua soal kebenaran, ketiga soal apakah ini? Soal talenta.

Ada lima menjadi 5+5, dua menjadi 2+2, satu menjadi nol. Akhirnya diambil daripadanya diberikan kepada yang mempunyai sepuluh. Satu malah jadi nol. dengan lain kata, talentanya tidak berkembang seperti yang lain.

Nah, apakah yang membuat talenta dapat berkembang? Apa? Rohul Kudus. Roh Kudus mempunyai sifat berkembang.

Saudara inget barangkali tutupan atau peti perjanjian yang selalu diusung oleh bangsa Israel. Apakah yang ada di dalamnya? Dua log batu, bokor berisi mana. Dua log batu Taurat, bayangan dari Allah Bapa, lalu bokor berisi mana, roti bayangan daripada Allah Anak, Yesus berkata:"Akulah roti kehidupan", lalu ada satu tongkat Harus yang bertunas. Ditangan tau-taunya bertunas dia. Itu berbicara dari hal Allah Roh Kudus. Roh Kudus selalu digambarkan seperti sesuatu yang banyak. Misalnya bintang-bintang dilangit. Berbicara dari apakah itu? Dari hal Roh Kudus.

Nah, jadi dalam Matius 25 ini, kita melihat, bahwa orang ini, dia dibuang ke dalam kegelapan yang paling gelap, adalah karena dia tidak mempunyai sesuatu yang dapat berkembang. Maksudnya tidak mempunyai Roh Kudus.

Jadi tiga hal yang kita melihat di dalam tiga cerita ini, tentang kegelapan yang paling gelap. Matius 22 berbicara dari hal orang yang dibuang karena tidak mencapai kesatuan iman seperti Efesus 4:13 katakan, tapi selamat atau tidak mereka? Apakah kegelapan yang paling gelap diluar itu neraka? Bukan. Nerak tidak digambarkan sebagai tempat yang gelap. Tidak. Kegelapan yang paling gelap itu berbicara dari hal: MASA ANIAYA DIBAWAH ANTI-KRISTUS.

Just One More Step

" There is nothing as simple as walking - putting one foot in front of the other. Think of situation you are in as a journey (of 1000 miles) - you'll keep putting one foot in front of the other (very basic thing!) until you finish. So when you feel you want to give up in whatever you are doing, remember how easy it is to place one foot in front of the other, how easy it is to take JUST ONE MORE STEP, JUST ONE! Do this, just take ONE MORE STEP, (one more minute, one more round, one more paragraph, JUST ONE MORE); you'll be surprised how much you have covered! Of course after taking this one step, it wouldn't hurt to ask yourself: CAN'T I TAKE JUST ONE MORE? JUST ONE MORE?"
When you feel weak, just take one more step. Just place one foot in front of the other (just once), think of yourself walking- CAN YOU REALLY NOT DRAG ONE FOOT IN FRONT OF ANOTHER, JUST ONE MORE STEP?

From:email

Kamis, 22 Januari 2009

Pemecah Batu

Pemecah Batu

Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya.

Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya.

Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan kepada seorang pejabat.

Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.

Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari.

Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.

Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya.

Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan.

Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya.

Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.

Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung.

Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung.

Ketika ia menjadi gunung, ia melihat ada orang yang memecahnya.

Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu.

Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.

Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja... sampai kita mulai membanding-bandingkan.

Kebahagiaan sejati tidaklah terkondisi oleh apa pun.

From:email