Kegelapan Yang Paling Gelap 10
Oleh: Pdt. A.H. Mandey
Bayangkan Matius 22 orang datang tau-tau dibuang, mereka disebut orang beriman. Tapi tidak mencapai iman yang sepenuhnya. Nah, saudara-saudara, lalu datang contoh yang ke dua. Orang yang tidak memakai pakaian pesta. Dia juga dibuang. Masuk dalam masa aniaya besar. Karena apa? Tidak mempunyai kebenaran. Perbuatan kebenaran.
Kita lihat dalam Matius 25, tentang talenta yang berkembang, ya bertunas. Itu berbicara dari hal Roh Kudus. Jadi tiga hal yang menentukan kita masuk atau tidak masuk dalam masa aniaya besar. Tiga hal pertama, soal iman - Matius 8. Soal iman. Iman yang bagaimanakah ada pada kita? Memang kalau kita mempunyai iman sebesar biji sesawi, kita sudah berkuasa. Kalau saja kita percaya dengan hati dan mengaku dengan mulut, kitapun selamat. Begitu saja. Yohanes 3:16:"karena demikian Allah mengasihi dunia ini...." Percaya. Iman perlu sekali, tetapi iman yang bagaimana? Kalau sekarang ada ajaran yang mengatakan, pokoknya orang itu percaya, semua diangkat, tidak ada ketinggalan orang percaya dibumi ini. Alkitab tidak mengajarkan demikian itu ada.
Contoh yang kedua tentang pakaian. Bicara dari hal perbuatan, kebenaran kita. Tidak ada itupun dibuang. Dan yang ketiga tadi, tentang talenta. Talentapun kita harus liat. Harus dapat berkembang. Kembangkan talenta yang ada pada kita, kerjakanlah itu agar mendapatkan keuntungan bagi kerajaan Allah. Sangat perlu sekali kita mempunyai urapan Roh Kudus.
Jadi tiga hal yang menentukan orang masuk dalam 3.5 tahun aniaya atau tidak masuk 3.5 tahun aniaya, ada kriterianya. Pertama: kalau kita punyai iman, kedua mempunyai perbuatan iman. Apa gunanya kita percaya kita tidak mempunyai perbuatan iman. Yakobus berkata: mati. Dan ketiga: berbuah banyak itu berbicara tentang urapan Roh Kudus. Dan seakrang kita lihat, tadi Matius 8 berbicara dari hal iman; Matius 22 berbicara dari jal perbuatan/kebenaran; dan yang ketiga kita membaca kita sudah melihat ini menunjuk kepada arti urapan Roh Kudus. Urapan.
Coba kita bandingkan sekarang dengan buku Wahyu 3:17-18:"Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena Engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli daripadaKu emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat". Tiga hal yang dikemukakan disini, yaitu "belilah daripadaKu emas yang telah dimurnikan dalam api", ini berbicara dari hal apakah? Coba baca 1 Petrus 1:7:"Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu - yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas fana, yang diuji kemurniannya dengan api - sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya."
Jadi saudara-saudara dia berbicara dari hal apakah disini? Dari hal iman. "Kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas fana." Nah, emas yang dimurnikan dengan api. Ini berbicara dari hal iman kita. Dalam surat Petrus, juga bicara tentang iman kita yang diuji dengan api. Jadi imanlah yang harus disucikan dengan api. Nah, dalam buku Wahyu dikatakan:"belilah dari padaKu emas yang dimurnikan dengan api", jadi emas murni oleh api. Iman murni oleh api pencobaan. Begitu dalam surat Petrus.
Kamis, 19 Februari 2009
Hidup Sederhana
Hidup Sederhana Sangat Menguntungkan
"In character, in manner, in style, in all things, the supreme
exellence is simplicity. – Dalam karakter, sikap, gaya, dalam segala
hal, kesederhanaan adalah hal yang terindah."
~Henry Wadsworth Longfellow~
Hidup sederhana sangat menyenangkan. Terlebih dalam kehidupan modern
dimana kita tak pernah dapat lepas dari banyak sekali pilihan dan
jalan sekaligus kesulitan. Berusaha hidup sesederhana mungkin akan
sangat membantu kita menemukan banyak keuntungan dan hidup lebih baik
meskipun kita harus dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi global
seperti saat ini.
Selain itu, hidup sederhana akan membuat kita lebih menikmati apa yang
ada saat ini, karena tidak terlalu khawatir akan masa depan atau opini
negatif orang lain. Sebagaimana Sir Chinmoy mengatakan, "Simplicity is
our natural or conscious awareness of reality. – Kesederhanaan adalah
kesadaran alamiah akan kenyataan diri kita sendiri." Kesadaran
tersebut akan membantu kita lebih fokus pada potensi diri sendiri dan
semangat untuk lebih giat berusaha, tak hanya berangan-angan atau
meratapi kegagalan masa lalu. Dengan demikian, kita dapat meraih
harapan lebih cepat dan lebih banyak dari yang diinginkan.
Kesederhanaan dalam hidup semua berawal dari pikiran. Hidup sederhana
sama artinya dengan terus belajar menjernihkan pikiran dan tidak
membiarkan diri kita dikuasai oleh pemikiran-pemikiran negatif. Dengan
kata lain, kesederhanaan membuat kita menemukan ketenangan pikiran.
Kemauan untuk selalu hidup sesederhana mungkin dapat menumbuhkan
kreatifitas. Cobalah bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang
dapat Anda lakukan dengan apa yang Anda miliki? Pertanyaan tersebut
akan mendorong Anda untuk memutar otak guna memecahkan suatu masalah
dengan memanfaatkan apa yang sudah Anda miliki, daripada mencoba untuk
'membeli' solusi yang berarti pengeluaran uang lagi.
Keuntungan lain dari hidup sederhana lainnya adalah tidak menimbulkan
kecemburuan sosial, kesibukan yang berkurang, sehingga lebih banyak
waktu untuk istirahat, mengembangkan diri, berbagi dengan orang lain
dan lain sebagainya. Keuntungan yang terpenting adalah kita menjadi
lebih bahagia dengan apapun yang kita miliki. Sementara keuntungan
selalu ada dari hidup sederhana adalah biaya hidup menjadi lebih
ekonomis.
Harus dipahami bahwa hidup sederhana bukan kehidupan kaum miskin.
Sebab banyak milyuner kelas dunia hidup sangat hemat dan sederhana
atau jauh dari kemewahan. Kita coba perhatikan Warren Buffet yang
disebut majalah Forbes edisi bulan Agustus 2008 sebagai pria terkaya
di dunia dengan total kekayaan senilai 62 milyar USD. Keseharian hidup
pria yang mendapat gelar Sage of Omaha atau Oracle of Omaha karena
kehebatan pikirannya tersebut sangat dekat dengan prinsip hidup hemat
dan mungkin dapat kita jadikan pedoman.
Ketika diwawancara televisi CNBC beberapa waktu yang lalu, Warren
Buffet menyatakan bahwa ia masih tinggal di rumah sederhana berkamar 3
di kota Ohama. Rumah itu sudah ia tempati bersama keluarga sejak
menikah tahun 1959. Walaupun rumah itu jauh dari kesan mewah, tetapi
ia mengatakan, "Saya memiliki segalanya di rumah ini."
Dengan harta yang sedemikian banyak dan sumber pendapatan yang sangat
besar, Warren Buffet masih sangat berhati-hati dalam hal pengeluaran
uang. "Watch your expenses," katanya. Ia hanya akan membeli barang
jika benar-benar diperlukan, itupun dengan harga semurah mungkin. Ia
menyarankan agar membudayakan sikap seperti itu tak hanya pada diri
sendiri, melainkan kepada semua anggota keluarga.
Ia menjelaskan bahwa pengeluaran sekecil apapun akan membebani kondisi
keuangan. Untuk itu ia menyarankan agar menjadi 'smart buyer' atau
pembeli yang cerdas yang hanya membeli barang atau jasa yang
diperlukan bukan yang diinginkan. Sebab keinginan manusia tak pernah
ada habisnya bahkan sering menyebabkan kebangkrutan.
Pada saat yang sama ia juga menyatakan, "Always think how you can
accomplish things economically. – Berusahalah untuk mendapatkan segala
sesuatu dengan harga paling ekonomis atau murah." Hal itu tercermin
dari keseharian Warren Buffet yang tak pernah membeli mobil baru,
tidak mempunyai sopir ataupun pengawal pribadi. Kemana-mana iapun
memilih menumpang pesawat kelas bisnis daripada menaiki jet pribadi,
meskipun ia memiliki perusahaan pembuatan pesawat jet terbesar di dunia.
Sikap Warren Buffet yang berani menjadi diri sendiri patut kita
teladani. Ia berprinsip bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang
dapat mengendalikan kehidupan dan masa depannya sendiri. Itulah
mengapa ia tidak pernah membeli barang-barang bermerek atau melakukan
kebiasaan mewah lainnya, melainkan membeli barang-barang yang
membuatnya merasa nyaman.
Meskipun hartanya melimpah ruah, tetapi ia tidak suka pamer. "Don't
try to show off, just be yourself and do what you enjoy doing. –
Jangan pamer, jadilah diri sendiri dan menikmati apa yang Anda
lakukan," tegasnya. Ia mengingatkan agar kita tidak terjebak dengan
sikap semu, misalnya ingin selalu menunjukkan kesan mampu atau
mengedepankan gengsi walaupun harus menguras isi kantong. Sikap hidup
sederhana dan apa adanya itu akan jauh lebih baik dan menguntungkan,
daripada berusaha mengejar gaya hidup di luar jangkauan kemampuan
keuangan.
Warren Buffet mewanti-wanti agar tidak berhutang. "Avoid bank loans
and invest in yourself. – Hindari membayar bunga bank (meminjam uang)
dan berinvestasilah untuk diri sendiri," pesannya. Bukan berarti ia
anti berurusan dengan bank atau pinjaman, asalkan pinjaman tersebut
benar-benar dimanfaatkan sebagai modal usaha meningkatkan kualitas
ekonomi dan bukan untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.
Sikap hemat dan sederhana Warren Buffet bukan pertanda ia hanya senang
menumpuk pundi-pundi uang atau ia enggan berbagi dengan orang yang
kesulitan. Tahun 2006, ia mendonasikan 90% dari hartanya, berkisar
diantara 30,7 milyar USD, untuk yayasan sosial Bill & Melinda Gates.
Walaupun hartanya sudah didonasikan sedemikian banyak, gaya hidup
hemat dan sederhana membuat hartanya terus bertambah bahkan sekarang
jauh lebih besar (62 milyar USD).
Kehidupan Warren Buffet menginspirasikan betapa kesederhanaan itu
menguntungkan. Kesederhanaan dan sikap hemat Warren Buffet tidak hanya
membuat dirinya menikmati kesuksesan, tetapi juga lebih dicintai dan
dihargai banyak orang dibandingkan mereka yang selalu hidup
bergelimang kemewahan. Jika Anda ingin menjadi mengambil bagian
keuntungan dari kesederhanaan itu, maka mulai saat ini jadikan pola
hidup sehemat dan sesederhana mungkin sebagai bagian yang tak
terpisahkan dalam keseharian Anda.
From:email
"In character, in manner, in style, in all things, the supreme
exellence is simplicity. – Dalam karakter, sikap, gaya, dalam segala
hal, kesederhanaan adalah hal yang terindah."
~Henry Wadsworth Longfellow~
Hidup sederhana sangat menyenangkan. Terlebih dalam kehidupan modern
dimana kita tak pernah dapat lepas dari banyak sekali pilihan dan
jalan sekaligus kesulitan. Berusaha hidup sesederhana mungkin akan
sangat membantu kita menemukan banyak keuntungan dan hidup lebih baik
meskipun kita harus dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi global
seperti saat ini.
Selain itu, hidup sederhana akan membuat kita lebih menikmati apa yang
ada saat ini, karena tidak terlalu khawatir akan masa depan atau opini
negatif orang lain. Sebagaimana Sir Chinmoy mengatakan, "Simplicity is
our natural or conscious awareness of reality. – Kesederhanaan adalah
kesadaran alamiah akan kenyataan diri kita sendiri." Kesadaran
tersebut akan membantu kita lebih fokus pada potensi diri sendiri dan
semangat untuk lebih giat berusaha, tak hanya berangan-angan atau
meratapi kegagalan masa lalu. Dengan demikian, kita dapat meraih
harapan lebih cepat dan lebih banyak dari yang diinginkan.
Kesederhanaan dalam hidup semua berawal dari pikiran. Hidup sederhana
sama artinya dengan terus belajar menjernihkan pikiran dan tidak
membiarkan diri kita dikuasai oleh pemikiran-pemikiran negatif. Dengan
kata lain, kesederhanaan membuat kita menemukan ketenangan pikiran.
Kemauan untuk selalu hidup sesederhana mungkin dapat menumbuhkan
kreatifitas. Cobalah bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang
dapat Anda lakukan dengan apa yang Anda miliki? Pertanyaan tersebut
akan mendorong Anda untuk memutar otak guna memecahkan suatu masalah
dengan memanfaatkan apa yang sudah Anda miliki, daripada mencoba untuk
'membeli' solusi yang berarti pengeluaran uang lagi.
Keuntungan lain dari hidup sederhana lainnya adalah tidak menimbulkan
kecemburuan sosial, kesibukan yang berkurang, sehingga lebih banyak
waktu untuk istirahat, mengembangkan diri, berbagi dengan orang lain
dan lain sebagainya. Keuntungan yang terpenting adalah kita menjadi
lebih bahagia dengan apapun yang kita miliki. Sementara keuntungan
selalu ada dari hidup sederhana adalah biaya hidup menjadi lebih
ekonomis.
Harus dipahami bahwa hidup sederhana bukan kehidupan kaum miskin.
Sebab banyak milyuner kelas dunia hidup sangat hemat dan sederhana
atau jauh dari kemewahan. Kita coba perhatikan Warren Buffet yang
disebut majalah Forbes edisi bulan Agustus 2008 sebagai pria terkaya
di dunia dengan total kekayaan senilai 62 milyar USD. Keseharian hidup
pria yang mendapat gelar Sage of Omaha atau Oracle of Omaha karena
kehebatan pikirannya tersebut sangat dekat dengan prinsip hidup hemat
dan mungkin dapat kita jadikan pedoman.
Ketika diwawancara televisi CNBC beberapa waktu yang lalu, Warren
Buffet menyatakan bahwa ia masih tinggal di rumah sederhana berkamar 3
di kota Ohama. Rumah itu sudah ia tempati bersama keluarga sejak
menikah tahun 1959. Walaupun rumah itu jauh dari kesan mewah, tetapi
ia mengatakan, "Saya memiliki segalanya di rumah ini."
Dengan harta yang sedemikian banyak dan sumber pendapatan yang sangat
besar, Warren Buffet masih sangat berhati-hati dalam hal pengeluaran
uang. "Watch your expenses," katanya. Ia hanya akan membeli barang
jika benar-benar diperlukan, itupun dengan harga semurah mungkin. Ia
menyarankan agar membudayakan sikap seperti itu tak hanya pada diri
sendiri, melainkan kepada semua anggota keluarga.
Ia menjelaskan bahwa pengeluaran sekecil apapun akan membebani kondisi
keuangan. Untuk itu ia menyarankan agar menjadi 'smart buyer' atau
pembeli yang cerdas yang hanya membeli barang atau jasa yang
diperlukan bukan yang diinginkan. Sebab keinginan manusia tak pernah
ada habisnya bahkan sering menyebabkan kebangkrutan.
Pada saat yang sama ia juga menyatakan, "Always think how you can
accomplish things economically. – Berusahalah untuk mendapatkan segala
sesuatu dengan harga paling ekonomis atau murah." Hal itu tercermin
dari keseharian Warren Buffet yang tak pernah membeli mobil baru,
tidak mempunyai sopir ataupun pengawal pribadi. Kemana-mana iapun
memilih menumpang pesawat kelas bisnis daripada menaiki jet pribadi,
meskipun ia memiliki perusahaan pembuatan pesawat jet terbesar di dunia.
Sikap Warren Buffet yang berani menjadi diri sendiri patut kita
teladani. Ia berprinsip bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang
dapat mengendalikan kehidupan dan masa depannya sendiri. Itulah
mengapa ia tidak pernah membeli barang-barang bermerek atau melakukan
kebiasaan mewah lainnya, melainkan membeli barang-barang yang
membuatnya merasa nyaman.
Meskipun hartanya melimpah ruah, tetapi ia tidak suka pamer. "Don't
try to show off, just be yourself and do what you enjoy doing. –
Jangan pamer, jadilah diri sendiri dan menikmati apa yang Anda
lakukan," tegasnya. Ia mengingatkan agar kita tidak terjebak dengan
sikap semu, misalnya ingin selalu menunjukkan kesan mampu atau
mengedepankan gengsi walaupun harus menguras isi kantong. Sikap hidup
sederhana dan apa adanya itu akan jauh lebih baik dan menguntungkan,
daripada berusaha mengejar gaya hidup di luar jangkauan kemampuan
keuangan.
Warren Buffet mewanti-wanti agar tidak berhutang. "Avoid bank loans
and invest in yourself. – Hindari membayar bunga bank (meminjam uang)
dan berinvestasilah untuk diri sendiri," pesannya. Bukan berarti ia
anti berurusan dengan bank atau pinjaman, asalkan pinjaman tersebut
benar-benar dimanfaatkan sebagai modal usaha meningkatkan kualitas
ekonomi dan bukan untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.
Sikap hemat dan sederhana Warren Buffet bukan pertanda ia hanya senang
menumpuk pundi-pundi uang atau ia enggan berbagi dengan orang yang
kesulitan. Tahun 2006, ia mendonasikan 90% dari hartanya, berkisar
diantara 30,7 milyar USD, untuk yayasan sosial Bill & Melinda Gates.
Walaupun hartanya sudah didonasikan sedemikian banyak, gaya hidup
hemat dan sederhana membuat hartanya terus bertambah bahkan sekarang
jauh lebih besar (62 milyar USD).
Kehidupan Warren Buffet menginspirasikan betapa kesederhanaan itu
menguntungkan. Kesederhanaan dan sikap hemat Warren Buffet tidak hanya
membuat dirinya menikmati kesuksesan, tetapi juga lebih dicintai dan
dihargai banyak orang dibandingkan mereka yang selalu hidup
bergelimang kemewahan. Jika Anda ingin menjadi mengambil bagian
keuntungan dari kesederhanaan itu, maka mulai saat ini jadikan pola
hidup sehemat dan sesederhana mungkin sebagai bagian yang tak
terpisahkan dalam keseharian Anda.
From:email
Rabu, 18 Februari 2009
Maklum
Maklum
Memaklumi Sampai Sebatas Apa?
Setiap kali pergi ke pernikahan seorang kerabat atau teman, saya
selalu merasa senang dan bahagia. Bukan hanya ingin turut mendoakan
pasangan yang sedang berbahagia, tetapi karena ada kesempatan untuk
menikmati hidangan yang berbeda-beda setiap kali datang.
Namun, kadang rasa senang itu sering kali ternoda dengan kondisi
pesta yang hampir selalu diliputi oleh antrean untuk mendapatkan
makanan. Saya rasa itu sesuatu yang wajar, tetapi saya sering merasa
kesal karena beberapa orang sering kali memotong antrean tanpa
merasa bersalah. Sayangnya lagi saya selalu berusaha memaklumi itu.
Kadang saya berpikir bagaimana bisa seorang yang terlihat matang,
bijaksana dan memakai pakaian bagus seperti tamu di resepsi
pernikahan itu tidak mampu untuk mengantre dan mengambil hak milik
orang lain. Jangan-jangan sehari-harinya tamu ini memang suka
mengambil hak yang bukan miliknya.
Suatu ketika saya sedang berbelanja di sebuah mini market yang
sekarang sedang menjamur di mana-mana. Suatu ketika uang kembalian
saya kurang lima ratus rupiah dan si karyawan hendak menggantinya
dengan 5 buah permen yang sebenarnya dipikir-pikir tidak sebanding
dengan harga uang lima ratus rupiah.
Kalau saya ingin makan permen saya biasanya memaklumi keadaan itu.
Namun, terkadang saya mendongkol juga dalam hati, bagaimana seorang
pengusaha yang sukses ternyata masih senang juga mengelabui
pelanggannya untuk membeli produk yang tidak perlu dengan alasan
uang kembalian tidak ada.
Sudah Merajalela
Bagi sebagian orang, sikap memaklumi itu sudah menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari hidup bermasyarakat. Kita sering kali
memaklumi teman kita yang datang terlambat, sambil mengatakan
guyonan pahit bahwa kalau tidak telat yah bukan si teman yang satu
ini.
Kita juga memaklumi selebriti yang senang kawin cerai. Malahan
mungkin bagi sebagian wartawan infotaiment ini merupakan kondisi
yang bisa menyokong kerja mereka sehari-hari. Kalau sepi kawin cerai
di antara selebriti bisa memusingkan kepala, karena tidak ada berita
yang bisa diulas.
Dalam pemerintahan juga setali tiga uang. Kita sering kali
memaklumi, jika ada pejabat pemerintah yang menyelewengkan
kekuasaannya. Kita juga memaklumi jika ada aktivis yang tadinya
sangat idealis, namun setelah masuk ke dalam birokrasi malah menjadi
sangat materialistis.
Banyak kemakluman yang sengaja kita lakukan agar kita tidak menjadi
lelah hati dan pikiran melihat kenyataan yang tidak sesuai ini.
Walaupun kita tahu ada yang salah, namun seringkali kita membiarkan.
Banyak alasan di balik sikap ini, ada yang karena keengganan,
kemalasan berbicara, kurangnya kekuatan untuk bertindak dan rasa
kurang percaya diri. Hal ini juga belum ditambah bahwa biasanya
orang yang salah di negara kita ini malah yang lebih galak dan
berani. Aneh bukan.
Harus Berubah
Bila kondisi ini terus- menerus terjadi, saya tidak dapat bayangkan
apa yang akan kita hadapi beberapa tahun yang akan datang. Negara
ini tentunya bukan akan mengarah ke yang lebih baik namun ke arah
kehancuran.
Kita dapat tertinggal dengan bangsa lain karena kemakluman kita
sangat tinggi termasuk maklum bila negara ini tidak maju-maju. Sikap
ini sangat berbahaya karena sama saja kita membiarkan bangsa dan
negara ini digerogoti pelan-pelan oleh anak bangsanya sendiri.
Kita semua harus berubah. Semuanya harus dimulai dari diri kita.
Usahakanlah menegur terhadap orang yang melanggar peraturan.
Tegurlah dengan cara yang baik sehingga orang tersebut dapat
memahami kekeliruannya.
Bila memang tidak bisa juga sikap tegas memang kadang diperlukan
untuk hal-hal seperti ini.
Suatu saat saya pernah menegur seorang asing yang secara sengaja
merokok di dalam ruangan berpendingin ruangan, yang secara jelas
pula terdapat larangan merokok. Orang asing itu tidak meminta maaf,
namun segera keluar untuk meneruskan merokoknya.
Sikap yang tidak sopan sebenarnya, namun yang penting saya sudah
berani mengungkapkan keberatan saya atas sikapnya yang tidak
mementingkan orang lain.
Saya rasa kita semua harus mulai melakukan hal-hal yang mampu
membuat orang lain sadar akan kekeliruannya. Mungkin kebaikan yang
kita perbuat ini bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk anak dan
cucu kita yang sedang tumbuh.
Kita tentunya tidak rela melihat anak dan cucu kita akan tumbuh
dalam iklim yang serba tidak pasti bukan? Bila kita tidak mau
melakukannya untuk diri kita sendiri, berpikirlah tentang anak dan
cucu kita sambil terus bertanya dalam hati Seandainya saya tidak
mulai melakukannya, lalu siapa lagi?
Sumber: Memaklumi Sampai Sebatas Apa? oleh Andri Suryadi, seorang Psikiater, Dosen Kesehatan Jiwa FK Ukrida
From:email
Memaklumi Sampai Sebatas Apa?
Setiap kali pergi ke pernikahan seorang kerabat atau teman, saya
selalu merasa senang dan bahagia. Bukan hanya ingin turut mendoakan
pasangan yang sedang berbahagia, tetapi karena ada kesempatan untuk
menikmati hidangan yang berbeda-beda setiap kali datang.
Namun, kadang rasa senang itu sering kali ternoda dengan kondisi
pesta yang hampir selalu diliputi oleh antrean untuk mendapatkan
makanan. Saya rasa itu sesuatu yang wajar, tetapi saya sering merasa
kesal karena beberapa orang sering kali memotong antrean tanpa
merasa bersalah. Sayangnya lagi saya selalu berusaha memaklumi itu.
Kadang saya berpikir bagaimana bisa seorang yang terlihat matang,
bijaksana dan memakai pakaian bagus seperti tamu di resepsi
pernikahan itu tidak mampu untuk mengantre dan mengambil hak milik
orang lain. Jangan-jangan sehari-harinya tamu ini memang suka
mengambil hak yang bukan miliknya.
Suatu ketika saya sedang berbelanja di sebuah mini market yang
sekarang sedang menjamur di mana-mana. Suatu ketika uang kembalian
saya kurang lima ratus rupiah dan si karyawan hendak menggantinya
dengan 5 buah permen yang sebenarnya dipikir-pikir tidak sebanding
dengan harga uang lima ratus rupiah.
Kalau saya ingin makan permen saya biasanya memaklumi keadaan itu.
Namun, terkadang saya mendongkol juga dalam hati, bagaimana seorang
pengusaha yang sukses ternyata masih senang juga mengelabui
pelanggannya untuk membeli produk yang tidak perlu dengan alasan
uang kembalian tidak ada.
Sudah Merajalela
Bagi sebagian orang, sikap memaklumi itu sudah menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari hidup bermasyarakat. Kita sering kali
memaklumi teman kita yang datang terlambat, sambil mengatakan
guyonan pahit bahwa kalau tidak telat yah bukan si teman yang satu
ini.
Kita juga memaklumi selebriti yang senang kawin cerai. Malahan
mungkin bagi sebagian wartawan infotaiment ini merupakan kondisi
yang bisa menyokong kerja mereka sehari-hari. Kalau sepi kawin cerai
di antara selebriti bisa memusingkan kepala, karena tidak ada berita
yang bisa diulas.
Dalam pemerintahan juga setali tiga uang. Kita sering kali
memaklumi, jika ada pejabat pemerintah yang menyelewengkan
kekuasaannya. Kita juga memaklumi jika ada aktivis yang tadinya
sangat idealis, namun setelah masuk ke dalam birokrasi malah menjadi
sangat materialistis.
Banyak kemakluman yang sengaja kita lakukan agar kita tidak menjadi
lelah hati dan pikiran melihat kenyataan yang tidak sesuai ini.
Walaupun kita tahu ada yang salah, namun seringkali kita membiarkan.
Banyak alasan di balik sikap ini, ada yang karena keengganan,
kemalasan berbicara, kurangnya kekuatan untuk bertindak dan rasa
kurang percaya diri. Hal ini juga belum ditambah bahwa biasanya
orang yang salah di negara kita ini malah yang lebih galak dan
berani. Aneh bukan.
Harus Berubah
Bila kondisi ini terus- menerus terjadi, saya tidak dapat bayangkan
apa yang akan kita hadapi beberapa tahun yang akan datang. Negara
ini tentunya bukan akan mengarah ke yang lebih baik namun ke arah
kehancuran.
Kita dapat tertinggal dengan bangsa lain karena kemakluman kita
sangat tinggi termasuk maklum bila negara ini tidak maju-maju. Sikap
ini sangat berbahaya karena sama saja kita membiarkan bangsa dan
negara ini digerogoti pelan-pelan oleh anak bangsanya sendiri.
Kita semua harus berubah. Semuanya harus dimulai dari diri kita.
Usahakanlah menegur terhadap orang yang melanggar peraturan.
Tegurlah dengan cara yang baik sehingga orang tersebut dapat
memahami kekeliruannya.
Bila memang tidak bisa juga sikap tegas memang kadang diperlukan
untuk hal-hal seperti ini.
Suatu saat saya pernah menegur seorang asing yang secara sengaja
merokok di dalam ruangan berpendingin ruangan, yang secara jelas
pula terdapat larangan merokok. Orang asing itu tidak meminta maaf,
namun segera keluar untuk meneruskan merokoknya.
Sikap yang tidak sopan sebenarnya, namun yang penting saya sudah
berani mengungkapkan keberatan saya atas sikapnya yang tidak
mementingkan orang lain.
Saya rasa kita semua harus mulai melakukan hal-hal yang mampu
membuat orang lain sadar akan kekeliruannya. Mungkin kebaikan yang
kita perbuat ini bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk anak dan
cucu kita yang sedang tumbuh.
Kita tentunya tidak rela melihat anak dan cucu kita akan tumbuh
dalam iklim yang serba tidak pasti bukan? Bila kita tidak mau
melakukannya untuk diri kita sendiri, berpikirlah tentang anak dan
cucu kita sambil terus bertanya dalam hati Seandainya saya tidak
mulai melakukannya, lalu siapa lagi?
Sumber: Memaklumi Sampai Sebatas Apa? oleh Andri Suryadi, seorang Psikiater, Dosen Kesehatan Jiwa FK Ukrida
From:email
Selasa, 17 Februari 2009
Orang Buta Yang Bijak
Menjadi Orang Buta Yang Bijak
Teman, pernahkah engkau mendengar ataupun membaca mengenai sebuah kisah perumpamaan yang berjudul: ”Orang Buta dan Seekor Gajah”? Jika belum, berikut kisah perumpamaan tersebut.
Suatu ketika ada lima orang buta yang tidak pernah melihat gajah seumur hidup mereka. Mereka pergi ke perkemahan sirkus dan mereka dipertemukan dengan seekor gajah oleh pemilik sirkus tersebut. Pemilik sirkus tersebut mengatakan kepada kelima orang buta itu bahwa gajah ini adalah hewan yang lebih besar dan berat dari manusia.
Teman, dengan menggunakan tangan, kelima orang buta tersebut meraba gajah tersebut untuk mengetahui bentuk sebenarnya dari gajah itu. Orang buta pertama meraba belalai gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti selang yang besar!” Orang buta kedua meraba kaki gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti batang pohon besar!” Orang buta ketiga meraba kuping gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti daun kipas yang besar!” Kemudian, orang buta keempat meraba tubuh si gajah yang berbulu kasar itu dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti karung goni yang sangat besar sekali!” Dan terakhir, orang buta kelima memegang buntut si gajah dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti kabel besar yang ujungnya berambut!”
Dalam perjalanan pulang, kelima orang buta tersebut saling berdebat mengenai bentuk sesungguhnya dari seekor gajah. Masing-masing mempertahankan pendapatnya mengenai bentuk gajah yang mereka dapat dari meraba tubuh gajah tersebut, dan akhirnya bereka saling bertengkar satu sama yang lain.
Teman, kisah perumpamaan di atas memiliki makna bahwa adalah hal yang sia-sia belaka kita memperdebatkan sesuatu yang belum kita ketahui secara pasti. Kita hanya akan menjadi orang-orang buta yang bodoh.
Tapi teman, ada kisah perumpamaan lain yang hampir sama yaitu juga mengenai lima orang buta dan seekor gajah. Tetapi kali ini, ketika dalam perjalanan pulang setelah meraba bagian tubuh gajah, mereka berlima saling berdiskusi, bertukar pandangan mengenai bentuk gajah dari meraba tubuh gajah. Di akhir diskusi, mereka sepakat untuk kembali ke perkemahan sirkus untuk kembali meraba gajah tersebut. Tapi kali ini, mereka saling bertukar tempat untuk meraba seluruh bagian tubuh gajah. Kelima orang buta tersebut meraba bagian tubuh gajah yang pernah diraba oleh temannya. Dengan demikian kelima orang buta tersebut telah meraba seluruh tubuh gajah.
Setelah mereka meraba seluruh bagian tubuh gajah tersebut, mereka berdiskusi kembali. Dari hasil diskusi, mereka berkesimpulan bahwa ada tanda-tanda, ada ciri-ciri khas dari seekor gajah. Mereka juga akhirnya berpendapat bahwa pemilik sirkus tidaklah berbohong mengenai ciri-ciri gajah yang memiliki tubuh yang lebih besar dan berat dari manusia. Teman, meskipun kelima orang buta itu tidak melihat seperti apa bentuk gajah sesungguhnya, namun mereka memiliki pemikiran yang sama yang didapat dari tanda-tanda, ciri-ciri yang mereka dapat baik dari meraba dan juga dari perkataan pemilik sirkus tersebut.
Teman, dari kedua kisah perumpamaan di atas, apa yang dapat kita pelajari? Benar, jadikanlah diri kita menjadi orang buta yang cerdik, yang bijaksana, yang ”melihat” tanda-tanda, ciri-ciri, indikasi-indikasi dari kebenaran yang masih tersembunyi dari pandangan kita. Dengan demikian, kita dapat menjauhkan diri kita dari hal-hal buruk yang menanti kita yang juga akan menjauhkan kita dari kebenaran yang masih tersembunyi tersebut. Jika kita yang masih buta akan kebenaran yang tersembunyi ini tidak memiliki kecerdikan, kebijaksanaan, kita akan menjadi orang-orang buta yang bodoh yang dengan mudah dapat dipermainkan oleh orang lain yang nakal. Dan hanya dengan cahaya kebijaksanaan-lah maka kegelapan pada mata kita akan lenyap.
From:email
Teman, pernahkah engkau mendengar ataupun membaca mengenai sebuah kisah perumpamaan yang berjudul: ”Orang Buta dan Seekor Gajah”? Jika belum, berikut kisah perumpamaan tersebut.
Suatu ketika ada lima orang buta yang tidak pernah melihat gajah seumur hidup mereka. Mereka pergi ke perkemahan sirkus dan mereka dipertemukan dengan seekor gajah oleh pemilik sirkus tersebut. Pemilik sirkus tersebut mengatakan kepada kelima orang buta itu bahwa gajah ini adalah hewan yang lebih besar dan berat dari manusia.
Teman, dengan menggunakan tangan, kelima orang buta tersebut meraba gajah tersebut untuk mengetahui bentuk sebenarnya dari gajah itu. Orang buta pertama meraba belalai gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti selang yang besar!” Orang buta kedua meraba kaki gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti batang pohon besar!” Orang buta ketiga meraba kuping gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti daun kipas yang besar!” Kemudian, orang buta keempat meraba tubuh si gajah yang berbulu kasar itu dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti karung goni yang sangat besar sekali!” Dan terakhir, orang buta kelima memegang buntut si gajah dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti kabel besar yang ujungnya berambut!”
Dalam perjalanan pulang, kelima orang buta tersebut saling berdebat mengenai bentuk sesungguhnya dari seekor gajah. Masing-masing mempertahankan pendapatnya mengenai bentuk gajah yang mereka dapat dari meraba tubuh gajah tersebut, dan akhirnya bereka saling bertengkar satu sama yang lain.
Teman, kisah perumpamaan di atas memiliki makna bahwa adalah hal yang sia-sia belaka kita memperdebatkan sesuatu yang belum kita ketahui secara pasti. Kita hanya akan menjadi orang-orang buta yang bodoh.
Tapi teman, ada kisah perumpamaan lain yang hampir sama yaitu juga mengenai lima orang buta dan seekor gajah. Tetapi kali ini, ketika dalam perjalanan pulang setelah meraba bagian tubuh gajah, mereka berlima saling berdiskusi, bertukar pandangan mengenai bentuk gajah dari meraba tubuh gajah. Di akhir diskusi, mereka sepakat untuk kembali ke perkemahan sirkus untuk kembali meraba gajah tersebut. Tapi kali ini, mereka saling bertukar tempat untuk meraba seluruh bagian tubuh gajah. Kelima orang buta tersebut meraba bagian tubuh gajah yang pernah diraba oleh temannya. Dengan demikian kelima orang buta tersebut telah meraba seluruh tubuh gajah.
Setelah mereka meraba seluruh bagian tubuh gajah tersebut, mereka berdiskusi kembali. Dari hasil diskusi, mereka berkesimpulan bahwa ada tanda-tanda, ada ciri-ciri khas dari seekor gajah. Mereka juga akhirnya berpendapat bahwa pemilik sirkus tidaklah berbohong mengenai ciri-ciri gajah yang memiliki tubuh yang lebih besar dan berat dari manusia. Teman, meskipun kelima orang buta itu tidak melihat seperti apa bentuk gajah sesungguhnya, namun mereka memiliki pemikiran yang sama yang didapat dari tanda-tanda, ciri-ciri yang mereka dapat baik dari meraba dan juga dari perkataan pemilik sirkus tersebut.
Teman, dari kedua kisah perumpamaan di atas, apa yang dapat kita pelajari? Benar, jadikanlah diri kita menjadi orang buta yang cerdik, yang bijaksana, yang ”melihat” tanda-tanda, ciri-ciri, indikasi-indikasi dari kebenaran yang masih tersembunyi dari pandangan kita. Dengan demikian, kita dapat menjauhkan diri kita dari hal-hal buruk yang menanti kita yang juga akan menjauhkan kita dari kebenaran yang masih tersembunyi tersebut. Jika kita yang masih buta akan kebenaran yang tersembunyi ini tidak memiliki kecerdikan, kebijaksanaan, kita akan menjadi orang-orang buta yang bodoh yang dengan mudah dapat dipermainkan oleh orang lain yang nakal. Dan hanya dengan cahaya kebijaksanaan-lah maka kegelapan pada mata kita akan lenyap.
From:email
Jumat, 13 Februari 2009
Iman Tanpa Perbuatan Adalah Mati
Ringkasan khotbah 08.02.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Kedua Pebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI
Yakobus 2:17
Iman atau “Pistis=Yun”, adalah percaya atau mempercayakan secara khusus kedalam kekuasaan yang paling tinggi. Pemikiran pokok didalam Firman Allah adalah ketabahan dan kesetiaan. Orang bisa tabah dan setia, karena dia mempunyai keyakinan/iman atas janji-janji Firman Allah.
Seringkali kita mengatakan :”saya beriman”, “saya orang beriman”, tetapi pada saat menghadapi tantangan, disitulah baru kelihatan, apakah ia sungguh-sungguh beriman atau tidak. Memang seringkali mengatakan lebih gampang daripada melakukan. Iman sebenarnya jangan hanya diucapkan dimulut saja. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana bertindak berdasarkan iman yang saudara miliki.
Kita tidak dapat berkata:”Tuhan, saya ingin di pekarangan saya ada pohon mangga, rambutan, supaya saya dapat menikmati buahnya”. Lalu yang saudara lakukan, hanya berdoa demikian terus menerus minta Tuhan yang “tanam” pohon buah-buahan tersebut. Mana mungkin! Saudara harus bertindak untuk menanamnya, dengan satu keyakinan, bahwa Tuhan akan menolong menumbuhkan pohon-pohon tersebut supaya bertumbuh subur dan menghasilkan buah-buah yang lebat dan baik. – Yakobus 2:14,17,20,22. Jadi, apa yang saudara dapat lakukan, maka saudara harus lakukan/bertindak, dan apa yang saudara tidak dapat lakukan, maka Allah yang akan lakukan itu buat saudara. Kita harus lakukan apa yang kita dapat lakukan, dan Allah akan lakukan apa yang harus Allah lakukan – Roma 8:28.
Ada contoh yang baik dalam Alkitab tentang hal ini. Dalam kitab Keluaran 14:1-16 diceriterakan disana, sewaktu bangsa Israel keluar dari Mesir, maka Allah menuntun bangsa itu berputar melalui padang gurun menuju ke laut Teberau – Keluaran 13:17-18. pendek ceritera, ketika bangsa Israel telah berjalan keluar dari Mesir, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, lalu mereka mengejarnya. Ketika orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir sedang mengejar mereka. Maka ketakutanlah orang Israel. Mereka mulai memarahi Musa. Tetapi Musa berkata :” Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, ……..TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Keluaran 14:13-14. Musa berkata, kamu jangan takut, berdirilah dan lihatlah TUHAN yang berperang untuk kamu dan kamu akan diam saja. Artinya kamu bangsa Israel biarkanlah TUHAN saja yang berperang dan kamu hanya berdiri, lihat dan diam.
Lalu datang firman TUHAN kepada Musa :” Mengapa engkau berseru-seru demikian kepadaKu? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya……” – Kel. 14:15. Disini kita melihat, bahwa Tuhan tidak mau kita hanya berseru-seru saja, tetapi Dia mau supaya kita bertindak juga dengan iman yang sudah ada di dalam kita. Ada saatnya berdoa, juga ada saatnya bertindak. Seringkali kita juga berada pada suatu keadaan dimana kita tidak dapat berbuat apa-apa, mundur ada musuh, kiri dan kanan terbentang padang terbuka, maju ada laut Teberau/masalah. Tetapi saudara-saudaraku, ingat kisah ini. Jangan terperangkap dengan keadaan sekalipun itu menakutkan. Sebaliknya, bangkitkan iman saudara dengan ingat pada Firman Allah, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita, dan pada kita telah diberikan kuasa/tongkat untuk menginjak ular dan kalajengking serta kuasa untuk menahan kekuatan musuh……- Lukas 10:19, lalu berjalanlah terus dalam perjalanan hidup ini, dan saudara akan melihat bagaimana pertolongan Tuhan yang ajaib akan menopang, melindungi dan membawa saudara didalam kemenangan-Nya yang luar biasa. Oleh karena itu, jagalah iman yang sudah ada, jangan sampai menyimpang. Amin!
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Kedua Pebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI
Yakobus 2:17
Iman atau “Pistis=Yun”, adalah percaya atau mempercayakan secara khusus kedalam kekuasaan yang paling tinggi. Pemikiran pokok didalam Firman Allah adalah ketabahan dan kesetiaan. Orang bisa tabah dan setia, karena dia mempunyai keyakinan/iman atas janji-janji Firman Allah.
Seringkali kita mengatakan :”saya beriman”, “saya orang beriman”, tetapi pada saat menghadapi tantangan, disitulah baru kelihatan, apakah ia sungguh-sungguh beriman atau tidak. Memang seringkali mengatakan lebih gampang daripada melakukan. Iman sebenarnya jangan hanya diucapkan dimulut saja. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana bertindak berdasarkan iman yang saudara miliki.
Kita tidak dapat berkata:”Tuhan, saya ingin di pekarangan saya ada pohon mangga, rambutan, supaya saya dapat menikmati buahnya”. Lalu yang saudara lakukan, hanya berdoa demikian terus menerus minta Tuhan yang “tanam” pohon buah-buahan tersebut. Mana mungkin! Saudara harus bertindak untuk menanamnya, dengan satu keyakinan, bahwa Tuhan akan menolong menumbuhkan pohon-pohon tersebut supaya bertumbuh subur dan menghasilkan buah-buah yang lebat dan baik. – Yakobus 2:14,17,20,22. Jadi, apa yang saudara dapat lakukan, maka saudara harus lakukan/bertindak, dan apa yang saudara tidak dapat lakukan, maka Allah yang akan lakukan itu buat saudara. Kita harus lakukan apa yang kita dapat lakukan, dan Allah akan lakukan apa yang harus Allah lakukan – Roma 8:28.
Ada contoh yang baik dalam Alkitab tentang hal ini. Dalam kitab Keluaran 14:1-16 diceriterakan disana, sewaktu bangsa Israel keluar dari Mesir, maka Allah menuntun bangsa itu berputar melalui padang gurun menuju ke laut Teberau – Keluaran 13:17-18. pendek ceritera, ketika bangsa Israel telah berjalan keluar dari Mesir, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, lalu mereka mengejarnya. Ketika orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir sedang mengejar mereka. Maka ketakutanlah orang Israel. Mereka mulai memarahi Musa. Tetapi Musa berkata :” Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, ……..TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Keluaran 14:13-14. Musa berkata, kamu jangan takut, berdirilah dan lihatlah TUHAN yang berperang untuk kamu dan kamu akan diam saja. Artinya kamu bangsa Israel biarkanlah TUHAN saja yang berperang dan kamu hanya berdiri, lihat dan diam.
Lalu datang firman TUHAN kepada Musa :” Mengapa engkau berseru-seru demikian kepadaKu? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya……” – Kel. 14:15. Disini kita melihat, bahwa Tuhan tidak mau kita hanya berseru-seru saja, tetapi Dia mau supaya kita bertindak juga dengan iman yang sudah ada di dalam kita. Ada saatnya berdoa, juga ada saatnya bertindak. Seringkali kita juga berada pada suatu keadaan dimana kita tidak dapat berbuat apa-apa, mundur ada musuh, kiri dan kanan terbentang padang terbuka, maju ada laut Teberau/masalah. Tetapi saudara-saudaraku, ingat kisah ini. Jangan terperangkap dengan keadaan sekalipun itu menakutkan. Sebaliknya, bangkitkan iman saudara dengan ingat pada Firman Allah, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita, dan pada kita telah diberikan kuasa/tongkat untuk menginjak ular dan kalajengking serta kuasa untuk menahan kekuatan musuh……- Lukas 10:19, lalu berjalanlah terus dalam perjalanan hidup ini, dan saudara akan melihat bagaimana pertolongan Tuhan yang ajaib akan menopang, melindungi dan membawa saudara didalam kemenangan-Nya yang luar biasa. Oleh karena itu, jagalah iman yang sudah ada, jangan sampai menyimpang. Amin!
Kamis, 12 Februari 2009
Hati yang Sempurna
Hati yang Sempurna
Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah
yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu
sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah.
Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata "Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku?". Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ; namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu
tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah?
Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa "Anda pasti bercanda, pak tua", katanya, "bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan". "Ya", kata pak tua itu, "hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan. Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya. Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan - - memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang itu,
dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu.
Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu ?"
Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, dan merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir ke dalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.
Si Tou Timou Tumou Tou (kita hidup untuk menghidupkan orang lain) - DR G.S.S.J Ratulangi
(Pahlawan nasional dari Manado - Sulawesi Utara)
Karena hidup bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani - GBU
from:email
Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah
yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu
sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah.
Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata "Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku?". Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ; namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu
tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah?
Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa "Anda pasti bercanda, pak tua", katanya, "bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan". "Ya", kata pak tua itu, "hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan. Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya. Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan - - memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang itu,
dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu.
Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu ?"
Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, dan merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir ke dalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.
Si Tou Timou Tumou Tou (kita hidup untuk menghidupkan orang lain) - DR G.S.S.J Ratulangi
(Pahlawan nasional dari Manado - Sulawesi Utara)
Karena hidup bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani - GBU
from:email
Robohkan Tembok Itu Dengan Cara Allah
Ringkasan khotbah 01.02.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu PertamaPebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
ROBOHKAN TEMBOK ITU DENGAN CARA ALLAH
Yosua 6:1-20
Perjalanan hidup manusia tidak terlepas dari berbagai macam persoalan. Ibarat perjalanan Yosua dan bangsa Israel menuju tanah Kanaan. Dalam perjalanan tersebut, Yosua dan rombongan harus melewati sebuah kota dengan temboknya yang berkubu yang mengelilingi kota itu. Tujuan perjalanan tersebut adalah menuju tanah perjanjian, yang dijanjikan Allah kepada Abraham Ishak dan Yakub. Tetapi ditengah perjalanan mereka berhadapan dengan sebuah “penghalang”, yaitu kota Yerikho dengan tembok yang mengelilinginya. Untuk supaya mereka dapat berjalan terus, kota ini harus ditaklukkan, dan untuk dapat menaklukkan kota ini, maka temboknya harus dirobohkan terlebih dahulu. Tetapi sebelum daripada itu, mereka harus menyeberangi sungai Yordan!
Demikian pula perjalanan saudara dan saya di dalam dunia ini. Banyak kita temui penghalang demi penghalang, bagaikan tembok-tembok Yerikho, yang kokoh dan kuat menghalangi perjalanan hidup kita. Tuhan juga menjanjikan Tanah Perjanjian bagi saudara dan saya, yaitu Yerusalem Baru, Surga yang mulia, tetapi kita harus berusaha berjalan terus bersama kekuatan dari Tuhan hingga tiba disana.
Yosua percaya, negeri itu telah diberikan Tuhan kepada mereka, bangsa Israel. Dan dia percaya juga, bahwa perjalanan mereka ini akan disertai Tuhan sesuai dengan firman-Nya dalam Yosua 1:2-9. Dan tidak ada “tembok” apapun yang dapat menghadang perjalanan mereka. Dan akhirnya, kita semua tahu kisah ini, tembok itu roboh dan mereka menguasai kota Yerikho dan meneruskan perjalanan mereka menuju tanah Perjanjian.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, langkah-langkah apa yang ditempuh Yosua, sehingga mengakibatkan tembok Yerikho itu roboh? Ya, benar! Mereka mengelilingi tembok itu berulang-ulang selama tujuh hari dengan cara-Nya Tuhan – Yosua 6:1-20. Tetapi yang membuat mereka menerima petunjuk Tuhan untuk melakukan hal itu, adalah: pertama, sebelum Yosua memasuki Yerikho, “ia melayangkan pandangannya” – Yosua 5:13. Yosua mempunyai satu pandangan yang positip ke arah Yerikho. Dalam visinya ia melihat ada kemenangan dibalik tembok tersebut. Visinya adalah visi yang positip. Ia tidak menganggap tembok itu sebagai suatu masalah yang menghalangi perjalanannya. Ia tahu Allah telah memberikan kota itu kepada bangsanya. Dan Tuhan menyertai mereka sesuai dengan Firman-Nya – Yosua 6:2. Didalam Ibrani 11:7 dikatakan “…..dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan……” itulah visi. Didalam visi ada keyakinan/iman dan pengharapan. Oleh sebab itu, janganlah melihat setiap problem sebagai suatu penghalang. Sebab dibalik setiap masalah pasti ada pelajaran-pelajaran penting tentang kehidupan yang sedang Tuhan ijinkan kita belajar. Maka dari itu, bersyukurlah selalu dalam segala hal! Berikutnya dalam Yosua 5:14 “…lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah….”. Haruslah hidupkan terus kehidupan doa di dalam sujud dan menyembah kepada Tuhan. Menghadapi persoalan, janganlah berhenti berdoa. Pereratlah hubungan kita dengan Tuhan melalui doa. Di dalam doa Tuhan dapat memberikan petunjuk-petunjuk-Nya, seperti di dalam ayat ini. Segera sesudah itu, pada Yosua 5:15 “….tanggalkanlah kasut…..”. Rendahkanlah diri dengan menghormati Tuhan. 1 Petrus 5:6 “ Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Setelah Yosua melakukan hal-hal ini, lalu Tuhan memberikan petunjuk lebih lanjut, bagaimana merobohkan tembok Yerikho itu. Dan melalui petunjuk tersebut, tembok itu roboh, Yerikho direbut, Yosua dan bangsanya memperoleh kemenangan.
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu PertamaPebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
ROBOHKAN TEMBOK ITU DENGAN CARA ALLAH
Yosua 6:1-20
Perjalanan hidup manusia tidak terlepas dari berbagai macam persoalan. Ibarat perjalanan Yosua dan bangsa Israel menuju tanah Kanaan. Dalam perjalanan tersebut, Yosua dan rombongan harus melewati sebuah kota dengan temboknya yang berkubu yang mengelilingi kota itu. Tujuan perjalanan tersebut adalah menuju tanah perjanjian, yang dijanjikan Allah kepada Abraham Ishak dan Yakub. Tetapi ditengah perjalanan mereka berhadapan dengan sebuah “penghalang”, yaitu kota Yerikho dengan tembok yang mengelilinginya. Untuk supaya mereka dapat berjalan terus, kota ini harus ditaklukkan, dan untuk dapat menaklukkan kota ini, maka temboknya harus dirobohkan terlebih dahulu. Tetapi sebelum daripada itu, mereka harus menyeberangi sungai Yordan!
Demikian pula perjalanan saudara dan saya di dalam dunia ini. Banyak kita temui penghalang demi penghalang, bagaikan tembok-tembok Yerikho, yang kokoh dan kuat menghalangi perjalanan hidup kita. Tuhan juga menjanjikan Tanah Perjanjian bagi saudara dan saya, yaitu Yerusalem Baru, Surga yang mulia, tetapi kita harus berusaha berjalan terus bersama kekuatan dari Tuhan hingga tiba disana.
Yosua percaya, negeri itu telah diberikan Tuhan kepada mereka, bangsa Israel. Dan dia percaya juga, bahwa perjalanan mereka ini akan disertai Tuhan sesuai dengan firman-Nya dalam Yosua 1:2-9. Dan tidak ada “tembok” apapun yang dapat menghadang perjalanan mereka. Dan akhirnya, kita semua tahu kisah ini, tembok itu roboh dan mereka menguasai kota Yerikho dan meneruskan perjalanan mereka menuju tanah Perjanjian.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, langkah-langkah apa yang ditempuh Yosua, sehingga mengakibatkan tembok Yerikho itu roboh? Ya, benar! Mereka mengelilingi tembok itu berulang-ulang selama tujuh hari dengan cara-Nya Tuhan – Yosua 6:1-20. Tetapi yang membuat mereka menerima petunjuk Tuhan untuk melakukan hal itu, adalah: pertama, sebelum Yosua memasuki Yerikho, “ia melayangkan pandangannya” – Yosua 5:13. Yosua mempunyai satu pandangan yang positip ke arah Yerikho. Dalam visinya ia melihat ada kemenangan dibalik tembok tersebut. Visinya adalah visi yang positip. Ia tidak menganggap tembok itu sebagai suatu masalah yang menghalangi perjalanannya. Ia tahu Allah telah memberikan kota itu kepada bangsanya. Dan Tuhan menyertai mereka sesuai dengan Firman-Nya – Yosua 6:2. Didalam Ibrani 11:7 dikatakan “…..dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan……” itulah visi. Didalam visi ada keyakinan/iman dan pengharapan. Oleh sebab itu, janganlah melihat setiap problem sebagai suatu penghalang. Sebab dibalik setiap masalah pasti ada pelajaran-pelajaran penting tentang kehidupan yang sedang Tuhan ijinkan kita belajar. Maka dari itu, bersyukurlah selalu dalam segala hal! Berikutnya dalam Yosua 5:14 “…lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah….”. Haruslah hidupkan terus kehidupan doa di dalam sujud dan menyembah kepada Tuhan. Menghadapi persoalan, janganlah berhenti berdoa. Pereratlah hubungan kita dengan Tuhan melalui doa. Di dalam doa Tuhan dapat memberikan petunjuk-petunjuk-Nya, seperti di dalam ayat ini. Segera sesudah itu, pada Yosua 5:15 “….tanggalkanlah kasut…..”. Rendahkanlah diri dengan menghormati Tuhan. 1 Petrus 5:6 “ Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Setelah Yosua melakukan hal-hal ini, lalu Tuhan memberikan petunjuk lebih lanjut, bagaimana merobohkan tembok Yerikho itu. Dan melalui petunjuk tersebut, tembok itu roboh, Yerikho direbut, Yosua dan bangsanya memperoleh kemenangan.
Langganan:
Postingan (Atom)
