The brand new pastor and his wife, newly assigned
to their first ministry, to reopen a church
in suburban Brooklyn , arrived in early October
excited about their opportunities When they saw
their church, it was very run down and needed
much work. They set a goal to have everything
done in time to have their first service
on Christmas Eve.
T hey worked hard, repairing pews, plastering walls,
painting, etc, and on December 18
were ahead of schedule and just about finished.
O n December 19 a terrible tempest - a driving
rainstorm hit the area and lasted for two days.
O n the 21st, the pastor went over to the church.
His heart sank when he saw that the roof had
leaked, causing a large area of plaster about
20 feet by 8 feet to fall off the front wall of the
sanctuary just behind the pulpit, beginning about
head high.
T he pastor cleaned up the mess on the floor,
and not knowing what else to do but postpone
the Christmas Eve service, headed home.
On the way he noticed that a local business was
having a flea market type sale for charity so he
stopped in. One of the items was a beautiful,
handmade, ivory colored, crocheted tablecloth
with exquisite work, fine colors and a Cross
embroidered right in the center. It was just
the right size to cover up the hole in the front
wall. He bought it and headed back to the church.
B y this time it had started to snow. An older
woman running from the opposite direction was
trying to catch the bus.. She missed it. The pastor
invited her to wait in the warm church for
the next bus 45 minutes later.
She sat in a pew and paid no attention to the pastor
while he got a ladder, hangers, etc., to put
up the tablecloth as a wall tapestry. The pastor
could hardly believe how beautiful it looked and
it covered up the entire problem area.
T hen he noticed the woman walking down the center
aisle. Her face was like a sheet.. "Pastor,"
she asked, "where did you get that tablecloth?"
The pastor explained. The woman asked him to check
the lower right corner to see if the initials, EBG were crocheted into
it there. They were. These were the initials of the woman, and she had
made this tablecloth 35 years before, in Austria
T he woman could hardly believe it as the pastor
told how he had just gotten the Tablecloth. The
woman explained that before the war she and
her husband were well-to-do people in Austria .
When the Nazis came, she was forced to leave.
Her husband was going to follow her the next week.
He was captured, sent to prison and never saw her
husband or her home again.
T he pastor wanted to give her the tablecloth;
but she made the pastor keep it for the church.
The pastor insisted on driving her home, that
was the least he could do.. She lived on the other
side of Staten Island and was only in Brooklyn
for the day for a housecleaning job.
W hat a wonderful service they had on Christmas
Eve. The church was almost full. The music and the
spirit were great. At the end of the service, the
pastor and his wife greeted everyone at the door
and many said that they would return.
One older man, whom the pastor recognized
from the neighborhood continued to sit in one of the
pews and stare, and the pastor wondered why he
wasn't leaving.
The man asked him where he got the tablecloth on
the front wall because it was identical to one
that his wife had made years ago when
they lived in Austria before the war and how
could there be two tablecloths so much alike.
H e told the pastor how the Nazis came, how he
forced his wife to flee for her safety and he was
supposed to follow her, but he was arrested and
put in a prison.. He never saw his wife or his home
again all the 35 years in between.
T he pastor asked him if he would allow him to
take him for a little ride. They drove to Staten
Island and to the same house where the pastor
had taken the woman three days earlier.
H e helped the man climb the three flights of
stairs to the woman's apartment, knocked on
the door and he saw the greatest Christmas
reunion he could ever imagine.
T rue Story - submitted by Pastor Rob Reid
Sometimes we hit the bottom down of life, and we scream and cursed everything for all the bad things happen to us. But there's nothing that happen for no reason. Life it self is a big mystery that cant be explain with thoughts.
so if bad things happen to u, just say grace n u'll see that it did happen for a reason.
From:email
Senin, 23 Februari 2009
Jumat, 20 Februari 2009
Menjadi Pribadi Yang Disukai
Menjadi Pribadi yang Disukai
Kata kunci yang harus diperhatikan dalam berhubungan dengan orang lain adalah harga diri. Begitu pentingnya harga diri, sehingga tidak sedikit orang yang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan harga dirinya. Untuk menjadi pribadi yang disukai, harus terus belajar memuaskan harga diri orang lain. Karena dengan harga diri yang terpuaskan, orang bisa menjadi lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih bersahabat.
1.ROYALAH DALAM MEMBERI PUJIAN
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkan rasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau Anda selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, Anda berada pada posisi yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar untuk selalu melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu pujilah dengan tulus.
2.BUATLAH ORANG LAIN MERASA DIRINYA SEBAGAI ORANG PENTING
Tunjukkanlah dengan sikap dan ucapan bahwa anda menganggap orang lain itu penting. Misalnya, jangan biarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakanlah maaf bila salah, tepatilah janji, dsb.
3.JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Kalau bicara itu perak dan diam itu emas, maka pendengar yang baik lebih mulia dari keduanya. Pendengar yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh semua orang. Berilah kesempatan kepada orang lain untuk bicara, ajukan pertanyaan dan buat dia bergairah untuk terus bicara. Dengarkanlah dengan antusias, dan jangan menilai atau menasehatinya bila tidak diminta.
4.USAHAKANLAH UNTUK SELALU MENYEBUTKAN NAMA ORANG DENGAN BENAR
Nama adalah milik berharga yang bersifat sangat pribadi. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut secara salah atau sembarangan. Kalau ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan dan menulis namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu ditulisnya William, atau Wilhem? Sementara bicara, sebutlah namanya sesering mungkin. Menyebut Andre lebih baik dibandingkan Anda. Pak Peter lebih enak kedengarannya daripada sekedar Bapak.
5.BERSIKAPLAH RAMAH
Semua orang senang bila diperlakukan dengan ramah. Keramahan membuat orang lain merasa diterima dan dihargai. Keramahan membuat orang merasa betah berada di dekat Anda.
6.BERMURAH HATILAH
Anda tidak akan menjadi miskin karena memberi dan tidak akan kekurangan karena berbagi. Seorang yang sangat bijak pernah menulis, Orang yang murah hati berbuat baik kepada dirinya sendiri. Dengan demikian kemurahan hati disatu sisi baik buat Anda, dan disisi lain berguna bagi orang lain.
7.HINDARI KEBIASAAN MENGKRITIK, MENCELA ATAU MENGANGGAP REMEH
Umumnya orang tidak suka bila kelemahannya diketahui oleh orang lain, apalagi dipermalukan. Semua itu menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang mempertahankan diri dengan sikap yang tidak bersahabat.
8.BERSIKAPLAH ASERTIF
Orang yang disukai bukanlah orang yang selalu berkata Ya, tetapi orang yang bisa berkata Tidak bila diperlukan. Sewaktu-waktu bisa saja prinsip atau pendapat Anda berseberangan dengan orang lain. Anda tidak harus menyesuaikan diri atau memaksakan mereka menyesuaikan diri dengan Anda. Jangan takut untuk berbeda dengan orang lain. Yang penting perbedaan itu tidak menimbulkan konflik, tapi menimbulkan sikap saling pengertian. Sikap asertif selalu lebih dihargai dibanndingkan sikap Yesman.
9.PERBUATLAH APA YANG ANDA INGIN ORANG LAIN PERBUAT KEPADA ANDA
Perlakuan apapun yang anda inginkan dari orang lain yang dapat menyukakan hati, itulah yang harus anda lakukuan terlebih dahulu. Anda harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Misalnya, bila ingin diperhatikan, mulailah memberi perhatian. Bila ingin dihargai, mulailah menghargai orang lain.
10.CINTAILAH DIRI SENDIRI
Mencintai diri sendiri berarti menerima diri apa adanya, menyukai dan melakukan apapun yang terbaik untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan egois yang berarti mementingkan diri sendiri atau egosentris yang berarti berpusat kepada diri sendiri. Semakin Anda menyukai diri sendiri, semakin mudah Anda menyukai orang lain, maka semakin besar peluang Anda untuk disukai orang lain. Dengan menerima dan menyukai diri sendiri, Anda akan mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, menerima mereka dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, bekerjasama dengan mereka dan menyukai mereka. Pada saat yang sama tanpa disadari Anda memancarkan pesona pribadi yang bisa membuat orang lain menyukai Anda.
From:email
Kata kunci yang harus diperhatikan dalam berhubungan dengan orang lain adalah harga diri. Begitu pentingnya harga diri, sehingga tidak sedikit orang yang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan harga dirinya. Untuk menjadi pribadi yang disukai, harus terus belajar memuaskan harga diri orang lain. Karena dengan harga diri yang terpuaskan, orang bisa menjadi lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih bersahabat.
1.ROYALAH DALAM MEMBERI PUJIAN
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkan rasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau Anda selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, Anda berada pada posisi yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar untuk selalu melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu pujilah dengan tulus.
2.BUATLAH ORANG LAIN MERASA DIRINYA SEBAGAI ORANG PENTING
Tunjukkanlah dengan sikap dan ucapan bahwa anda menganggap orang lain itu penting. Misalnya, jangan biarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakanlah maaf bila salah, tepatilah janji, dsb.
3.JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Kalau bicara itu perak dan diam itu emas, maka pendengar yang baik lebih mulia dari keduanya. Pendengar yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh semua orang. Berilah kesempatan kepada orang lain untuk bicara, ajukan pertanyaan dan buat dia bergairah untuk terus bicara. Dengarkanlah dengan antusias, dan jangan menilai atau menasehatinya bila tidak diminta.
4.USAHAKANLAH UNTUK SELALU MENYEBUTKAN NAMA ORANG DENGAN BENAR
Nama adalah milik berharga yang bersifat sangat pribadi. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut secara salah atau sembarangan. Kalau ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan dan menulis namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu ditulisnya William, atau Wilhem? Sementara bicara, sebutlah namanya sesering mungkin. Menyebut Andre lebih baik dibandingkan Anda. Pak Peter lebih enak kedengarannya daripada sekedar Bapak.
5.BERSIKAPLAH RAMAH
Semua orang senang bila diperlakukan dengan ramah. Keramahan membuat orang lain merasa diterima dan dihargai. Keramahan membuat orang merasa betah berada di dekat Anda.
6.BERMURAH HATILAH
Anda tidak akan menjadi miskin karena memberi dan tidak akan kekurangan karena berbagi. Seorang yang sangat bijak pernah menulis, Orang yang murah hati berbuat baik kepada dirinya sendiri. Dengan demikian kemurahan hati disatu sisi baik buat Anda, dan disisi lain berguna bagi orang lain.
7.HINDARI KEBIASAAN MENGKRITIK, MENCELA ATAU MENGANGGAP REMEH
Umumnya orang tidak suka bila kelemahannya diketahui oleh orang lain, apalagi dipermalukan. Semua itu menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang mempertahankan diri dengan sikap yang tidak bersahabat.
8.BERSIKAPLAH ASERTIF
Orang yang disukai bukanlah orang yang selalu berkata Ya, tetapi orang yang bisa berkata Tidak bila diperlukan. Sewaktu-waktu bisa saja prinsip atau pendapat Anda berseberangan dengan orang lain. Anda tidak harus menyesuaikan diri atau memaksakan mereka menyesuaikan diri dengan Anda. Jangan takut untuk berbeda dengan orang lain. Yang penting perbedaan itu tidak menimbulkan konflik, tapi menimbulkan sikap saling pengertian. Sikap asertif selalu lebih dihargai dibanndingkan sikap Yesman.
9.PERBUATLAH APA YANG ANDA INGIN ORANG LAIN PERBUAT KEPADA ANDA
Perlakuan apapun yang anda inginkan dari orang lain yang dapat menyukakan hati, itulah yang harus anda lakukuan terlebih dahulu. Anda harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Misalnya, bila ingin diperhatikan, mulailah memberi perhatian. Bila ingin dihargai, mulailah menghargai orang lain.
10.CINTAILAH DIRI SENDIRI
Mencintai diri sendiri berarti menerima diri apa adanya, menyukai dan melakukan apapun yang terbaik untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan egois yang berarti mementingkan diri sendiri atau egosentris yang berarti berpusat kepada diri sendiri. Semakin Anda menyukai diri sendiri, semakin mudah Anda menyukai orang lain, maka semakin besar peluang Anda untuk disukai orang lain. Dengan menerima dan menyukai diri sendiri, Anda akan mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, menerima mereka dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, bekerjasama dengan mereka dan menyukai mereka. Pada saat yang sama tanpa disadari Anda memancarkan pesona pribadi yang bisa membuat orang lain menyukai Anda.
From:email
Kamis, 19 Februari 2009
Kegelapan Yang Paling Gelap 10
Kegelapan Yang Paling Gelap 10
Oleh: Pdt. A.H. Mandey
Bayangkan Matius 22 orang datang tau-tau dibuang, mereka disebut orang beriman. Tapi tidak mencapai iman yang sepenuhnya. Nah, saudara-saudara, lalu datang contoh yang ke dua. Orang yang tidak memakai pakaian pesta. Dia juga dibuang. Masuk dalam masa aniaya besar. Karena apa? Tidak mempunyai kebenaran. Perbuatan kebenaran.
Kita lihat dalam Matius 25, tentang talenta yang berkembang, ya bertunas. Itu berbicara dari hal Roh Kudus. Jadi tiga hal yang menentukan kita masuk atau tidak masuk dalam masa aniaya besar. Tiga hal pertama, soal iman - Matius 8. Soal iman. Iman yang bagaimanakah ada pada kita? Memang kalau kita mempunyai iman sebesar biji sesawi, kita sudah berkuasa. Kalau saja kita percaya dengan hati dan mengaku dengan mulut, kitapun selamat. Begitu saja. Yohanes 3:16:"karena demikian Allah mengasihi dunia ini...." Percaya. Iman perlu sekali, tetapi iman yang bagaimana? Kalau sekarang ada ajaran yang mengatakan, pokoknya orang itu percaya, semua diangkat, tidak ada ketinggalan orang percaya dibumi ini. Alkitab tidak mengajarkan demikian itu ada.
Contoh yang kedua tentang pakaian. Bicara dari hal perbuatan, kebenaran kita. Tidak ada itupun dibuang. Dan yang ketiga tadi, tentang talenta. Talentapun kita harus liat. Harus dapat berkembang. Kembangkan talenta yang ada pada kita, kerjakanlah itu agar mendapatkan keuntungan bagi kerajaan Allah. Sangat perlu sekali kita mempunyai urapan Roh Kudus.
Jadi tiga hal yang menentukan orang masuk dalam 3.5 tahun aniaya atau tidak masuk 3.5 tahun aniaya, ada kriterianya. Pertama: kalau kita punyai iman, kedua mempunyai perbuatan iman. Apa gunanya kita percaya kita tidak mempunyai perbuatan iman. Yakobus berkata: mati. Dan ketiga: berbuah banyak itu berbicara tentang urapan Roh Kudus. Dan seakrang kita lihat, tadi Matius 8 berbicara dari hal iman; Matius 22 berbicara dari jal perbuatan/kebenaran; dan yang ketiga kita membaca kita sudah melihat ini menunjuk kepada arti urapan Roh Kudus. Urapan.
Coba kita bandingkan sekarang dengan buku Wahyu 3:17-18:"Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena Engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli daripadaKu emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat". Tiga hal yang dikemukakan disini, yaitu "belilah daripadaKu emas yang telah dimurnikan dalam api", ini berbicara dari hal apakah? Coba baca 1 Petrus 1:7:"Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu - yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas fana, yang diuji kemurniannya dengan api - sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya."
Jadi saudara-saudara dia berbicara dari hal apakah disini? Dari hal iman. "Kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas fana." Nah, emas yang dimurnikan dengan api. Ini berbicara dari hal iman kita. Dalam surat Petrus, juga bicara tentang iman kita yang diuji dengan api. Jadi imanlah yang harus disucikan dengan api. Nah, dalam buku Wahyu dikatakan:"belilah dari padaKu emas yang dimurnikan dengan api", jadi emas murni oleh api. Iman murni oleh api pencobaan. Begitu dalam surat Petrus.
Oleh: Pdt. A.H. Mandey
Bayangkan Matius 22 orang datang tau-tau dibuang, mereka disebut orang beriman. Tapi tidak mencapai iman yang sepenuhnya. Nah, saudara-saudara, lalu datang contoh yang ke dua. Orang yang tidak memakai pakaian pesta. Dia juga dibuang. Masuk dalam masa aniaya besar. Karena apa? Tidak mempunyai kebenaran. Perbuatan kebenaran.
Kita lihat dalam Matius 25, tentang talenta yang berkembang, ya bertunas. Itu berbicara dari hal Roh Kudus. Jadi tiga hal yang menentukan kita masuk atau tidak masuk dalam masa aniaya besar. Tiga hal pertama, soal iman - Matius 8. Soal iman. Iman yang bagaimanakah ada pada kita? Memang kalau kita mempunyai iman sebesar biji sesawi, kita sudah berkuasa. Kalau saja kita percaya dengan hati dan mengaku dengan mulut, kitapun selamat. Begitu saja. Yohanes 3:16:"karena demikian Allah mengasihi dunia ini...." Percaya. Iman perlu sekali, tetapi iman yang bagaimana? Kalau sekarang ada ajaran yang mengatakan, pokoknya orang itu percaya, semua diangkat, tidak ada ketinggalan orang percaya dibumi ini. Alkitab tidak mengajarkan demikian itu ada.
Contoh yang kedua tentang pakaian. Bicara dari hal perbuatan, kebenaran kita. Tidak ada itupun dibuang. Dan yang ketiga tadi, tentang talenta. Talentapun kita harus liat. Harus dapat berkembang. Kembangkan talenta yang ada pada kita, kerjakanlah itu agar mendapatkan keuntungan bagi kerajaan Allah. Sangat perlu sekali kita mempunyai urapan Roh Kudus.
Jadi tiga hal yang menentukan orang masuk dalam 3.5 tahun aniaya atau tidak masuk 3.5 tahun aniaya, ada kriterianya. Pertama: kalau kita punyai iman, kedua mempunyai perbuatan iman. Apa gunanya kita percaya kita tidak mempunyai perbuatan iman. Yakobus berkata: mati. Dan ketiga: berbuah banyak itu berbicara tentang urapan Roh Kudus. Dan seakrang kita lihat, tadi Matius 8 berbicara dari hal iman; Matius 22 berbicara dari jal perbuatan/kebenaran; dan yang ketiga kita membaca kita sudah melihat ini menunjuk kepada arti urapan Roh Kudus. Urapan.
Coba kita bandingkan sekarang dengan buku Wahyu 3:17-18:"Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena Engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli daripadaKu emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat". Tiga hal yang dikemukakan disini, yaitu "belilah daripadaKu emas yang telah dimurnikan dalam api", ini berbicara dari hal apakah? Coba baca 1 Petrus 1:7:"Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu - yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas fana, yang diuji kemurniannya dengan api - sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya."
Jadi saudara-saudara dia berbicara dari hal apakah disini? Dari hal iman. "Kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas fana." Nah, emas yang dimurnikan dengan api. Ini berbicara dari hal iman kita. Dalam surat Petrus, juga bicara tentang iman kita yang diuji dengan api. Jadi imanlah yang harus disucikan dengan api. Nah, dalam buku Wahyu dikatakan:"belilah dari padaKu emas yang dimurnikan dengan api", jadi emas murni oleh api. Iman murni oleh api pencobaan. Begitu dalam surat Petrus.
Hidup Sederhana
Hidup Sederhana Sangat Menguntungkan
"In character, in manner, in style, in all things, the supreme
exellence is simplicity. – Dalam karakter, sikap, gaya, dalam segala
hal, kesederhanaan adalah hal yang terindah."
~Henry Wadsworth Longfellow~
Hidup sederhana sangat menyenangkan. Terlebih dalam kehidupan modern
dimana kita tak pernah dapat lepas dari banyak sekali pilihan dan
jalan sekaligus kesulitan. Berusaha hidup sesederhana mungkin akan
sangat membantu kita menemukan banyak keuntungan dan hidup lebih baik
meskipun kita harus dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi global
seperti saat ini.
Selain itu, hidup sederhana akan membuat kita lebih menikmati apa yang
ada saat ini, karena tidak terlalu khawatir akan masa depan atau opini
negatif orang lain. Sebagaimana Sir Chinmoy mengatakan, "Simplicity is
our natural or conscious awareness of reality. – Kesederhanaan adalah
kesadaran alamiah akan kenyataan diri kita sendiri." Kesadaran
tersebut akan membantu kita lebih fokus pada potensi diri sendiri dan
semangat untuk lebih giat berusaha, tak hanya berangan-angan atau
meratapi kegagalan masa lalu. Dengan demikian, kita dapat meraih
harapan lebih cepat dan lebih banyak dari yang diinginkan.
Kesederhanaan dalam hidup semua berawal dari pikiran. Hidup sederhana
sama artinya dengan terus belajar menjernihkan pikiran dan tidak
membiarkan diri kita dikuasai oleh pemikiran-pemikiran negatif. Dengan
kata lain, kesederhanaan membuat kita menemukan ketenangan pikiran.
Kemauan untuk selalu hidup sesederhana mungkin dapat menumbuhkan
kreatifitas. Cobalah bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang
dapat Anda lakukan dengan apa yang Anda miliki? Pertanyaan tersebut
akan mendorong Anda untuk memutar otak guna memecahkan suatu masalah
dengan memanfaatkan apa yang sudah Anda miliki, daripada mencoba untuk
'membeli' solusi yang berarti pengeluaran uang lagi.
Keuntungan lain dari hidup sederhana lainnya adalah tidak menimbulkan
kecemburuan sosial, kesibukan yang berkurang, sehingga lebih banyak
waktu untuk istirahat, mengembangkan diri, berbagi dengan orang lain
dan lain sebagainya. Keuntungan yang terpenting adalah kita menjadi
lebih bahagia dengan apapun yang kita miliki. Sementara keuntungan
selalu ada dari hidup sederhana adalah biaya hidup menjadi lebih
ekonomis.
Harus dipahami bahwa hidup sederhana bukan kehidupan kaum miskin.
Sebab banyak milyuner kelas dunia hidup sangat hemat dan sederhana
atau jauh dari kemewahan. Kita coba perhatikan Warren Buffet yang
disebut majalah Forbes edisi bulan Agustus 2008 sebagai pria terkaya
di dunia dengan total kekayaan senilai 62 milyar USD. Keseharian hidup
pria yang mendapat gelar Sage of Omaha atau Oracle of Omaha karena
kehebatan pikirannya tersebut sangat dekat dengan prinsip hidup hemat
dan mungkin dapat kita jadikan pedoman.
Ketika diwawancara televisi CNBC beberapa waktu yang lalu, Warren
Buffet menyatakan bahwa ia masih tinggal di rumah sederhana berkamar 3
di kota Ohama. Rumah itu sudah ia tempati bersama keluarga sejak
menikah tahun 1959. Walaupun rumah itu jauh dari kesan mewah, tetapi
ia mengatakan, "Saya memiliki segalanya di rumah ini."
Dengan harta yang sedemikian banyak dan sumber pendapatan yang sangat
besar, Warren Buffet masih sangat berhati-hati dalam hal pengeluaran
uang. "Watch your expenses," katanya. Ia hanya akan membeli barang
jika benar-benar diperlukan, itupun dengan harga semurah mungkin. Ia
menyarankan agar membudayakan sikap seperti itu tak hanya pada diri
sendiri, melainkan kepada semua anggota keluarga.
Ia menjelaskan bahwa pengeluaran sekecil apapun akan membebani kondisi
keuangan. Untuk itu ia menyarankan agar menjadi 'smart buyer' atau
pembeli yang cerdas yang hanya membeli barang atau jasa yang
diperlukan bukan yang diinginkan. Sebab keinginan manusia tak pernah
ada habisnya bahkan sering menyebabkan kebangkrutan.
Pada saat yang sama ia juga menyatakan, "Always think how you can
accomplish things economically. – Berusahalah untuk mendapatkan segala
sesuatu dengan harga paling ekonomis atau murah." Hal itu tercermin
dari keseharian Warren Buffet yang tak pernah membeli mobil baru,
tidak mempunyai sopir ataupun pengawal pribadi. Kemana-mana iapun
memilih menumpang pesawat kelas bisnis daripada menaiki jet pribadi,
meskipun ia memiliki perusahaan pembuatan pesawat jet terbesar di dunia.
Sikap Warren Buffet yang berani menjadi diri sendiri patut kita
teladani. Ia berprinsip bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang
dapat mengendalikan kehidupan dan masa depannya sendiri. Itulah
mengapa ia tidak pernah membeli barang-barang bermerek atau melakukan
kebiasaan mewah lainnya, melainkan membeli barang-barang yang
membuatnya merasa nyaman.
Meskipun hartanya melimpah ruah, tetapi ia tidak suka pamer. "Don't
try to show off, just be yourself and do what you enjoy doing. –
Jangan pamer, jadilah diri sendiri dan menikmati apa yang Anda
lakukan," tegasnya. Ia mengingatkan agar kita tidak terjebak dengan
sikap semu, misalnya ingin selalu menunjukkan kesan mampu atau
mengedepankan gengsi walaupun harus menguras isi kantong. Sikap hidup
sederhana dan apa adanya itu akan jauh lebih baik dan menguntungkan,
daripada berusaha mengejar gaya hidup di luar jangkauan kemampuan
keuangan.
Warren Buffet mewanti-wanti agar tidak berhutang. "Avoid bank loans
and invest in yourself. – Hindari membayar bunga bank (meminjam uang)
dan berinvestasilah untuk diri sendiri," pesannya. Bukan berarti ia
anti berurusan dengan bank atau pinjaman, asalkan pinjaman tersebut
benar-benar dimanfaatkan sebagai modal usaha meningkatkan kualitas
ekonomi dan bukan untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.
Sikap hemat dan sederhana Warren Buffet bukan pertanda ia hanya senang
menumpuk pundi-pundi uang atau ia enggan berbagi dengan orang yang
kesulitan. Tahun 2006, ia mendonasikan 90% dari hartanya, berkisar
diantara 30,7 milyar USD, untuk yayasan sosial Bill & Melinda Gates.
Walaupun hartanya sudah didonasikan sedemikian banyak, gaya hidup
hemat dan sederhana membuat hartanya terus bertambah bahkan sekarang
jauh lebih besar (62 milyar USD).
Kehidupan Warren Buffet menginspirasikan betapa kesederhanaan itu
menguntungkan. Kesederhanaan dan sikap hemat Warren Buffet tidak hanya
membuat dirinya menikmati kesuksesan, tetapi juga lebih dicintai dan
dihargai banyak orang dibandingkan mereka yang selalu hidup
bergelimang kemewahan. Jika Anda ingin menjadi mengambil bagian
keuntungan dari kesederhanaan itu, maka mulai saat ini jadikan pola
hidup sehemat dan sesederhana mungkin sebagai bagian yang tak
terpisahkan dalam keseharian Anda.
From:email
"In character, in manner, in style, in all things, the supreme
exellence is simplicity. – Dalam karakter, sikap, gaya, dalam segala
hal, kesederhanaan adalah hal yang terindah."
~Henry Wadsworth Longfellow~
Hidup sederhana sangat menyenangkan. Terlebih dalam kehidupan modern
dimana kita tak pernah dapat lepas dari banyak sekali pilihan dan
jalan sekaligus kesulitan. Berusaha hidup sesederhana mungkin akan
sangat membantu kita menemukan banyak keuntungan dan hidup lebih baik
meskipun kita harus dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi global
seperti saat ini.
Selain itu, hidup sederhana akan membuat kita lebih menikmati apa yang
ada saat ini, karena tidak terlalu khawatir akan masa depan atau opini
negatif orang lain. Sebagaimana Sir Chinmoy mengatakan, "Simplicity is
our natural or conscious awareness of reality. – Kesederhanaan adalah
kesadaran alamiah akan kenyataan diri kita sendiri." Kesadaran
tersebut akan membantu kita lebih fokus pada potensi diri sendiri dan
semangat untuk lebih giat berusaha, tak hanya berangan-angan atau
meratapi kegagalan masa lalu. Dengan demikian, kita dapat meraih
harapan lebih cepat dan lebih banyak dari yang diinginkan.
Kesederhanaan dalam hidup semua berawal dari pikiran. Hidup sederhana
sama artinya dengan terus belajar menjernihkan pikiran dan tidak
membiarkan diri kita dikuasai oleh pemikiran-pemikiran negatif. Dengan
kata lain, kesederhanaan membuat kita menemukan ketenangan pikiran.
Kemauan untuk selalu hidup sesederhana mungkin dapat menumbuhkan
kreatifitas. Cobalah bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang
dapat Anda lakukan dengan apa yang Anda miliki? Pertanyaan tersebut
akan mendorong Anda untuk memutar otak guna memecahkan suatu masalah
dengan memanfaatkan apa yang sudah Anda miliki, daripada mencoba untuk
'membeli' solusi yang berarti pengeluaran uang lagi.
Keuntungan lain dari hidup sederhana lainnya adalah tidak menimbulkan
kecemburuan sosial, kesibukan yang berkurang, sehingga lebih banyak
waktu untuk istirahat, mengembangkan diri, berbagi dengan orang lain
dan lain sebagainya. Keuntungan yang terpenting adalah kita menjadi
lebih bahagia dengan apapun yang kita miliki. Sementara keuntungan
selalu ada dari hidup sederhana adalah biaya hidup menjadi lebih
ekonomis.
Harus dipahami bahwa hidup sederhana bukan kehidupan kaum miskin.
Sebab banyak milyuner kelas dunia hidup sangat hemat dan sederhana
atau jauh dari kemewahan. Kita coba perhatikan Warren Buffet yang
disebut majalah Forbes edisi bulan Agustus 2008 sebagai pria terkaya
di dunia dengan total kekayaan senilai 62 milyar USD. Keseharian hidup
pria yang mendapat gelar Sage of Omaha atau Oracle of Omaha karena
kehebatan pikirannya tersebut sangat dekat dengan prinsip hidup hemat
dan mungkin dapat kita jadikan pedoman.
Ketika diwawancara televisi CNBC beberapa waktu yang lalu, Warren
Buffet menyatakan bahwa ia masih tinggal di rumah sederhana berkamar 3
di kota Ohama. Rumah itu sudah ia tempati bersama keluarga sejak
menikah tahun 1959. Walaupun rumah itu jauh dari kesan mewah, tetapi
ia mengatakan, "Saya memiliki segalanya di rumah ini."
Dengan harta yang sedemikian banyak dan sumber pendapatan yang sangat
besar, Warren Buffet masih sangat berhati-hati dalam hal pengeluaran
uang. "Watch your expenses," katanya. Ia hanya akan membeli barang
jika benar-benar diperlukan, itupun dengan harga semurah mungkin. Ia
menyarankan agar membudayakan sikap seperti itu tak hanya pada diri
sendiri, melainkan kepada semua anggota keluarga.
Ia menjelaskan bahwa pengeluaran sekecil apapun akan membebani kondisi
keuangan. Untuk itu ia menyarankan agar menjadi 'smart buyer' atau
pembeli yang cerdas yang hanya membeli barang atau jasa yang
diperlukan bukan yang diinginkan. Sebab keinginan manusia tak pernah
ada habisnya bahkan sering menyebabkan kebangkrutan.
Pada saat yang sama ia juga menyatakan, "Always think how you can
accomplish things economically. – Berusahalah untuk mendapatkan segala
sesuatu dengan harga paling ekonomis atau murah." Hal itu tercermin
dari keseharian Warren Buffet yang tak pernah membeli mobil baru,
tidak mempunyai sopir ataupun pengawal pribadi. Kemana-mana iapun
memilih menumpang pesawat kelas bisnis daripada menaiki jet pribadi,
meskipun ia memiliki perusahaan pembuatan pesawat jet terbesar di dunia.
Sikap Warren Buffet yang berani menjadi diri sendiri patut kita
teladani. Ia berprinsip bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang
dapat mengendalikan kehidupan dan masa depannya sendiri. Itulah
mengapa ia tidak pernah membeli barang-barang bermerek atau melakukan
kebiasaan mewah lainnya, melainkan membeli barang-barang yang
membuatnya merasa nyaman.
Meskipun hartanya melimpah ruah, tetapi ia tidak suka pamer. "Don't
try to show off, just be yourself and do what you enjoy doing. –
Jangan pamer, jadilah diri sendiri dan menikmati apa yang Anda
lakukan," tegasnya. Ia mengingatkan agar kita tidak terjebak dengan
sikap semu, misalnya ingin selalu menunjukkan kesan mampu atau
mengedepankan gengsi walaupun harus menguras isi kantong. Sikap hidup
sederhana dan apa adanya itu akan jauh lebih baik dan menguntungkan,
daripada berusaha mengejar gaya hidup di luar jangkauan kemampuan
keuangan.
Warren Buffet mewanti-wanti agar tidak berhutang. "Avoid bank loans
and invest in yourself. – Hindari membayar bunga bank (meminjam uang)
dan berinvestasilah untuk diri sendiri," pesannya. Bukan berarti ia
anti berurusan dengan bank atau pinjaman, asalkan pinjaman tersebut
benar-benar dimanfaatkan sebagai modal usaha meningkatkan kualitas
ekonomi dan bukan untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.
Sikap hemat dan sederhana Warren Buffet bukan pertanda ia hanya senang
menumpuk pundi-pundi uang atau ia enggan berbagi dengan orang yang
kesulitan. Tahun 2006, ia mendonasikan 90% dari hartanya, berkisar
diantara 30,7 milyar USD, untuk yayasan sosial Bill & Melinda Gates.
Walaupun hartanya sudah didonasikan sedemikian banyak, gaya hidup
hemat dan sederhana membuat hartanya terus bertambah bahkan sekarang
jauh lebih besar (62 milyar USD).
Kehidupan Warren Buffet menginspirasikan betapa kesederhanaan itu
menguntungkan. Kesederhanaan dan sikap hemat Warren Buffet tidak hanya
membuat dirinya menikmati kesuksesan, tetapi juga lebih dicintai dan
dihargai banyak orang dibandingkan mereka yang selalu hidup
bergelimang kemewahan. Jika Anda ingin menjadi mengambil bagian
keuntungan dari kesederhanaan itu, maka mulai saat ini jadikan pola
hidup sehemat dan sesederhana mungkin sebagai bagian yang tak
terpisahkan dalam keseharian Anda.
From:email
Rabu, 18 Februari 2009
Maklum
Maklum
Memaklumi Sampai Sebatas Apa?
Setiap kali pergi ke pernikahan seorang kerabat atau teman, saya
selalu merasa senang dan bahagia. Bukan hanya ingin turut mendoakan
pasangan yang sedang berbahagia, tetapi karena ada kesempatan untuk
menikmati hidangan yang berbeda-beda setiap kali datang.
Namun, kadang rasa senang itu sering kali ternoda dengan kondisi
pesta yang hampir selalu diliputi oleh antrean untuk mendapatkan
makanan. Saya rasa itu sesuatu yang wajar, tetapi saya sering merasa
kesal karena beberapa orang sering kali memotong antrean tanpa
merasa bersalah. Sayangnya lagi saya selalu berusaha memaklumi itu.
Kadang saya berpikir bagaimana bisa seorang yang terlihat matang,
bijaksana dan memakai pakaian bagus seperti tamu di resepsi
pernikahan itu tidak mampu untuk mengantre dan mengambil hak milik
orang lain. Jangan-jangan sehari-harinya tamu ini memang suka
mengambil hak yang bukan miliknya.
Suatu ketika saya sedang berbelanja di sebuah mini market yang
sekarang sedang menjamur di mana-mana. Suatu ketika uang kembalian
saya kurang lima ratus rupiah dan si karyawan hendak menggantinya
dengan 5 buah permen yang sebenarnya dipikir-pikir tidak sebanding
dengan harga uang lima ratus rupiah.
Kalau saya ingin makan permen saya biasanya memaklumi keadaan itu.
Namun, terkadang saya mendongkol juga dalam hati, bagaimana seorang
pengusaha yang sukses ternyata masih senang juga mengelabui
pelanggannya untuk membeli produk yang tidak perlu dengan alasan
uang kembalian tidak ada.
Sudah Merajalela
Bagi sebagian orang, sikap memaklumi itu sudah menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari hidup bermasyarakat. Kita sering kali
memaklumi teman kita yang datang terlambat, sambil mengatakan
guyonan pahit bahwa kalau tidak telat yah bukan si teman yang satu
ini.
Kita juga memaklumi selebriti yang senang kawin cerai. Malahan
mungkin bagi sebagian wartawan infotaiment ini merupakan kondisi
yang bisa menyokong kerja mereka sehari-hari. Kalau sepi kawin cerai
di antara selebriti bisa memusingkan kepala, karena tidak ada berita
yang bisa diulas.
Dalam pemerintahan juga setali tiga uang. Kita sering kali
memaklumi, jika ada pejabat pemerintah yang menyelewengkan
kekuasaannya. Kita juga memaklumi jika ada aktivis yang tadinya
sangat idealis, namun setelah masuk ke dalam birokrasi malah menjadi
sangat materialistis.
Banyak kemakluman yang sengaja kita lakukan agar kita tidak menjadi
lelah hati dan pikiran melihat kenyataan yang tidak sesuai ini.
Walaupun kita tahu ada yang salah, namun seringkali kita membiarkan.
Banyak alasan di balik sikap ini, ada yang karena keengganan,
kemalasan berbicara, kurangnya kekuatan untuk bertindak dan rasa
kurang percaya diri. Hal ini juga belum ditambah bahwa biasanya
orang yang salah di negara kita ini malah yang lebih galak dan
berani. Aneh bukan.
Harus Berubah
Bila kondisi ini terus- menerus terjadi, saya tidak dapat bayangkan
apa yang akan kita hadapi beberapa tahun yang akan datang. Negara
ini tentunya bukan akan mengarah ke yang lebih baik namun ke arah
kehancuran.
Kita dapat tertinggal dengan bangsa lain karena kemakluman kita
sangat tinggi termasuk maklum bila negara ini tidak maju-maju. Sikap
ini sangat berbahaya karena sama saja kita membiarkan bangsa dan
negara ini digerogoti pelan-pelan oleh anak bangsanya sendiri.
Kita semua harus berubah. Semuanya harus dimulai dari diri kita.
Usahakanlah menegur terhadap orang yang melanggar peraturan.
Tegurlah dengan cara yang baik sehingga orang tersebut dapat
memahami kekeliruannya.
Bila memang tidak bisa juga sikap tegas memang kadang diperlukan
untuk hal-hal seperti ini.
Suatu saat saya pernah menegur seorang asing yang secara sengaja
merokok di dalam ruangan berpendingin ruangan, yang secara jelas
pula terdapat larangan merokok. Orang asing itu tidak meminta maaf,
namun segera keluar untuk meneruskan merokoknya.
Sikap yang tidak sopan sebenarnya, namun yang penting saya sudah
berani mengungkapkan keberatan saya atas sikapnya yang tidak
mementingkan orang lain.
Saya rasa kita semua harus mulai melakukan hal-hal yang mampu
membuat orang lain sadar akan kekeliruannya. Mungkin kebaikan yang
kita perbuat ini bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk anak dan
cucu kita yang sedang tumbuh.
Kita tentunya tidak rela melihat anak dan cucu kita akan tumbuh
dalam iklim yang serba tidak pasti bukan? Bila kita tidak mau
melakukannya untuk diri kita sendiri, berpikirlah tentang anak dan
cucu kita sambil terus bertanya dalam hati Seandainya saya tidak
mulai melakukannya, lalu siapa lagi?
Sumber: Memaklumi Sampai Sebatas Apa? oleh Andri Suryadi, seorang Psikiater, Dosen Kesehatan Jiwa FK Ukrida
From:email
Memaklumi Sampai Sebatas Apa?
Setiap kali pergi ke pernikahan seorang kerabat atau teman, saya
selalu merasa senang dan bahagia. Bukan hanya ingin turut mendoakan
pasangan yang sedang berbahagia, tetapi karena ada kesempatan untuk
menikmati hidangan yang berbeda-beda setiap kali datang.
Namun, kadang rasa senang itu sering kali ternoda dengan kondisi
pesta yang hampir selalu diliputi oleh antrean untuk mendapatkan
makanan. Saya rasa itu sesuatu yang wajar, tetapi saya sering merasa
kesal karena beberapa orang sering kali memotong antrean tanpa
merasa bersalah. Sayangnya lagi saya selalu berusaha memaklumi itu.
Kadang saya berpikir bagaimana bisa seorang yang terlihat matang,
bijaksana dan memakai pakaian bagus seperti tamu di resepsi
pernikahan itu tidak mampu untuk mengantre dan mengambil hak milik
orang lain. Jangan-jangan sehari-harinya tamu ini memang suka
mengambil hak yang bukan miliknya.
Suatu ketika saya sedang berbelanja di sebuah mini market yang
sekarang sedang menjamur di mana-mana. Suatu ketika uang kembalian
saya kurang lima ratus rupiah dan si karyawan hendak menggantinya
dengan 5 buah permen yang sebenarnya dipikir-pikir tidak sebanding
dengan harga uang lima ratus rupiah.
Kalau saya ingin makan permen saya biasanya memaklumi keadaan itu.
Namun, terkadang saya mendongkol juga dalam hati, bagaimana seorang
pengusaha yang sukses ternyata masih senang juga mengelabui
pelanggannya untuk membeli produk yang tidak perlu dengan alasan
uang kembalian tidak ada.
Sudah Merajalela
Bagi sebagian orang, sikap memaklumi itu sudah menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari hidup bermasyarakat. Kita sering kali
memaklumi teman kita yang datang terlambat, sambil mengatakan
guyonan pahit bahwa kalau tidak telat yah bukan si teman yang satu
ini.
Kita juga memaklumi selebriti yang senang kawin cerai. Malahan
mungkin bagi sebagian wartawan infotaiment ini merupakan kondisi
yang bisa menyokong kerja mereka sehari-hari. Kalau sepi kawin cerai
di antara selebriti bisa memusingkan kepala, karena tidak ada berita
yang bisa diulas.
Dalam pemerintahan juga setali tiga uang. Kita sering kali
memaklumi, jika ada pejabat pemerintah yang menyelewengkan
kekuasaannya. Kita juga memaklumi jika ada aktivis yang tadinya
sangat idealis, namun setelah masuk ke dalam birokrasi malah menjadi
sangat materialistis.
Banyak kemakluman yang sengaja kita lakukan agar kita tidak menjadi
lelah hati dan pikiran melihat kenyataan yang tidak sesuai ini.
Walaupun kita tahu ada yang salah, namun seringkali kita membiarkan.
Banyak alasan di balik sikap ini, ada yang karena keengganan,
kemalasan berbicara, kurangnya kekuatan untuk bertindak dan rasa
kurang percaya diri. Hal ini juga belum ditambah bahwa biasanya
orang yang salah di negara kita ini malah yang lebih galak dan
berani. Aneh bukan.
Harus Berubah
Bila kondisi ini terus- menerus terjadi, saya tidak dapat bayangkan
apa yang akan kita hadapi beberapa tahun yang akan datang. Negara
ini tentunya bukan akan mengarah ke yang lebih baik namun ke arah
kehancuran.
Kita dapat tertinggal dengan bangsa lain karena kemakluman kita
sangat tinggi termasuk maklum bila negara ini tidak maju-maju. Sikap
ini sangat berbahaya karena sama saja kita membiarkan bangsa dan
negara ini digerogoti pelan-pelan oleh anak bangsanya sendiri.
Kita semua harus berubah. Semuanya harus dimulai dari diri kita.
Usahakanlah menegur terhadap orang yang melanggar peraturan.
Tegurlah dengan cara yang baik sehingga orang tersebut dapat
memahami kekeliruannya.
Bila memang tidak bisa juga sikap tegas memang kadang diperlukan
untuk hal-hal seperti ini.
Suatu saat saya pernah menegur seorang asing yang secara sengaja
merokok di dalam ruangan berpendingin ruangan, yang secara jelas
pula terdapat larangan merokok. Orang asing itu tidak meminta maaf,
namun segera keluar untuk meneruskan merokoknya.
Sikap yang tidak sopan sebenarnya, namun yang penting saya sudah
berani mengungkapkan keberatan saya atas sikapnya yang tidak
mementingkan orang lain.
Saya rasa kita semua harus mulai melakukan hal-hal yang mampu
membuat orang lain sadar akan kekeliruannya. Mungkin kebaikan yang
kita perbuat ini bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk anak dan
cucu kita yang sedang tumbuh.
Kita tentunya tidak rela melihat anak dan cucu kita akan tumbuh
dalam iklim yang serba tidak pasti bukan? Bila kita tidak mau
melakukannya untuk diri kita sendiri, berpikirlah tentang anak dan
cucu kita sambil terus bertanya dalam hati Seandainya saya tidak
mulai melakukannya, lalu siapa lagi?
Sumber: Memaklumi Sampai Sebatas Apa? oleh Andri Suryadi, seorang Psikiater, Dosen Kesehatan Jiwa FK Ukrida
From:email
Selasa, 17 Februari 2009
Orang Buta Yang Bijak
Menjadi Orang Buta Yang Bijak
Teman, pernahkah engkau mendengar ataupun membaca mengenai sebuah kisah perumpamaan yang berjudul: ”Orang Buta dan Seekor Gajah”? Jika belum, berikut kisah perumpamaan tersebut.
Suatu ketika ada lima orang buta yang tidak pernah melihat gajah seumur hidup mereka. Mereka pergi ke perkemahan sirkus dan mereka dipertemukan dengan seekor gajah oleh pemilik sirkus tersebut. Pemilik sirkus tersebut mengatakan kepada kelima orang buta itu bahwa gajah ini adalah hewan yang lebih besar dan berat dari manusia.
Teman, dengan menggunakan tangan, kelima orang buta tersebut meraba gajah tersebut untuk mengetahui bentuk sebenarnya dari gajah itu. Orang buta pertama meraba belalai gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti selang yang besar!” Orang buta kedua meraba kaki gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti batang pohon besar!” Orang buta ketiga meraba kuping gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti daun kipas yang besar!” Kemudian, orang buta keempat meraba tubuh si gajah yang berbulu kasar itu dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti karung goni yang sangat besar sekali!” Dan terakhir, orang buta kelima memegang buntut si gajah dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti kabel besar yang ujungnya berambut!”
Dalam perjalanan pulang, kelima orang buta tersebut saling berdebat mengenai bentuk sesungguhnya dari seekor gajah. Masing-masing mempertahankan pendapatnya mengenai bentuk gajah yang mereka dapat dari meraba tubuh gajah tersebut, dan akhirnya bereka saling bertengkar satu sama yang lain.
Teman, kisah perumpamaan di atas memiliki makna bahwa adalah hal yang sia-sia belaka kita memperdebatkan sesuatu yang belum kita ketahui secara pasti. Kita hanya akan menjadi orang-orang buta yang bodoh.
Tapi teman, ada kisah perumpamaan lain yang hampir sama yaitu juga mengenai lima orang buta dan seekor gajah. Tetapi kali ini, ketika dalam perjalanan pulang setelah meraba bagian tubuh gajah, mereka berlima saling berdiskusi, bertukar pandangan mengenai bentuk gajah dari meraba tubuh gajah. Di akhir diskusi, mereka sepakat untuk kembali ke perkemahan sirkus untuk kembali meraba gajah tersebut. Tapi kali ini, mereka saling bertukar tempat untuk meraba seluruh bagian tubuh gajah. Kelima orang buta tersebut meraba bagian tubuh gajah yang pernah diraba oleh temannya. Dengan demikian kelima orang buta tersebut telah meraba seluruh tubuh gajah.
Setelah mereka meraba seluruh bagian tubuh gajah tersebut, mereka berdiskusi kembali. Dari hasil diskusi, mereka berkesimpulan bahwa ada tanda-tanda, ada ciri-ciri khas dari seekor gajah. Mereka juga akhirnya berpendapat bahwa pemilik sirkus tidaklah berbohong mengenai ciri-ciri gajah yang memiliki tubuh yang lebih besar dan berat dari manusia. Teman, meskipun kelima orang buta itu tidak melihat seperti apa bentuk gajah sesungguhnya, namun mereka memiliki pemikiran yang sama yang didapat dari tanda-tanda, ciri-ciri yang mereka dapat baik dari meraba dan juga dari perkataan pemilik sirkus tersebut.
Teman, dari kedua kisah perumpamaan di atas, apa yang dapat kita pelajari? Benar, jadikanlah diri kita menjadi orang buta yang cerdik, yang bijaksana, yang ”melihat” tanda-tanda, ciri-ciri, indikasi-indikasi dari kebenaran yang masih tersembunyi dari pandangan kita. Dengan demikian, kita dapat menjauhkan diri kita dari hal-hal buruk yang menanti kita yang juga akan menjauhkan kita dari kebenaran yang masih tersembunyi tersebut. Jika kita yang masih buta akan kebenaran yang tersembunyi ini tidak memiliki kecerdikan, kebijaksanaan, kita akan menjadi orang-orang buta yang bodoh yang dengan mudah dapat dipermainkan oleh orang lain yang nakal. Dan hanya dengan cahaya kebijaksanaan-lah maka kegelapan pada mata kita akan lenyap.
From:email
Teman, pernahkah engkau mendengar ataupun membaca mengenai sebuah kisah perumpamaan yang berjudul: ”Orang Buta dan Seekor Gajah”? Jika belum, berikut kisah perumpamaan tersebut.
Suatu ketika ada lima orang buta yang tidak pernah melihat gajah seumur hidup mereka. Mereka pergi ke perkemahan sirkus dan mereka dipertemukan dengan seekor gajah oleh pemilik sirkus tersebut. Pemilik sirkus tersebut mengatakan kepada kelima orang buta itu bahwa gajah ini adalah hewan yang lebih besar dan berat dari manusia.
Teman, dengan menggunakan tangan, kelima orang buta tersebut meraba gajah tersebut untuk mengetahui bentuk sebenarnya dari gajah itu. Orang buta pertama meraba belalai gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti selang yang besar!” Orang buta kedua meraba kaki gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti batang pohon besar!” Orang buta ketiga meraba kuping gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti daun kipas yang besar!” Kemudian, orang buta keempat meraba tubuh si gajah yang berbulu kasar itu dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti karung goni yang sangat besar sekali!” Dan terakhir, orang buta kelima memegang buntut si gajah dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti kabel besar yang ujungnya berambut!”
Dalam perjalanan pulang, kelima orang buta tersebut saling berdebat mengenai bentuk sesungguhnya dari seekor gajah. Masing-masing mempertahankan pendapatnya mengenai bentuk gajah yang mereka dapat dari meraba tubuh gajah tersebut, dan akhirnya bereka saling bertengkar satu sama yang lain.
Teman, kisah perumpamaan di atas memiliki makna bahwa adalah hal yang sia-sia belaka kita memperdebatkan sesuatu yang belum kita ketahui secara pasti. Kita hanya akan menjadi orang-orang buta yang bodoh.
Tapi teman, ada kisah perumpamaan lain yang hampir sama yaitu juga mengenai lima orang buta dan seekor gajah. Tetapi kali ini, ketika dalam perjalanan pulang setelah meraba bagian tubuh gajah, mereka berlima saling berdiskusi, bertukar pandangan mengenai bentuk gajah dari meraba tubuh gajah. Di akhir diskusi, mereka sepakat untuk kembali ke perkemahan sirkus untuk kembali meraba gajah tersebut. Tapi kali ini, mereka saling bertukar tempat untuk meraba seluruh bagian tubuh gajah. Kelima orang buta tersebut meraba bagian tubuh gajah yang pernah diraba oleh temannya. Dengan demikian kelima orang buta tersebut telah meraba seluruh tubuh gajah.
Setelah mereka meraba seluruh bagian tubuh gajah tersebut, mereka berdiskusi kembali. Dari hasil diskusi, mereka berkesimpulan bahwa ada tanda-tanda, ada ciri-ciri khas dari seekor gajah. Mereka juga akhirnya berpendapat bahwa pemilik sirkus tidaklah berbohong mengenai ciri-ciri gajah yang memiliki tubuh yang lebih besar dan berat dari manusia. Teman, meskipun kelima orang buta itu tidak melihat seperti apa bentuk gajah sesungguhnya, namun mereka memiliki pemikiran yang sama yang didapat dari tanda-tanda, ciri-ciri yang mereka dapat baik dari meraba dan juga dari perkataan pemilik sirkus tersebut.
Teman, dari kedua kisah perumpamaan di atas, apa yang dapat kita pelajari? Benar, jadikanlah diri kita menjadi orang buta yang cerdik, yang bijaksana, yang ”melihat” tanda-tanda, ciri-ciri, indikasi-indikasi dari kebenaran yang masih tersembunyi dari pandangan kita. Dengan demikian, kita dapat menjauhkan diri kita dari hal-hal buruk yang menanti kita yang juga akan menjauhkan kita dari kebenaran yang masih tersembunyi tersebut. Jika kita yang masih buta akan kebenaran yang tersembunyi ini tidak memiliki kecerdikan, kebijaksanaan, kita akan menjadi orang-orang buta yang bodoh yang dengan mudah dapat dipermainkan oleh orang lain yang nakal. Dan hanya dengan cahaya kebijaksanaan-lah maka kegelapan pada mata kita akan lenyap.
From:email
Jumat, 13 Februari 2009
Iman Tanpa Perbuatan Adalah Mati
Ringkasan khotbah 08.02.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Kedua Pebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI
Yakobus 2:17
Iman atau “Pistis=Yun”, adalah percaya atau mempercayakan secara khusus kedalam kekuasaan yang paling tinggi. Pemikiran pokok didalam Firman Allah adalah ketabahan dan kesetiaan. Orang bisa tabah dan setia, karena dia mempunyai keyakinan/iman atas janji-janji Firman Allah.
Seringkali kita mengatakan :”saya beriman”, “saya orang beriman”, tetapi pada saat menghadapi tantangan, disitulah baru kelihatan, apakah ia sungguh-sungguh beriman atau tidak. Memang seringkali mengatakan lebih gampang daripada melakukan. Iman sebenarnya jangan hanya diucapkan dimulut saja. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana bertindak berdasarkan iman yang saudara miliki.
Kita tidak dapat berkata:”Tuhan, saya ingin di pekarangan saya ada pohon mangga, rambutan, supaya saya dapat menikmati buahnya”. Lalu yang saudara lakukan, hanya berdoa demikian terus menerus minta Tuhan yang “tanam” pohon buah-buahan tersebut. Mana mungkin! Saudara harus bertindak untuk menanamnya, dengan satu keyakinan, bahwa Tuhan akan menolong menumbuhkan pohon-pohon tersebut supaya bertumbuh subur dan menghasilkan buah-buah yang lebat dan baik. – Yakobus 2:14,17,20,22. Jadi, apa yang saudara dapat lakukan, maka saudara harus lakukan/bertindak, dan apa yang saudara tidak dapat lakukan, maka Allah yang akan lakukan itu buat saudara. Kita harus lakukan apa yang kita dapat lakukan, dan Allah akan lakukan apa yang harus Allah lakukan – Roma 8:28.
Ada contoh yang baik dalam Alkitab tentang hal ini. Dalam kitab Keluaran 14:1-16 diceriterakan disana, sewaktu bangsa Israel keluar dari Mesir, maka Allah menuntun bangsa itu berputar melalui padang gurun menuju ke laut Teberau – Keluaran 13:17-18. pendek ceritera, ketika bangsa Israel telah berjalan keluar dari Mesir, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, lalu mereka mengejarnya. Ketika orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir sedang mengejar mereka. Maka ketakutanlah orang Israel. Mereka mulai memarahi Musa. Tetapi Musa berkata :” Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, ……..TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Keluaran 14:13-14. Musa berkata, kamu jangan takut, berdirilah dan lihatlah TUHAN yang berperang untuk kamu dan kamu akan diam saja. Artinya kamu bangsa Israel biarkanlah TUHAN saja yang berperang dan kamu hanya berdiri, lihat dan diam.
Lalu datang firman TUHAN kepada Musa :” Mengapa engkau berseru-seru demikian kepadaKu? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya……” – Kel. 14:15. Disini kita melihat, bahwa Tuhan tidak mau kita hanya berseru-seru saja, tetapi Dia mau supaya kita bertindak juga dengan iman yang sudah ada di dalam kita. Ada saatnya berdoa, juga ada saatnya bertindak. Seringkali kita juga berada pada suatu keadaan dimana kita tidak dapat berbuat apa-apa, mundur ada musuh, kiri dan kanan terbentang padang terbuka, maju ada laut Teberau/masalah. Tetapi saudara-saudaraku, ingat kisah ini. Jangan terperangkap dengan keadaan sekalipun itu menakutkan. Sebaliknya, bangkitkan iman saudara dengan ingat pada Firman Allah, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita, dan pada kita telah diberikan kuasa/tongkat untuk menginjak ular dan kalajengking serta kuasa untuk menahan kekuatan musuh……- Lukas 10:19, lalu berjalanlah terus dalam perjalanan hidup ini, dan saudara akan melihat bagaimana pertolongan Tuhan yang ajaib akan menopang, melindungi dan membawa saudara didalam kemenangan-Nya yang luar biasa. Oleh karena itu, jagalah iman yang sudah ada, jangan sampai menyimpang. Amin!
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Kedua Pebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI
Yakobus 2:17
Iman atau “Pistis=Yun”, adalah percaya atau mempercayakan secara khusus kedalam kekuasaan yang paling tinggi. Pemikiran pokok didalam Firman Allah adalah ketabahan dan kesetiaan. Orang bisa tabah dan setia, karena dia mempunyai keyakinan/iman atas janji-janji Firman Allah.
Seringkali kita mengatakan :”saya beriman”, “saya orang beriman”, tetapi pada saat menghadapi tantangan, disitulah baru kelihatan, apakah ia sungguh-sungguh beriman atau tidak. Memang seringkali mengatakan lebih gampang daripada melakukan. Iman sebenarnya jangan hanya diucapkan dimulut saja. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana bertindak berdasarkan iman yang saudara miliki.
Kita tidak dapat berkata:”Tuhan, saya ingin di pekarangan saya ada pohon mangga, rambutan, supaya saya dapat menikmati buahnya”. Lalu yang saudara lakukan, hanya berdoa demikian terus menerus minta Tuhan yang “tanam” pohon buah-buahan tersebut. Mana mungkin! Saudara harus bertindak untuk menanamnya, dengan satu keyakinan, bahwa Tuhan akan menolong menumbuhkan pohon-pohon tersebut supaya bertumbuh subur dan menghasilkan buah-buah yang lebat dan baik. – Yakobus 2:14,17,20,22. Jadi, apa yang saudara dapat lakukan, maka saudara harus lakukan/bertindak, dan apa yang saudara tidak dapat lakukan, maka Allah yang akan lakukan itu buat saudara. Kita harus lakukan apa yang kita dapat lakukan, dan Allah akan lakukan apa yang harus Allah lakukan – Roma 8:28.
Ada contoh yang baik dalam Alkitab tentang hal ini. Dalam kitab Keluaran 14:1-16 diceriterakan disana, sewaktu bangsa Israel keluar dari Mesir, maka Allah menuntun bangsa itu berputar melalui padang gurun menuju ke laut Teberau – Keluaran 13:17-18. pendek ceritera, ketika bangsa Israel telah berjalan keluar dari Mesir, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, lalu mereka mengejarnya. Ketika orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir sedang mengejar mereka. Maka ketakutanlah orang Israel. Mereka mulai memarahi Musa. Tetapi Musa berkata :” Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, ……..TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Keluaran 14:13-14. Musa berkata, kamu jangan takut, berdirilah dan lihatlah TUHAN yang berperang untuk kamu dan kamu akan diam saja. Artinya kamu bangsa Israel biarkanlah TUHAN saja yang berperang dan kamu hanya berdiri, lihat dan diam.
Lalu datang firman TUHAN kepada Musa :” Mengapa engkau berseru-seru demikian kepadaKu? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya……” – Kel. 14:15. Disini kita melihat, bahwa Tuhan tidak mau kita hanya berseru-seru saja, tetapi Dia mau supaya kita bertindak juga dengan iman yang sudah ada di dalam kita. Ada saatnya berdoa, juga ada saatnya bertindak. Seringkali kita juga berada pada suatu keadaan dimana kita tidak dapat berbuat apa-apa, mundur ada musuh, kiri dan kanan terbentang padang terbuka, maju ada laut Teberau/masalah. Tetapi saudara-saudaraku, ingat kisah ini. Jangan terperangkap dengan keadaan sekalipun itu menakutkan. Sebaliknya, bangkitkan iman saudara dengan ingat pada Firman Allah, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita, dan pada kita telah diberikan kuasa/tongkat untuk menginjak ular dan kalajengking serta kuasa untuk menahan kekuatan musuh……- Lukas 10:19, lalu berjalanlah terus dalam perjalanan hidup ini, dan saudara akan melihat bagaimana pertolongan Tuhan yang ajaib akan menopang, melindungi dan membawa saudara didalam kemenangan-Nya yang luar biasa. Oleh karena itu, jagalah iman yang sudah ada, jangan sampai menyimpang. Amin!
Langganan:
Postingan (Atom)
