Pergerakan bukanlah satu even besar yang menghebohkan seperti yang selama ini diidam-idamkan banyak orang. Pergerakan bukan one time revival dari satu atau dua hamba Tuhan. Pergerakan adalah sebuah penyatuan derap dan langkah untuk menunaikan Amanat Agung. Apa itu pergerakan?
Bersatunya Dua Alam: Roh dan Jasmani Pertama, pergerakan adalah bersatunya dua alam, yaitu dunia roh dan jasmani. Firman Tuhan mengatakan di dalam: Mat 6:9-10 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Eze 37:3-5 Lalu Ia berfirman kepadaku: "Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?" Aku menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!" Lalu firman-Nya kepadaku: "Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. Apabila ‘pergerakan’ adalah bagian dari penggenapan Amanat Agung, maka setiap orang perlu untuk memulai sebuah ‘pergerakan’ dengan memahami tujuan dan panggilan Tuhan dalam ‘pergerakan’ tersebut. ‘Pergerakan’ bukan sebuah program yang dinilai hanya berdasarkan dari banyaknya program, melainkan dinilai dari setiap visi dan panggilan Tuhan dalam pergerakan tersebut. ‘Pergerakan’ ada demi tujuan dan kehendak Tuhan dalam pergerakan itu sendiri. Mengapa kita memulai hal ini? Mengapa kita memercayai bahwa ini sebuah ‘pergerakan’? Inilah yang harus kita ketahui dengan pasti sebelum mulai melangkah lebih jauh. Menemukan kehendak Tuhan di bumi seperti di Sorga adalah bagian terpenting pada awal, proses, dan akhir dari perguliran pergerakan. Bahkan, kegagalan terbesar dari banyaknya pergerakan adalah kehilangan fokus dan kewaspadaan terhadap arah dan kehendak Tuhan. Bersatunya Para Pemimpin Kedua, pergerakan adalah bersatunya para pemimpin, sepertiyang dapat kita baca di dalam Firman Tuhan: 1Ch 12:22 Dari hari ke hari orang datang kepada Daud untuk membantu dia sehingga mereka menjadi tentara yang besar, seperti bala tentara Allah. ‘Pergerakan’ bukan one man show! Saat memasuki sebuah pergerakan, kita akan menemukan ada banyak orang bergabung untuk terlibat di dalamnya. Motivasinya pun berbeda-beda. Tetapi yang pasti, pergerakan adalah tempat berkumpulnya para pemimpin. Dalam 1 Tawarikh 12, kita akan menemukan 5 jenis pemimpin. Pertama, Daud (pemimpin yang memimpin), Pemanah (pemimpin yang memberi arah), Infantri (pemimpin yang merekrut dan bergerak), Pemimpin (pemimpin yang mengawasi), dan Penguasa (pemimpin yang menyatukan atau mengintegrasi). Kita mungkin melupakan suatu kebenaran penting, yaitu ‘yang perlu dan lebih dahulu harus bersatu adalah para pemimpin.’ Ini akan menjadi tugas tersulit yang akan dihadapi selama perguliran ‘pergerakan’, bahkan ini sudah menjadi penyebab rusaknya suatu pergerakan. Pemimpin akan merasa diri penting atau bahkan terjebak untuk merasa tidak membutuhkan orang lain, terutama ketika apa yang dipercayakan Tuhan makin besar. Atau, kita akan melihat ‘pergerakan-pergerakan tandingan’. Bersatunya Jalur Pemberi Dampak Ketiga, ‘pergerakan’ adalah bersatunya dua jalur pemberi dampak yang ditentukan Tuhan. Transformasi seperti yang didengung-dengungkan hari-hari ini adalah hasil dari revival dan ‘pergerakan’. Mat 5:13-14 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Untuk melaksanakan kehendak Tuhan dalam mentransformasi suatu masyarakat, dapat dilakukan dengan dua jalur: GARAM dan TERANG. GARAM berarti, kita tidak merubah penampilan sebuah masyarakat dari luar, melainkan masuk dan terlibat sepenuhnya dalam masyarakat tersebut dan merubah ‘rasa’ atau atmosfir masyarakat tersebut. Ini berarti pergerakan memerlukan dan memacu mereka yang ada dalam sosial masyarakat terlibat aktif untuk menggenapi kehendak Tuhan bagi masyarakat. Merubah dunia kerja merupakan penggenapan GARAM DUNIA pada hari-hari ini. TERANG berarti, kita memerlukan sebuah shock therapy bagi mereka yang ingin kita jangkau. Di sini dibutuhkan orang-orang yang ‘memukul genderang perang’. Disinilah tujuan dan visi Tuhan dinyatakan secara gamblang dan lugas. Disinilah setiap pemimpin diuji komitmen dan keseriusannya terhadap pergerakan Tuhan. Kedua hal ini harus berjalan bersama-sama agar maksimal.
Oleh: Donny Tatimu
Kamis, 05 Maret 2009
Senin, 02 Maret 2009
Iman Mengalahkan Ketakutan
Ringkasan khotbah 15.02.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Ketiga Pebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
IMAN MENGALAHKAN KETAKUTAN
Yesaya 12:2
Saudara kekasih di dalam Kristus!
Kita hari ini masih berada di dalam tema bulanan IMAN. Betapa perlunya kita memahami tentang iman. Sebab iman merupakan dasar dari perjalanan hidup setiap orang percaya.
Hari ini kita telah membaca sebuah ayat diambil dari Yesaya 12:2 yang berbicara tentang Allah yang adalah keselamatan kita, olehNya Yesaya percaya dengan tidak gementar, dasarnya karena TUHAN ALLAH itu kekuatan dan mazmurnya…….
Ada dasar bagi orang percaya untuk tidak takut menghadapi apapun, yaitu percaya kepada Dia yang adalah sumber kekuatan. Amin!
Tetapi hari-hari ini, khususnya manusia akhir zaman, hati mereka akan menjadi lemah dan takut karena begitu banyak peristiwa yang sedang terjadi bahkan yang diprediksi akan terjadi. Mata rantai dari krisis global akan mengakibatkan kesulitan dan kesusahan bagi banyak orang. Ekonomi menjadi kacau balau, bursa saham dunia berguguran, sendi-sendi perekonomian dan keuangan berantakan. Negara-negara di dunia sedang bergumul dengan sekuat tenaga untuk berusaha bangkit dari keterpurukan ini. Saat-saat inilah merupakan saat-saat yang dapat membuat orang gementar – kata Yesaya.
Kata gementar dalam Yesaya 12 ini, bukan suatu ketakutan yang biasa-biasa, tetapi ketakutan yang membuat orang menggigil/gemetar. Ini adalah sebuah perasaan takut yang dapat melumpuhkan orang. Sebab perasaan takut ini akan masuk dalam hati dan pikiran serta mengakibatkan tekanan dan kecemasan, dan akhirnya membuat orang tidak dapat menikmati hidup dengan baik.
Yesus tidak pernah bermaksud supaya kita menjadi budak ketakutan, seringkali kita membaca dalam Injil, Dia berkata “Jangan takut, jangan takut!” Yesus ingin kita menolak ketakutan, sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan – 2 Tim. 1:7. Allah tidak mau kita hidup dalam ketakutan.
Orang bisa menjadi penakut, karena dia kurang percaya. Sebab kalau dia percaya bahwa Allah menyertainya, dia pasti tidak takut. Saudara lihat dalam markus 4:35-40. Dikisahkan Yesus bersama murid-murid-Nya menyeberang danau Galilea, ditengah perjalanan tersebut, mengamuklah angin taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu mulai penuh dengan air, artinya perahu sudah mau tenggelam. Siapa yang tidak takut menghadapi peristiwa yang demikian. Bukankah kehidupan saudara dan saya juga sering mengalami hal yang sama? Kehidupan kita ibarat perahu yang sedang berlayar ditengah lautan yang luas, yaitu dunia ini. Seringkalikali kita mengahdapi hantaman angin dan gelombang yang besar. Berapa banyak kali saudara berteriak ketakutan? Tetapi kita mau belajar dari Markus pasal 4 ini. Yesus ada bersama-sama murid-murid di dalam perahu, tetapi mereka membiarkan Yesus tertidur di buritan. Mereka mau coba mengandalkan kebisaan mereka – yaitu keahlian, kepintaran, pengalaman, kemampuan. Jadi seakan-akan mereka mau berkata, “Yesus Engkau istirahat saja, kami bisa berlayar dengan kemampuan kami, kami sudah berpengalaman, kami ‘kan mantan-mantan nelayan di danau ini, jadi kami sudah biasa.” Bukankah saudara juga sering berperilaku seperti demikian? Manusia terlalu sombong dengan kemampuannya sendiri, sehingga pada waktu berhadapan dengan masalah bereka ketakutan. Seperti murid-murid ini, mereka dalam ketakutan akan binasa, lalu datang pada Yesus dan berkata “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Makia Yesus dengan penuh kasih Dia bangun dan menghardik angin itu dan memerintahkan kepada gelombang danau itu :”Diam! Tenanglah!” Lalu semua menjadi tenang. Dan perhatikan, inilah sumber ketakutan itu, Yesus berkata kepada mereka :”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Ketakutan datang karena tidak percaya (Bhs Ingg. Have no faith) – tidak mempunyai iman. Takut dan tidak takut, itu semua bergantung apakah engkau memiliki iman atau tidak memiliki iman. Jadi bagaimana mengatasi ketakutan, jawabannya adalah saudara harus memiliki iman kepada Allah, percaya kepada Firman Allah, sebab hanya Firman Allahlah yang dapat membangkitkan imanmu dan berdoalah senantiasa sampai engkau dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus yang akan memberikan kekuatan dan damai sejahtera kepadamu – Filipi 4:6-7. Amin!
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Ketiga Pebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
IMAN MENGALAHKAN KETAKUTAN
Yesaya 12:2
Saudara kekasih di dalam Kristus!
Kita hari ini masih berada di dalam tema bulanan IMAN. Betapa perlunya kita memahami tentang iman. Sebab iman merupakan dasar dari perjalanan hidup setiap orang percaya.
Hari ini kita telah membaca sebuah ayat diambil dari Yesaya 12:2 yang berbicara tentang Allah yang adalah keselamatan kita, olehNya Yesaya percaya dengan tidak gementar, dasarnya karena TUHAN ALLAH itu kekuatan dan mazmurnya…….
Ada dasar bagi orang percaya untuk tidak takut menghadapi apapun, yaitu percaya kepada Dia yang adalah sumber kekuatan. Amin!
Tetapi hari-hari ini, khususnya manusia akhir zaman, hati mereka akan menjadi lemah dan takut karena begitu banyak peristiwa yang sedang terjadi bahkan yang diprediksi akan terjadi. Mata rantai dari krisis global akan mengakibatkan kesulitan dan kesusahan bagi banyak orang. Ekonomi menjadi kacau balau, bursa saham dunia berguguran, sendi-sendi perekonomian dan keuangan berantakan. Negara-negara di dunia sedang bergumul dengan sekuat tenaga untuk berusaha bangkit dari keterpurukan ini. Saat-saat inilah merupakan saat-saat yang dapat membuat orang gementar – kata Yesaya.
Kata gementar dalam Yesaya 12 ini, bukan suatu ketakutan yang biasa-biasa, tetapi ketakutan yang membuat orang menggigil/gemetar. Ini adalah sebuah perasaan takut yang dapat melumpuhkan orang. Sebab perasaan takut ini akan masuk dalam hati dan pikiran serta mengakibatkan tekanan dan kecemasan, dan akhirnya membuat orang tidak dapat menikmati hidup dengan baik.
Yesus tidak pernah bermaksud supaya kita menjadi budak ketakutan, seringkali kita membaca dalam Injil, Dia berkata “Jangan takut, jangan takut!” Yesus ingin kita menolak ketakutan, sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan – 2 Tim. 1:7. Allah tidak mau kita hidup dalam ketakutan.
Orang bisa menjadi penakut, karena dia kurang percaya. Sebab kalau dia percaya bahwa Allah menyertainya, dia pasti tidak takut. Saudara lihat dalam markus 4:35-40. Dikisahkan Yesus bersama murid-murid-Nya menyeberang danau Galilea, ditengah perjalanan tersebut, mengamuklah angin taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu mulai penuh dengan air, artinya perahu sudah mau tenggelam. Siapa yang tidak takut menghadapi peristiwa yang demikian. Bukankah kehidupan saudara dan saya juga sering mengalami hal yang sama? Kehidupan kita ibarat perahu yang sedang berlayar ditengah lautan yang luas, yaitu dunia ini. Seringkalikali kita mengahdapi hantaman angin dan gelombang yang besar. Berapa banyak kali saudara berteriak ketakutan? Tetapi kita mau belajar dari Markus pasal 4 ini. Yesus ada bersama-sama murid-murid di dalam perahu, tetapi mereka membiarkan Yesus tertidur di buritan. Mereka mau coba mengandalkan kebisaan mereka – yaitu keahlian, kepintaran, pengalaman, kemampuan. Jadi seakan-akan mereka mau berkata, “Yesus Engkau istirahat saja, kami bisa berlayar dengan kemampuan kami, kami sudah berpengalaman, kami ‘kan mantan-mantan nelayan di danau ini, jadi kami sudah biasa.” Bukankah saudara juga sering berperilaku seperti demikian? Manusia terlalu sombong dengan kemampuannya sendiri, sehingga pada waktu berhadapan dengan masalah bereka ketakutan. Seperti murid-murid ini, mereka dalam ketakutan akan binasa, lalu datang pada Yesus dan berkata “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Makia Yesus dengan penuh kasih Dia bangun dan menghardik angin itu dan memerintahkan kepada gelombang danau itu :”Diam! Tenanglah!” Lalu semua menjadi tenang. Dan perhatikan, inilah sumber ketakutan itu, Yesus berkata kepada mereka :”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Ketakutan datang karena tidak percaya (Bhs Ingg. Have no faith) – tidak mempunyai iman. Takut dan tidak takut, itu semua bergantung apakah engkau memiliki iman atau tidak memiliki iman. Jadi bagaimana mengatasi ketakutan, jawabannya adalah saudara harus memiliki iman kepada Allah, percaya kepada Firman Allah, sebab hanya Firman Allahlah yang dapat membangkitkan imanmu dan berdoalah senantiasa sampai engkau dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus yang akan memberikan kekuatan dan damai sejahtera kepadamu – Filipi 4:6-7. Amin!
Kamis, 26 Februari 2009
Hidup Oleh Iman
Ringkasan khotbah22.02.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Keempat Pebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
HIDUP OLEH IMAN
Ibrani 10:38
Betapa pentingnya Firman ini, sehingga ayat ini dikutip oleh rasul Paulus dari Perjanjian Lama yaitu Kitab Habakuk 2:4 sebanyak tiga kali ke dalam surat-suratannya kepada jemaat di Roma, Galatia dan kepada orang-orang Ibrani. Betapa pentingnya kita harus hidup oleh iman.
Saya sudah berbicara tentang iman selama tiga minggu berturut-turut, yaitu iman yang merobohkan tembok-tembok penghalang, tindakan iman yang membelah laut masalah, iman yang mengatasi ketakutan, dan hari ini sebagai klimaksnya yaitu kita harus hidup oleh iman.
Saudara-saudara, kita kenal bangsa Israel dari Alkitab, dimana kehidupan mereka di dalam iman kepada Allah, sering maju mundur. Ada kalanya mereka setia, pada lain waktu mereka berontak. Ada kalanya mereka menyembah Allah yang hidup, Allah Abraham Ishak dan Yakub, pada saat yang lain mereka menyembah berhala yang sangat dibenci oleh Allah.
Pada suatu ketika mereka datang minta pertolongan kepada Mesir, karena berperang melawan bangsa Asyur. Mengapa mereka tidak minta pertolongan kepada Allah? Yesaya 31:1 katakan “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yangn begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari Tuhan.” Mereka lebih percaya kepada Mesir dengan segala peralatan perangnya yang kuat dan pasukannya yang besar. Inilah yang mereka andalkan, yaitu apa yang mereka lihat dengan mata mereka. Sehingga Tuhan kecewa dengan bangsa ini. Seringkali juga orang percaya berlaku demikian. Yaitu lebih percaya dengan apa yang dilihatnya, sehingga mereka mau mengandalkan Mesir (hal-hal duniawi), kuda-kuda dan pasukan berkuda (kekuatan dunia) sebagai tempat perlindungan mereka, saya mau katakan, hati-hati, sangat berbahaya. Coba simak Yesaya 36:6 “Sesungguhnya, engkau berharap kepada tongkat bambu yang patah terkulai itu, yaitu Mesir, yang akan menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang kepadanya. Begitulah keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua orang yang berharap kepadanya.” Jangan berharap kepada manusia, engkau akan kecewa, bahkan engkau akan terluka. Daripada berharap kepada dunia, sebaliknya Yesaya 30:15-16 katakan “……. Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal percaya terletak kekuatanmu tetapi kamu enggan, kamu berkata :”Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula :”Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.” Jadi dengan lain, berdoalah dan beriman saja kepada Tuhan, maka kau akan diselamatkan dan mendapatkan kekuatan.
Contoh yang lain lagi dari tokoh Alkitab yang hidup oleh iman adalah Abraham. Kejadian 15:5-6 mengatakan kepada kita, bahwa betapa pentingnya iman, sehingga melaluinya Abraham dibenarkan (Galatia 3:6), bahkan Galatia 3:7 katakan bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan ayat 9 katakan, mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu melalui Kristus yang telah mati tergantung di kayu salib. Dia telah melakukan ini supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain …….. Sebab semua orang yang hidup dari pekerjaan Hukum Taurat, berada dibawah kutuk …. Dan tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, karena “Orang yang benar akan hidup oleh iman.”
Oleh sebab itu saudara-saudaraku dalam Kristus! Jangan tawar hati dalam menghadapi keadaan bagaimanapun juga beratnya, dalam 2 Korintus 5:4-7 “……..sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” Amin!
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Keempat Pebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)
HIDUP OLEH IMAN
Ibrani 10:38
Betapa pentingnya Firman ini, sehingga ayat ini dikutip oleh rasul Paulus dari Perjanjian Lama yaitu Kitab Habakuk 2:4 sebanyak tiga kali ke dalam surat-suratannya kepada jemaat di Roma, Galatia dan kepada orang-orang Ibrani. Betapa pentingnya kita harus hidup oleh iman.
Saya sudah berbicara tentang iman selama tiga minggu berturut-turut, yaitu iman yang merobohkan tembok-tembok penghalang, tindakan iman yang membelah laut masalah, iman yang mengatasi ketakutan, dan hari ini sebagai klimaksnya yaitu kita harus hidup oleh iman.
Saudara-saudara, kita kenal bangsa Israel dari Alkitab, dimana kehidupan mereka di dalam iman kepada Allah, sering maju mundur. Ada kalanya mereka setia, pada lain waktu mereka berontak. Ada kalanya mereka menyembah Allah yang hidup, Allah Abraham Ishak dan Yakub, pada saat yang lain mereka menyembah berhala yang sangat dibenci oleh Allah.
Pada suatu ketika mereka datang minta pertolongan kepada Mesir, karena berperang melawan bangsa Asyur. Mengapa mereka tidak minta pertolongan kepada Allah? Yesaya 31:1 katakan “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yangn begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari Tuhan.” Mereka lebih percaya kepada Mesir dengan segala peralatan perangnya yang kuat dan pasukannya yang besar. Inilah yang mereka andalkan, yaitu apa yang mereka lihat dengan mata mereka. Sehingga Tuhan kecewa dengan bangsa ini. Seringkali juga orang percaya berlaku demikian. Yaitu lebih percaya dengan apa yang dilihatnya, sehingga mereka mau mengandalkan Mesir (hal-hal duniawi), kuda-kuda dan pasukan berkuda (kekuatan dunia) sebagai tempat perlindungan mereka, saya mau katakan, hati-hati, sangat berbahaya. Coba simak Yesaya 36:6 “Sesungguhnya, engkau berharap kepada tongkat bambu yang patah terkulai itu, yaitu Mesir, yang akan menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang kepadanya. Begitulah keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua orang yang berharap kepadanya.” Jangan berharap kepada manusia, engkau akan kecewa, bahkan engkau akan terluka. Daripada berharap kepada dunia, sebaliknya Yesaya 30:15-16 katakan “……. Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal percaya terletak kekuatanmu tetapi kamu enggan, kamu berkata :”Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula :”Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.” Jadi dengan lain, berdoalah dan beriman saja kepada Tuhan, maka kau akan diselamatkan dan mendapatkan kekuatan.
Contoh yang lain lagi dari tokoh Alkitab yang hidup oleh iman adalah Abraham. Kejadian 15:5-6 mengatakan kepada kita, bahwa betapa pentingnya iman, sehingga melaluinya Abraham dibenarkan (Galatia 3:6), bahkan Galatia 3:7 katakan bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan ayat 9 katakan, mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu melalui Kristus yang telah mati tergantung di kayu salib. Dia telah melakukan ini supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain …….. Sebab semua orang yang hidup dari pekerjaan Hukum Taurat, berada dibawah kutuk …. Dan tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, karena “Orang yang benar akan hidup oleh iman.”
Oleh sebab itu saudara-saudaraku dalam Kristus! Jangan tawar hati dalam menghadapi keadaan bagaimanapun juga beratnya, dalam 2 Korintus 5:4-7 “……..sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” Amin!
Rabu, 25 Februari 2009
Esensi Diri
Esensi Diri
Alkisah di suatu desa, ada kabar yang menggembirakan. Orang-orang di desa itu gembira mendengar bahwa putra sulung sang kepala desa akhirnya akan pulang ke desanya setelah meraih gelar sebagai seorang dokter. Rencananya, ia pulang untuk mencari istri alias pendamping hidupnya.
Mendengar si putra sulung kepala desa akan mencari seorang calon istri, Orang-orang di desa sibuk memikirkan putri siapa yang pantas disandingkan dengan putra sulung kepala desa. Ketika berkumpul di aula desa, diputuskanlah bahwa ada 3 orang gadis yang menurut mereka paling sesuai disandingkan dengan putra sulung kepala desa.
Yang pertama adalah putri seorang juragan beras yang kaya di desa. Selain kaya, putri juragan ini sangat cantik dan molek. Perawakannya bak peragawati. Ramping, langsing dan singset. Menurut mereka, inilah pasangan yang cocok bagi putra sulung kepala desa. Yang satu cantik, dan yang lainnya ganteng.
Yang kedua adalah putri bendahara desa. Bendahara desa adalah seorang yang terpelajar, semua anaknya terpelajar. Putri sulung bendahara adalah seorang yang sangat pintar. Ia sangat jeli dan banyak membantu ayahnya. Nantinya ia diharapkan bisa menjadi pengganti ayahnya sebagai bendahara desa. Lagi-lagi, menurut orang-orang desa, inilah pasangan yang ideal. Sama-sama pintar, bendahara pintar dan dokter hebat.
Yang ketiga adalah putri seorang dokter desa. Menurut orang-orang desa, pasangan ini ideal ‘wong sama-sama dokter. Apalagi yang kurang?
Lalu, tibalah saat yang mendebarkan bagi seluruh isi desa. Putra sulung kepala desa akhirnya tiba di desa. Untuk membuktikan pilihan siapa yang paling tepat. Maka bergiliranlah putri si juragan, putri bendahara desa, dan putri dokter desa bertandang ke rumah Pak kepala desa untuk berkenalan dengan putra sulung pak kepala desa. Tiga hari berturut-turut mereka berdatangan. Tetapi, tidak ada satupun dari mereka yang dipilih oleh putra sulung kepala desa menjadi istrinya. Orang-orang di desa terheran-heran akan kenyataan ini.
Satu bulan kemudian, putra sulung kepala desa meminang putri seorang tukang kayu. Setelah melangsungkan pernikahan, mereka langsung meninggalkan desa, menuju ke kota tempat praktek si putra sulung sebagai dokter.
Setelah kepergian mereka, orang-orang desa yang penasaran bertanya kepada Pak kepala desa. “Bapak, kenapa anak bapak malah memilih anak seorang tukang kayu menjadi istrinya?” Dengan tersenyum pak kepala desa menjawab,”Ia sudah memilih yang terbaik. Ia memilih apa yang ada di dalam, bukan apa yang tampak di luar.”
“Maksud bapak?” Tanya orang-orang desa yang penasaran.
Lalu pak kepala desa menjelaskan dengan bijaksana “Benar, bukan putri juragan yang cantik, molek, dan langsing yang dipilih anakku. Karena, ia tidak melihat fisik seseorang. Wajah yang cantik, tubuh yang langsing tidak akan bertahan lama. Ia akan pudar seiring waktu. Bukan juga, putri bendahara desa yang pintar. Karena, kepintaran tidak menjamin apapun. Ia juga tidak memilih putri dokter desa. Karena, profesi hanyalah bagian dari pekerjaan seseorang. Bukan menentukan bagaimana sebenarnya orang itu”
“Kalau akhirnya anakku memilih putri si tukang kayu, itu lebih karena esensi diri yang baik. Putri si tukang kayu setiap sore selalu menyempatkan diri memberi minum pada beberapa kelinci yang tidak ia pelihara. Meskipun ia telah lelah membantu ayahnya bekerja. Esensi dirinya yang sederhana, tulus, dan rela melakukan pekerjaan yang sekecil apapun membuat anakku memilihnya sebagai pendamping hidupnya. Itu adalah hal yang terpenting bagi anakku.”
From:email
Alkisah di suatu desa, ada kabar yang menggembirakan. Orang-orang di desa itu gembira mendengar bahwa putra sulung sang kepala desa akhirnya akan pulang ke desanya setelah meraih gelar sebagai seorang dokter. Rencananya, ia pulang untuk mencari istri alias pendamping hidupnya.
Mendengar si putra sulung kepala desa akan mencari seorang calon istri, Orang-orang di desa sibuk memikirkan putri siapa yang pantas disandingkan dengan putra sulung kepala desa. Ketika berkumpul di aula desa, diputuskanlah bahwa ada 3 orang gadis yang menurut mereka paling sesuai disandingkan dengan putra sulung kepala desa.
Yang pertama adalah putri seorang juragan beras yang kaya di desa. Selain kaya, putri juragan ini sangat cantik dan molek. Perawakannya bak peragawati. Ramping, langsing dan singset. Menurut mereka, inilah pasangan yang cocok bagi putra sulung kepala desa. Yang satu cantik, dan yang lainnya ganteng.
Yang kedua adalah putri bendahara desa. Bendahara desa adalah seorang yang terpelajar, semua anaknya terpelajar. Putri sulung bendahara adalah seorang yang sangat pintar. Ia sangat jeli dan banyak membantu ayahnya. Nantinya ia diharapkan bisa menjadi pengganti ayahnya sebagai bendahara desa. Lagi-lagi, menurut orang-orang desa, inilah pasangan yang ideal. Sama-sama pintar, bendahara pintar dan dokter hebat.
Yang ketiga adalah putri seorang dokter desa. Menurut orang-orang desa, pasangan ini ideal ‘wong sama-sama dokter. Apalagi yang kurang?
Lalu, tibalah saat yang mendebarkan bagi seluruh isi desa. Putra sulung kepala desa akhirnya tiba di desa. Untuk membuktikan pilihan siapa yang paling tepat. Maka bergiliranlah putri si juragan, putri bendahara desa, dan putri dokter desa bertandang ke rumah Pak kepala desa untuk berkenalan dengan putra sulung pak kepala desa. Tiga hari berturut-turut mereka berdatangan. Tetapi, tidak ada satupun dari mereka yang dipilih oleh putra sulung kepala desa menjadi istrinya. Orang-orang di desa terheran-heran akan kenyataan ini.
Satu bulan kemudian, putra sulung kepala desa meminang putri seorang tukang kayu. Setelah melangsungkan pernikahan, mereka langsung meninggalkan desa, menuju ke kota tempat praktek si putra sulung sebagai dokter.
Setelah kepergian mereka, orang-orang desa yang penasaran bertanya kepada Pak kepala desa. “Bapak, kenapa anak bapak malah memilih anak seorang tukang kayu menjadi istrinya?” Dengan tersenyum pak kepala desa menjawab,”Ia sudah memilih yang terbaik. Ia memilih apa yang ada di dalam, bukan apa yang tampak di luar.”
“Maksud bapak?” Tanya orang-orang desa yang penasaran.
Lalu pak kepala desa menjelaskan dengan bijaksana “Benar, bukan putri juragan yang cantik, molek, dan langsing yang dipilih anakku. Karena, ia tidak melihat fisik seseorang. Wajah yang cantik, tubuh yang langsing tidak akan bertahan lama. Ia akan pudar seiring waktu. Bukan juga, putri bendahara desa yang pintar. Karena, kepintaran tidak menjamin apapun. Ia juga tidak memilih putri dokter desa. Karena, profesi hanyalah bagian dari pekerjaan seseorang. Bukan menentukan bagaimana sebenarnya orang itu”
“Kalau akhirnya anakku memilih putri si tukang kayu, itu lebih karena esensi diri yang baik. Putri si tukang kayu setiap sore selalu menyempatkan diri memberi minum pada beberapa kelinci yang tidak ia pelihara. Meskipun ia telah lelah membantu ayahnya bekerja. Esensi dirinya yang sederhana, tulus, dan rela melakukan pekerjaan yang sekecil apapun membuat anakku memilihnya sebagai pendamping hidupnya. Itu adalah hal yang terpenting bagi anakku.”
From:email
Selasa, 24 Februari 2009
Tempaan Emas
Saat tukang emas sedang membentuk emas menjadi bentuk yang diinginkannya, tukang emas memiliki 2 pilihan utama yakni terus membentuknya hingga emas itu terbentuk seperti yang diinginkannya atau berhenti dan melakukan hal yang lainnya. Ada konsekuensi dari tiap pilihan tukang emas tersebut.
Pilihan pertama, membentuk hingga emas tersebut terbentuk sesuai dengan yang diinginkannya. Pilihan ini membawa konsekuensi pada usaha yang terus menerus dan hanya berhenti sebentar untuk memastikan bahwa arah bentuk emasnya sudah hampir sempurna. Prosesnya tempa-cek-tempa-cek-tempa-cek terus menerus hingga akhirnya jadilah seperti bentuk yang diinginkannya. Untuk dapat konsisten terus menerus melakukan proses ini, dibutuhkan kesabaran, keuletan dan dedikasi yang tinggi. Bila tidak, emas tersebut akan terbentuk hanya seperti sempurna.
Pilihan kedua, berhenti karena alasan apapun. Pilihan ini membawa konsekuensi jika suatu saat tukang emas itu ingin membentuk emasnya, maka ia harus mulai dari awal proses. Semua harus diulang, langkah demi langkah, tempaan demi tempaan. Pilihan kedua mempunyai efek perjuangan yang lebih berat karena proses yang sama harus diulang dua kali.
Tidak ada bedanya jika kita dalam hidup ini adalah sebagai tukang emasnya ataupun sebagai emasnya. Sebagai tukang emas, kita berperan untuk membentuk sesuatu seperti yang kita inginkan. Sebagai emasnya, kita adalah pihak yang sedang dibentuk untuk menjadi yang diinginkan ’tukang emas’ kita. Apapaun diri kita dalam kontek ini, jika kita berhenti sebelum proses selesai, maka, kita pasti harus memulai dari awal untuk menuju bagian yang seharusnya telah kita selesaikan.
Perjuangan tidak pernah ringan, tidak pernah menyenangkan dan selalu ada pengorbanan. Namun pada saat kemenangan, kita akan melihat setiap hal yang kita lewati dan korbankan, saat itulah, kita akan bangga atas penderitaan kita. Karena kita menang atas penderitaan kita. Kebanggaan manusia adalah penderitaannya karena tidak ada seseorangpun yang dapat berbangga akan sesuatu yang didapatkannya dengan percuma. Tidak ada seorang pemenang lomba yang tidak bangga atas setiap ringangan lomba yang berhasil diatasinya.
Jangan takut ditempa – Jangan takut menderita
Perjuangan adalah proses
Penderitaan adalah kebanggaan sang pemenang
From;email
Pilihan pertama, membentuk hingga emas tersebut terbentuk sesuai dengan yang diinginkannya. Pilihan ini membawa konsekuensi pada usaha yang terus menerus dan hanya berhenti sebentar untuk memastikan bahwa arah bentuk emasnya sudah hampir sempurna. Prosesnya tempa-cek-tempa-cek-tempa-cek terus menerus hingga akhirnya jadilah seperti bentuk yang diinginkannya. Untuk dapat konsisten terus menerus melakukan proses ini, dibutuhkan kesabaran, keuletan dan dedikasi yang tinggi. Bila tidak, emas tersebut akan terbentuk hanya seperti sempurna.
Pilihan kedua, berhenti karena alasan apapun. Pilihan ini membawa konsekuensi jika suatu saat tukang emas itu ingin membentuk emasnya, maka ia harus mulai dari awal proses. Semua harus diulang, langkah demi langkah, tempaan demi tempaan. Pilihan kedua mempunyai efek perjuangan yang lebih berat karena proses yang sama harus diulang dua kali.
Tidak ada bedanya jika kita dalam hidup ini adalah sebagai tukang emasnya ataupun sebagai emasnya. Sebagai tukang emas, kita berperan untuk membentuk sesuatu seperti yang kita inginkan. Sebagai emasnya, kita adalah pihak yang sedang dibentuk untuk menjadi yang diinginkan ’tukang emas’ kita. Apapaun diri kita dalam kontek ini, jika kita berhenti sebelum proses selesai, maka, kita pasti harus memulai dari awal untuk menuju bagian yang seharusnya telah kita selesaikan.
Perjuangan tidak pernah ringan, tidak pernah menyenangkan dan selalu ada pengorbanan. Namun pada saat kemenangan, kita akan melihat setiap hal yang kita lewati dan korbankan, saat itulah, kita akan bangga atas penderitaan kita. Karena kita menang atas penderitaan kita. Kebanggaan manusia adalah penderitaannya karena tidak ada seseorangpun yang dapat berbangga akan sesuatu yang didapatkannya dengan percuma. Tidak ada seorang pemenang lomba yang tidak bangga atas setiap ringangan lomba yang berhasil diatasinya.
Jangan takut ditempa – Jangan takut menderita
Perjuangan adalah proses
Penderitaan adalah kebanggaan sang pemenang
From;email
Senin, 23 Februari 2009
Everything Happened For A Reason (True Story)
The brand new pastor and his wife, newly assigned
to their first ministry, to reopen a church
in suburban Brooklyn , arrived in early October
excited about their opportunities When they saw
their church, it was very run down and needed
much work. They set a goal to have everything
done in time to have their first service
on Christmas Eve.
T hey worked hard, repairing pews, plastering walls,
painting, etc, and on December 18
were ahead of schedule and just about finished.
O n December 19 a terrible tempest - a driving
rainstorm hit the area and lasted for two days.
O n the 21st, the pastor went over to the church.
His heart sank when he saw that the roof had
leaked, causing a large area of plaster about
20 feet by 8 feet to fall off the front wall of the
sanctuary just behind the pulpit, beginning about
head high.
T he pastor cleaned up the mess on the floor,
and not knowing what else to do but postpone
the Christmas Eve service, headed home.
On the way he noticed that a local business was
having a flea market type sale for charity so he
stopped in. One of the items was a beautiful,
handmade, ivory colored, crocheted tablecloth
with exquisite work, fine colors and a Cross
embroidered right in the center. It was just
the right size to cover up the hole in the front
wall. He bought it and headed back to the church.
B y this time it had started to snow. An older
woman running from the opposite direction was
trying to catch the bus.. She missed it. The pastor
invited her to wait in the warm church for
the next bus 45 minutes later.
She sat in a pew and paid no attention to the pastor
while he got a ladder, hangers, etc., to put
up the tablecloth as a wall tapestry. The pastor
could hardly believe how beautiful it looked and
it covered up the entire problem area.
T hen he noticed the woman walking down the center
aisle. Her face was like a sheet.. "Pastor,"
she asked, "where did you get that tablecloth?"
The pastor explained. The woman asked him to check
the lower right corner to see if the initials, EBG were crocheted into
it there. They were. These were the initials of the woman, and she had
made this tablecloth 35 years before, in Austria
T he woman could hardly believe it as the pastor
told how he had just gotten the Tablecloth. The
woman explained that before the war she and
her husband were well-to-do people in Austria .
When the Nazis came, she was forced to leave.
Her husband was going to follow her the next week.
He was captured, sent to prison and never saw her
husband or her home again.
T he pastor wanted to give her the tablecloth;
but she made the pastor keep it for the church.
The pastor insisted on driving her home, that
was the least he could do.. She lived on the other
side of Staten Island and was only in Brooklyn
for the day for a housecleaning job.
W hat a wonderful service they had on Christmas
Eve. The church was almost full. The music and the
spirit were great. At the end of the service, the
pastor and his wife greeted everyone at the door
and many said that they would return.
One older man, whom the pastor recognized
from the neighborhood continued to sit in one of the
pews and stare, and the pastor wondered why he
wasn't leaving.
The man asked him where he got the tablecloth on
the front wall because it was identical to one
that his wife had made years ago when
they lived in Austria before the war and how
could there be two tablecloths so much alike.
H e told the pastor how the Nazis came, how he
forced his wife to flee for her safety and he was
supposed to follow her, but he was arrested and
put in a prison.. He never saw his wife or his home
again all the 35 years in between.
T he pastor asked him if he would allow him to
take him for a little ride. They drove to Staten
Island and to the same house where the pastor
had taken the woman three days earlier.
H e helped the man climb the three flights of
stairs to the woman's apartment, knocked on
the door and he saw the greatest Christmas
reunion he could ever imagine.
T rue Story - submitted by Pastor Rob Reid
Sometimes we hit the bottom down of life, and we scream and cursed everything for all the bad things happen to us. But there's nothing that happen for no reason. Life it self is a big mystery that cant be explain with thoughts.
so if bad things happen to u, just say grace n u'll see that it did happen for a reason.
From:email
to their first ministry, to reopen a church
in suburban Brooklyn , arrived in early October
excited about their opportunities When they saw
their church, it was very run down and needed
much work. They set a goal to have everything
done in time to have their first service
on Christmas Eve.
T hey worked hard, repairing pews, plastering walls,
painting, etc, and on December 18
were ahead of schedule and just about finished.
O n December 19 a terrible tempest - a driving
rainstorm hit the area and lasted for two days.
O n the 21st, the pastor went over to the church.
His heart sank when he saw that the roof had
leaked, causing a large area of plaster about
20 feet by 8 feet to fall off the front wall of the
sanctuary just behind the pulpit, beginning about
head high.
T he pastor cleaned up the mess on the floor,
and not knowing what else to do but postpone
the Christmas Eve service, headed home.
On the way he noticed that a local business was
having a flea market type sale for charity so he
stopped in. One of the items was a beautiful,
handmade, ivory colored, crocheted tablecloth
with exquisite work, fine colors and a Cross
embroidered right in the center. It was just
the right size to cover up the hole in the front
wall. He bought it and headed back to the church.
B y this time it had started to snow. An older
woman running from the opposite direction was
trying to catch the bus.. She missed it. The pastor
invited her to wait in the warm church for
the next bus 45 minutes later.
She sat in a pew and paid no attention to the pastor
while he got a ladder, hangers, etc., to put
up the tablecloth as a wall tapestry. The pastor
could hardly believe how beautiful it looked and
it covered up the entire problem area.
T hen he noticed the woman walking down the center
aisle. Her face was like a sheet.. "Pastor,"
she asked, "where did you get that tablecloth?"
The pastor explained. The woman asked him to check
the lower right corner to see if the initials, EBG were crocheted into
it there. They were. These were the initials of the woman, and she had
made this tablecloth 35 years before, in Austria
T he woman could hardly believe it as the pastor
told how he had just gotten the Tablecloth. The
woman explained that before the war she and
her husband were well-to-do people in Austria .
When the Nazis came, she was forced to leave.
Her husband was going to follow her the next week.
He was captured, sent to prison and never saw her
husband or her home again.
T he pastor wanted to give her the tablecloth;
but she made the pastor keep it for the church.
The pastor insisted on driving her home, that
was the least he could do.. She lived on the other
side of Staten Island and was only in Brooklyn
for the day for a housecleaning job.
W hat a wonderful service they had on Christmas
Eve. The church was almost full. The music and the
spirit were great. At the end of the service, the
pastor and his wife greeted everyone at the door
and many said that they would return.
One older man, whom the pastor recognized
from the neighborhood continued to sit in one of the
pews and stare, and the pastor wondered why he
wasn't leaving.
The man asked him where he got the tablecloth on
the front wall because it was identical to one
that his wife had made years ago when
they lived in Austria before the war and how
could there be two tablecloths so much alike.
H e told the pastor how the Nazis came, how he
forced his wife to flee for her safety and he was
supposed to follow her, but he was arrested and
put in a prison.. He never saw his wife or his home
again all the 35 years in between.
T he pastor asked him if he would allow him to
take him for a little ride. They drove to Staten
Island and to the same house where the pastor
had taken the woman three days earlier.
H e helped the man climb the three flights of
stairs to the woman's apartment, knocked on
the door and he saw the greatest Christmas
reunion he could ever imagine.
T rue Story - submitted by Pastor Rob Reid
Sometimes we hit the bottom down of life, and we scream and cursed everything for all the bad things happen to us. But there's nothing that happen for no reason. Life it self is a big mystery that cant be explain with thoughts.
so if bad things happen to u, just say grace n u'll see that it did happen for a reason.
From:email
Jumat, 20 Februari 2009
Menjadi Pribadi Yang Disukai
Menjadi Pribadi yang Disukai
Kata kunci yang harus diperhatikan dalam berhubungan dengan orang lain adalah harga diri. Begitu pentingnya harga diri, sehingga tidak sedikit orang yang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan harga dirinya. Untuk menjadi pribadi yang disukai, harus terus belajar memuaskan harga diri orang lain. Karena dengan harga diri yang terpuaskan, orang bisa menjadi lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih bersahabat.
1.ROYALAH DALAM MEMBERI PUJIAN
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkan rasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau Anda selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, Anda berada pada posisi yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar untuk selalu melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu pujilah dengan tulus.
2.BUATLAH ORANG LAIN MERASA DIRINYA SEBAGAI ORANG PENTING
Tunjukkanlah dengan sikap dan ucapan bahwa anda menganggap orang lain itu penting. Misalnya, jangan biarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakanlah maaf bila salah, tepatilah janji, dsb.
3.JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Kalau bicara itu perak dan diam itu emas, maka pendengar yang baik lebih mulia dari keduanya. Pendengar yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh semua orang. Berilah kesempatan kepada orang lain untuk bicara, ajukan pertanyaan dan buat dia bergairah untuk terus bicara. Dengarkanlah dengan antusias, dan jangan menilai atau menasehatinya bila tidak diminta.
4.USAHAKANLAH UNTUK SELALU MENYEBUTKAN NAMA ORANG DENGAN BENAR
Nama adalah milik berharga yang bersifat sangat pribadi. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut secara salah atau sembarangan. Kalau ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan dan menulis namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu ditulisnya William, atau Wilhem? Sementara bicara, sebutlah namanya sesering mungkin. Menyebut Andre lebih baik dibandingkan Anda. Pak Peter lebih enak kedengarannya daripada sekedar Bapak.
5.BERSIKAPLAH RAMAH
Semua orang senang bila diperlakukan dengan ramah. Keramahan membuat orang lain merasa diterima dan dihargai. Keramahan membuat orang merasa betah berada di dekat Anda.
6.BERMURAH HATILAH
Anda tidak akan menjadi miskin karena memberi dan tidak akan kekurangan karena berbagi. Seorang yang sangat bijak pernah menulis, Orang yang murah hati berbuat baik kepada dirinya sendiri. Dengan demikian kemurahan hati disatu sisi baik buat Anda, dan disisi lain berguna bagi orang lain.
7.HINDARI KEBIASAAN MENGKRITIK, MENCELA ATAU MENGANGGAP REMEH
Umumnya orang tidak suka bila kelemahannya diketahui oleh orang lain, apalagi dipermalukan. Semua itu menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang mempertahankan diri dengan sikap yang tidak bersahabat.
8.BERSIKAPLAH ASERTIF
Orang yang disukai bukanlah orang yang selalu berkata Ya, tetapi orang yang bisa berkata Tidak bila diperlukan. Sewaktu-waktu bisa saja prinsip atau pendapat Anda berseberangan dengan orang lain. Anda tidak harus menyesuaikan diri atau memaksakan mereka menyesuaikan diri dengan Anda. Jangan takut untuk berbeda dengan orang lain. Yang penting perbedaan itu tidak menimbulkan konflik, tapi menimbulkan sikap saling pengertian. Sikap asertif selalu lebih dihargai dibanndingkan sikap Yesman.
9.PERBUATLAH APA YANG ANDA INGIN ORANG LAIN PERBUAT KEPADA ANDA
Perlakuan apapun yang anda inginkan dari orang lain yang dapat menyukakan hati, itulah yang harus anda lakukuan terlebih dahulu. Anda harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Misalnya, bila ingin diperhatikan, mulailah memberi perhatian. Bila ingin dihargai, mulailah menghargai orang lain.
10.CINTAILAH DIRI SENDIRI
Mencintai diri sendiri berarti menerima diri apa adanya, menyukai dan melakukan apapun yang terbaik untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan egois yang berarti mementingkan diri sendiri atau egosentris yang berarti berpusat kepada diri sendiri. Semakin Anda menyukai diri sendiri, semakin mudah Anda menyukai orang lain, maka semakin besar peluang Anda untuk disukai orang lain. Dengan menerima dan menyukai diri sendiri, Anda akan mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, menerima mereka dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, bekerjasama dengan mereka dan menyukai mereka. Pada saat yang sama tanpa disadari Anda memancarkan pesona pribadi yang bisa membuat orang lain menyukai Anda.
From:email
Kata kunci yang harus diperhatikan dalam berhubungan dengan orang lain adalah harga diri. Begitu pentingnya harga diri, sehingga tidak sedikit orang yang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan harga dirinya. Untuk menjadi pribadi yang disukai, harus terus belajar memuaskan harga diri orang lain. Karena dengan harga diri yang terpuaskan, orang bisa menjadi lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih bersahabat.
1.ROYALAH DALAM MEMBERI PUJIAN
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkan rasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau Anda selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, Anda berada pada posisi yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar untuk selalu melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu pujilah dengan tulus.
2.BUATLAH ORANG LAIN MERASA DIRINYA SEBAGAI ORANG PENTING
Tunjukkanlah dengan sikap dan ucapan bahwa anda menganggap orang lain itu penting. Misalnya, jangan biarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakanlah maaf bila salah, tepatilah janji, dsb.
3.JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Kalau bicara itu perak dan diam itu emas, maka pendengar yang baik lebih mulia dari keduanya. Pendengar yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh semua orang. Berilah kesempatan kepada orang lain untuk bicara, ajukan pertanyaan dan buat dia bergairah untuk terus bicara. Dengarkanlah dengan antusias, dan jangan menilai atau menasehatinya bila tidak diminta.
4.USAHAKANLAH UNTUK SELALU MENYEBUTKAN NAMA ORANG DENGAN BENAR
Nama adalah milik berharga yang bersifat sangat pribadi. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut secara salah atau sembarangan. Kalau ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan dan menulis namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu ditulisnya William, atau Wilhem? Sementara bicara, sebutlah namanya sesering mungkin. Menyebut Andre lebih baik dibandingkan Anda. Pak Peter lebih enak kedengarannya daripada sekedar Bapak.
5.BERSIKAPLAH RAMAH
Semua orang senang bila diperlakukan dengan ramah. Keramahan membuat orang lain merasa diterima dan dihargai. Keramahan membuat orang merasa betah berada di dekat Anda.
6.BERMURAH HATILAH
Anda tidak akan menjadi miskin karena memberi dan tidak akan kekurangan karena berbagi. Seorang yang sangat bijak pernah menulis, Orang yang murah hati berbuat baik kepada dirinya sendiri. Dengan demikian kemurahan hati disatu sisi baik buat Anda, dan disisi lain berguna bagi orang lain.
7.HINDARI KEBIASAAN MENGKRITIK, MENCELA ATAU MENGANGGAP REMEH
Umumnya orang tidak suka bila kelemahannya diketahui oleh orang lain, apalagi dipermalukan. Semua itu menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang mempertahankan diri dengan sikap yang tidak bersahabat.
8.BERSIKAPLAH ASERTIF
Orang yang disukai bukanlah orang yang selalu berkata Ya, tetapi orang yang bisa berkata Tidak bila diperlukan. Sewaktu-waktu bisa saja prinsip atau pendapat Anda berseberangan dengan orang lain. Anda tidak harus menyesuaikan diri atau memaksakan mereka menyesuaikan diri dengan Anda. Jangan takut untuk berbeda dengan orang lain. Yang penting perbedaan itu tidak menimbulkan konflik, tapi menimbulkan sikap saling pengertian. Sikap asertif selalu lebih dihargai dibanndingkan sikap Yesman.
9.PERBUATLAH APA YANG ANDA INGIN ORANG LAIN PERBUAT KEPADA ANDA
Perlakuan apapun yang anda inginkan dari orang lain yang dapat menyukakan hati, itulah yang harus anda lakukuan terlebih dahulu. Anda harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Misalnya, bila ingin diperhatikan, mulailah memberi perhatian. Bila ingin dihargai, mulailah menghargai orang lain.
10.CINTAILAH DIRI SENDIRI
Mencintai diri sendiri berarti menerima diri apa adanya, menyukai dan melakukan apapun yang terbaik untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan egois yang berarti mementingkan diri sendiri atau egosentris yang berarti berpusat kepada diri sendiri. Semakin Anda menyukai diri sendiri, semakin mudah Anda menyukai orang lain, maka semakin besar peluang Anda untuk disukai orang lain. Dengan menerima dan menyukai diri sendiri, Anda akan mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, menerima mereka dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, bekerjasama dengan mereka dan menyukai mereka. Pada saat yang sama tanpa disadari Anda memancarkan pesona pribadi yang bisa membuat orang lain menyukai Anda.
From:email
Langganan:
Postingan (Atom)
