Rabu, 17 Desember 2008

Akibat Berpikiran Sempit

Akibat berpikiran Sempit
Alkisah, pada suatu kala hiduplah seorang pemuda yang hidup bersama kedua orang tuanya yang sudah tua. Kehidupan mereka boleh dibilang biasa-biasa saja, malah kadang-kadang serba kekurangan. Pemuda itu bekerja sebagai seorang buruh untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Usia kedua orang tuanya yang sudah tua membuat mereka tidak memungkinkan lagi untuk bekerja mencari nafkah.

Pada suatu hari ayah pemuda itu sakit keras. Sayangnya, pemuda itu tidak memiliki cukup uang untuk biaya pengobatan ayahnya. Akhirnya, sang ayah tersebut hanya bisa diberi pengobatan sekadarnya, padahal pertolongan dari dokter sangatlah penting. Dari hari ke hari penyakit ayahnya semakin memburuk dikarenakan tidak adanya pengobatan dari dokter. Sampai suatu hari mereka memperoleh keberuntungan yang tidak disangka-sangka. Mereka diberi uang yang cukup banyak oleh orang yang tak diketahui identitasnya. Orang tersebut menulis di kertas dan berpesan agar uang tersebut digunakan untuk biaya dokter dan pengobatan ayahnya.

Pemuda tersebut dan ibunya sungguh bahagia bukan main mendapat rezeki durian runtuh dari seseorang yang tidak diketahui. Setelah beberapa hari, ayah pemuda itu semakin membaik kesehatannya dan akhirnya sembuh dari sakitnya, berkat perawatan dari dokter.

Suatu hari pada saat berjalan pulang dengan membawa makanan yang dibelinya, tiba-tiba seseorang di depan menabraknya dengan cukup keras dan menyebabkan makanan yang dibeli terjatuh berserakan di jalanan. Ternyata orang yang menabraknya adalah tetangga sebelahnya yang cukup kaya. Pemuda itu memang dari dulu tidak begitu suka dengan tetangganya karena ia kaya dan menurutnya agak sombong. Langsung saja pemuda itu memaki orang tadi sehingga membuat orang-orang disekeliling menoleh melihat mereka. Walaupun tetangganya terus-menerus meminta maaf dan akan mengganti makanan yang terjatuh, ia terus saja berteriak marah-marah dengan wajah mengerikan. Meskipun begitu, tetangga itu tetap tenang dan tidak tersinggung. Pemuda itu menyalahkannya meskipun bukan sepenuhnya kesalahannya. Pemuda itu juga tidak melihat ke depan sehingga bertabrakan. Kejadian itu membuatnya semakin menyalakan api kebencian kepada tetangganya.

Setelah ia pulang ke rumah, ibunya bergegas memanggilnya dan berkata, “Anakku, tahukah kamu siapa sebenarnya orang yang sudah berbaik hati memberikan uang kepada kita untuk biaya pengobatan ayahmu?” Pemuda itu menggelengkan kepala sambil merasa penasaran siapa sebenarnya orang tak dikenal yang sangat dermawan itu. Kemudian ibunya dengan antusias berkata, “Orang itu adalah tetangga kita yang di sebelah, ia sendiri yang mengatakannya setelah menjenguk ayahmu tadi. Ia benar-benar baik, tutur katanya sopan dan rendah hati walaupun kaya. Kamu harus ke rumahnya untuk berterima kasih atas kebaikan hatinya.”

Mendengar kenyataan ini, pemuda itu merasa malu karena ia tadi baru saja memarahi tetangganya habis-habisan di jalan, padahal ia tak sengaja menabraknya. Ia merasa tak seharusnya ia seperti itu hanya karena persoalan kecil.

---

Ada sebuah kutipan yang mengatakan bahwa kita harus melihat kesalahan orang lain seperti melihat melalui lensa cekung dan melihat kebaikan orang lain seperti melihat melalui lensa cembung. Artinya kita tidak perlu mengingat kesalahan orang lain. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengingat kebaikan-kebaikan yang dimiliki oleh seseorang, apalagi kebaikan yang telah dilakukannya untuk kita.

Mungkin Anda sekarang sedang benci, merasa iri atau dengki terhadap orang lain hanya dikarenakan Anda tidak menyukai mereka, atau mereka bersalah kepada Anda atau bahkan Anda terlalu fokus kepada keburukan orang lain sehingga Anda menutup mata terhadap kebaikan yang mereka miliki. Anda sepatutnya memaafkan kesalahan mereka, karena tidak ada orang yang dapat luput dari kesalahan. Lihat kebaikan yang mereka miliki, maka Anda akan terbebas dari perasaan benci, tidak suka, iri maupun dengki.

Begitu juga dalam berinteraksi dengan orang lain. Jika Anda selalu berfokus pada kebaikan-kebaikan yang mereka miliki, maka Anda akan lebih bersikap hangat yang dapat menciptakan komunikasi yang harmonis. Dan orang lain pun akan merasa bahwa Anda adalah orang yang menyenangkan.

From:email

Selasa, 16 Desember 2008

A Blind Boy

A Blind Boy

A blind boy sat on the steps of a building with a hat by his feet. He held up a sign which said: 'I am blind, please help.' There were only a few coins in the hat.

A man was walking by. He took a few coins from his pocket and dropped them into the hat. He then took the sign, turned it around, and wrote some words. He put the sign back so that everyone who walked by would see the new words.

Soon the hat began to fill up. A lot more people were giving money to the blind boy. That afternoon the man who had changed the sign came to see how things were. The boy recognized his footsteps and asked, 'Were you the one who changed my sign this morning? What did you write?'

The man said, 'I only wrote the truth. I said what you said but in a different way.'
What he had written was: 'Today is a beautiful day and I cannot see it.'

Do you think the first sign and the second sign were saying the same thing?

Of course both signs told people the boy was blind. But the first sign simply said the boy was blind. The second sign told people they were so lucky that they were not blind. Should we be surprised that the second sign was more effective?


Moral of the Story: Be thankful for what you have. Be creative. Be innovative. Think differently and positively.

Invite others towards good with wisdom. Live life with no excuse and love with no regrets. When life gives you a 100 reasons to cry, show life that you have 1000 reasons to smile. Face your past without regret. Handle your present with confidence. Prepare for the future without fear. Keep the faith and drop the fear.


Great men say, 'Life has to be an incessant process of repair and reconstruction, of discarding evil and developing goodness…. In the journey of life, if you want to travel without fear, you must have the ticket of a good conscience.'

The most beautiful thing is to see a person smiling…
And even more beautiful is, knowing that you are the reason behind it!!!

From:email

Senin, 15 Desember 2008

Kisah Tentang Uang

kisah tentang uang
Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di tempat yang sama, dengan bahan dan alat-alat yang sama. Pertama kali keluar, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Setelah tiga bulan lamanya berpisah, mereka bertemu lagi dalam dompet seseorang dengan kondisi yang berbeda

SERATUS RIBU: “Ya, ampuunnnn. ……… darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan….. bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren ….
Ada apa denganmu?”

SERIBU : (dengan tatapan sendu) : “Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk,,

Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. ……”

SERATUS RIBU : (dengan prihatin) “Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan!
Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis.

Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang sekali aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan…… aku juga jarang bertemu dengan teman-temanmu. ”

SERIBU : Ughhh . . . (sambil menarik nafas lega)
“Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman.
Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!”

SERATUS RIBU : (dengan rasa penasaran), “Apa Itu?”

SERIBU : “Aku sering bertemu teman-temanku di kantong-kantong kolekte di gereja atau di tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana…..”

From:email

Jumat, 12 Desember 2008

Memohon bukan Untuk Menang

memohon bukan untuk menang

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan terbuat dari kayu. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Seorang anak kecil bernama Dinzi, dengan tubuh yang kecil dan Mobil tak istimewa, termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya yang berbadan besar, Dinzi lah yang paling kecil, mobil’nya pun paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsingkan Dinzi dan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sangat sederhana, roda dari sandal jepit, tentu tak sekokoh dengan mobil mainan lainnya. Namun, Dinzi bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu hasil kerja kerasnya.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 “pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Dinzi meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”

Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo…ayo…cepat…cepat, maju…maju”, begitu teriak mereka.

Dan tali lintasan finish pun telah terlambai, Dinzi lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Dinzi. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati “Terima kasih.”

Saat pembagian piala tiba. Dinzi maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada agar kamu menang, bukan?”.

Dinzi terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan” kata Dinzi.
Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil untuk memohon dan meminta untuk menolongmu mengalahkan orang lain. Aku , hanya bermohon, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.”

Renungan :
Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa. Memohon agar setiap permintaan kita dikabulkan. Terlalu sering juga kita meminta untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukanlah yang kita butuh adalah bimbingan, tuntunan, dan panduan ??

Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Ujian hidup yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah...

From:email

Jumat, 05 Desember 2008

Kegelapan Yang Paling Gelap 6

Kegelapan Yang Paling Gelap 6
Oleh : Pdt. A.H Mandey

Ceritera yang kedua, kita lihat dalam Matius 22:11-14 :"Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: hai saudara, bagaimana engkau masuk kemari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya:Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, disanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipih".

Disini sekalai lagi dalam ayat 1 dan 2 mulai dengan berkata :"lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka, hal kerajaan sorga seumpama seorang raja yang mengedakan perjamuan kawin untuk anaknya" Dia bicara disini hal apa? Hal kerajaan sorga. Hal kerajaan sorgalah yang Dia kemukakan. Lalu datang ke ayat 11 :"ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu..." - sebab dia bikin pesta pernikahan, semua orang diundang, kemudian raja itu masuk ke ruangan pesta, untuk bertemu dengan tamu-tamu itu - "...ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya:Hai saudara, bagaimana engkau masuk kemari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu kedalam kegelapan yang paling gelap, disanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Lagi disini kita membaca orang dibuang kedalam kegelapan yang diluar. Orang percaya atau bukan mereka ini? Saya yakin bahwa ini adalah orang-orang yang memang sudah percaya kepada Tuhan. Tetapi apa sebab mereka dibuang kedalam kegelapan yang paling gelap? Apa konteksnya? baca ayat-ayat sebelumnya. Apalah sebabnya? Tidak berpakaian pesta, sehingga ia dibuang kedalam kegelapan yang paling gelap. Sama seperti tadi, Matius pasal 8, dibuang kedalam kegelapan yang paling gelap. Tetapi disana di dalam Matius 8, apakah yang dia tidak miliki? Iman. Alasannya tidak mempunyai pakaian pesta. Tidak mempunyai pakaian pesta itulah yang menjadi masalah disini. Dan pakaian pesta ini berbicara dari hal :KEBENARAN. Wahyu 19:8:"Kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih! Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus."

Jadi ini berbicara dari hal perbuatan-perbuatan yang benar. Pertama tadi kita lihat dihubungkan dengan iman, sekarang dihubungkan dengan perbuatan-perbuatan yang benar. Kebenaran. Jadi lagi sekali kita melihat sekarang kebenaran adalah satu hal yang Tuhan cari. Tuhan ingin melihat kebenaran itu ada dalam kehidupan orang-orang percaya. Tadi pertama iman, sekarang ke dua kebenaran, berlaku benar. Bukan hanya percaya dengan hati lalu mengaku dengan mulut. Tetapi sekarang dalam perbuatanpun harus benar. Jadi bicara tentang kebenaran. Orang ini masuk dalam pesta, tidak mempunyai pakaian pesta, tidak mempunyai kebenaran, dan dia dibuang.

Jumat, 28 November 2008

Kegelapan Yang Paling Gelap 5

Kegelapan Yang Paling Gelap 5
Oleh : Pdt. A.H. Mandey

Nah, kembali kepada Matius 8 tadi, jelas disini bahwa, anak-anak kerajaan itu dibuang kedalam kegelapan yang diluar, yang paling hebat, yang paling gelap. Apakah ini? Apakah kegelapan yang paling gelap ini? Neraka? Kalau ini neraka, berarti anak-anak kerajaan masuk neraka. Nah, tentu kita tahu anak-anak kerajaan tidak masuk neraka, anak kerajaan masuk surga. Hanya pada waktu dipisah, ternyata mereka ini masih kurang imannya. Sedangkan dari Timur Barat itu mempunyai iman yang besar, mereka masuk kedalam kerajaan sorga bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Tetapi orang-orang yang tidak mempunyai ukuran iman yang sepenuhnya.

Yesus kalau datang nanti, Dia mencari Iman. Dalam Injil Matius dengan jelas Dia bicara tentang yang Dia perlukan iman; tetapi dalam injil Lukas 18:8 "...jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" Ada iman? Jelas saudara-saudara Allah mengharapkan / menentukan iman sebagai salah satu syarat yang kuat sekali. Masuk ke dalam kerjaan sorga atau dibuang kedalam kegelapan yang paling gelap, berdasarkan apakah kita mempunyai iman yang sepenuhnya atau belum. Jadi iman itu bisa berbeda. Tapi jangan sampai kita asal sudah percaya pada Tuhan, puji Tuhan, sudah, amin. Kalau kita tidak terus bertumbuh dalam iman kita kepada Tuhan.

Nah, seringkali contoh yang paling baik tentang iman adalah contoh dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Mereka percaya kepada Allah. Kalau mereka dipaksa untuk menyembah patung Nebukadnezar, mereka berkata, kami tidak perlu menjawab, sudah jelas kami tidak perlu menjawab, karena kami tidak mau menyembah. " Kalau kamu menyembah kamu dilepaskan; kalau kami tidak menyembah kamu akan dibuang ke dapur api". Mereka berkata "kami tidak perduli, kalau Allah kami tidak lepaskan kami, apa boleh buat, kami mati, tapi kami percaya bahwa Tuhan juga dapat melepaskan".

Dan saudara-saudara ternyata apa, Tuhan ada beserta dengan dia. Jadi iman mereka, bukan hanya kalau berdoa Tuhan jawab dan berikan apa yang mereka minta, tetapi juga, pada waktu mereka tidak mendapat apa yang mereka minta, itupun iman.

Sering kali kalau kita berkata dia sudah berdoa, dia nggak dapatm, orang ini tidak mempunyai iman. Eh..eh tunggu dulu. Iman adalah sesuatu yang kita liat disini Tuhan tekankan. Tuhan perlu iman. Tuhan ingin supaya kita mempunyai iman yang sesungguhnya. Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak minta dan tidak dapat kelepasan, tapi mereka tetap percaya, dan akhirnya, Tuhan buktikan tidak ada bau hangus pada tubuh mereka, itulah iman.

Nah saudara-saudara dikatakan disini sekarang, orang yang beriman berkumpul dalam kerajaan sorga, orang yang mempunyai iman tatapi imannya tidak memenuhi ukuran, mereka dibuang kedalam kegelapan yang paling gelap. Apakah kegelapan yang paling gelap itu? Bukan neraka. Bukan.

Kamis, 20 November 2008

Kegelapan Yang Paling Gelap 4

Kegelapan Yang Paling Gelap 4
Oleh: Pdt. A.H Mandey


Tadi pagi datang seorang saudara, dia cerita bahwa dia hamba Tuhan. Tap yah...dia bilang:"Om, sekarang saya yah malu om," malu katanya :"saya tidak jadi hamba Tuhan lagi." Dia agak malu ceritakan. Sekarang dia buka CV, jadi wakil direktur."Saya malu om" saya bilang apa yang malu, apa hidungmu nggak adakan? Kalau memang bukan panggilan, jangan paksa. Kalau bukan panggilan jadi hamba Tuhan, jadi gembala atau lain-lain, sudah, jangan. Kerjakan apa yang kita rasa itulah panggilan kita. Kalau panggilan dia jadi direktur, wakil direktur, menjadi komisaris atau apa dalam perusahaan, mau jadi pedagang, silahkan. Tuhan pakai juga tenaga-tenaga itu, Tuhan mau juga. Kalau semua jadi pendeta, kan repot juga saudara-saudara. Mesti ada juga anggota-anggota. Jadi masing-masing ada tugasnya.

Kalau saudara baca Roma pasal 12, jelas sekali disana dikatakan, banyak sekali bidang yang bisa kita kerjakan. Saya bacakan saja, meskipun agak menyimpang dari apa yang ingin saya kemukakan, tapi sekaliguslah. Roma 12:4 "Sebab sama seperti pada satu tbuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama". Tangan saudara, kaki saudara, perut saudara, dengkul saudara, sikut saudara, semuanya mempunyai tugasnya masing-masing, tidak sama.

Ayat 5 :"demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain". Jadi seperti tulang tangan dan tulang kaki itu berbeda fungsinya, begitu jugalah kita.

Ayat 6:"Demikianlah kita mempunyai banyak karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita; Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita". Kalau karunia kita bernubuat, bernubuatlah.

Ayat 7: "Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani,..." kita tidak usah malu jadi pelayan, tidak usah malu kalau itu panggilan kita untuk karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Mengapa kita tidak kerjakan? Kita tidak usah malu. Ayat 7:"...jikalau karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar".

Ayat 8: "jika karunia untuk menasehati, baiklah kita menasehati...." Kalau saudara terpanggil untuk konseling, menasehati, konseling sekarang banyak. Mau konseling, saya mau konseling-konseling, katanya mau konseling.

Saya senang melayani-melayani saja, dia katakan selanjutnya :"bagi pembangunan tubuh Kristus sampai kita semua mencapai kesatuan iman." Efesus 4:13. Kita sekarang ini belum mempunyai iman yang sama. Coba saudara liat kembali ke Roma 12 tadi, ayat 3 :"berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku akau berkata kepada setiap orang diantara kamu, janganlah km memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing."

Setiap orang mempunyai ukuran / takaran iman masing-masing. Sekarang ini iman kita tidak sama, takaran iman kita berbeda-beda, ada yang imannya besar, ada yang imannya kecil; sedang-sedanglah, tetapi dikatakan menurut ukuran....tugas yang sama dikatakan mempunyai hal sama seperti pada satu tubuh itu mempunyai banyak anggota, demikian pula anggota itu mempunyai tugas yang sama.

Dan dalam ayat yang ke 3 dia berkata :"sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing".

Jadi sekarang kita belum mempunyai iman yang sama. Yang satu lebih besar dari yang lain. Tetapi ini tidak akan terus menerus begini, iman itu tidak terus-menerus: kamu besar, aku kecil, kamu setengah-setengah, saya 80%, oh saya 10%, tidak. Sekarang menurut ukuran yang diberikan itu. Tetapi Efesus 4:13 :"sampai kita mencapai kesatuan iman". Jadi dengan lain kata, iman kita harus bertambah-tambah terus sampai pada suatu waktu kita semua mempunyai satu ukuran iman yang sama. Tidak ada beda. Itulah yang Tuhan mau berikan kepada kita.