Selasa, 10 Maret 2009

Tuhan Adalah Tempat Berharap

Ringkasan khotbah01.03.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu PertamaMaret ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)


Tuhan Adalah Tempat Berharap
Ratapan 3:25


Ayat-ayat ini mengatakan bahwa TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya. Puji Tuhan!
Setiap orang mempunyai pengharapan untuk hal-hal yang baik, tak terkecuali siapapun orang tersebut, dan apapun kepercayaannya, semuanya memiliki pengharapan.
Nabi Yeremia sedang meratapi keadaan bangsanya yang telah dihancurkan oleh raja Babel pada tahun 587 sM. Dia begitu sedih dengan keberadaan bangsanya, air matanya bercucuran mengalir keluar dari matanya yang sudah membengkak karena tangisan. Dalam hatinya dia merasa sudah tidak ada harapan lagi bagi bangsanya untuk bangkit. Kotanya sudah sunyi terpencil, menjadi jajahan lagi, Yerusalem telah ditinggalkan oleh penduduknya karena sengsara dan diperbudak lagi dengan berat. Bayangkan saudara, itulah perasaan Yeremia yang sedang menekan batinnya. Dia merasa putus harapan.
Tetapi ditengah-tengah kesedihannya ini, ada hal-hal yang dia perhatikan, yaitu “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap : Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! Tuhan adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya….” Ratapan 3:21-25.
Dia tetap berharap akan kasih setia Tuhan dan rahmat-Nya yang besar. Yaitu “Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya Tuhan, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu lagi” Ratapan 5:21. Ini adalah doa dan harapan dari sang nabi, dan doa ini belum digenapi, tetapi akan digenapi kelak, sebab pada akhirnya mereka akan tetap terpelihara, sampai Yesus datang kedua kalinya sebagai Raja dan memerintah dengan kemuliaan di Yerusalem.
Jangan pernah putus harapan dalam menghadapi hidup ini, sebab sehebat-hebatnya penderitaan yang dihadapi oleh orang percaya, ada saatnya nanti, semua penderitaan itu akan diganti dengan sukacita dan sorak-sorai kemenangan. Haleluyah! Seperti contoh dengan Ayub. Kita semua tahu cerita tentang Ayub bukan! Dia berada didalam penderitaan yang sangat luar biasa. Hartanya habis dalam sehari. Disusul dengan kematian semua anak-anaknya yang 10 orang itu dalam hari itu juga. Lalu dia sendiri menderita penyakit yang sangat parah, ditambah lagi dengan istrinya yang menekan dia dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati Ayub. Dalam keadaan demikian, teman-temannya datang dengan maksud menghibur, tetapi sebaliknya membuat Ayub menjadi emosional. Saat itu dia merasa, jalan yang paling baik adalah kiranya Tuhan meremukkan dia dan menghabisi nyawanya, inilah harapannya kata Ayub 6:8. ada saat-saat manusia berada didalam keadaan yang sama sekali putus harapan, sehingga menginginkan lebih baik mati saja. Tetapi saudara-saudara yang saya kasihi! Mazmur 9:19 katakan “bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.” Pada akhir kisah Ayub, dia dipulihkan, baik hartanya, juga Tuhan memberikan dia 10 orang anak lagi sebagai pengganti yang sepuluh terdahulu yang sudah mati. Mengapa bisa demikian? Apa yang membuat Ayub bertahan?
Didalam Ayub 23:10-12, dikatakan bahwa Ayub setia bersabar/bertahan sambil tetap menuruti Firman-Nya dengan tidak menyimpang. Inilah yang membuat dia bertahan sampai akhir dan menang! Mazmur 37:9 katakan, orang-orang yang menantikan Tuhan akan mewarisi negeri. Orang-orang yang sabar bertahan tidak akan lenyap, tetapi akan mewarisi negeri, jadi ada kelanjutannya. Sebaliknya orang-orang fasik akan dilenyapkan.
Oleh karena itu, saudara-saudara sekalian, apapun yang saudara sedang alami saat ini, bertahan dan berharaplah terus kepada pertolongan Tuhan, sebab pengharapan dalam Tuhan tidak mengecewakan – Roma 5:3-5. Amin!

Jumat, 06 Maret 2009

Harimau dan Serigala

Harimau dan serigala
Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari perkampungan penduduk.

Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit, sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham, bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua.

Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.

Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya bertanya kepada murid-muridnya, “Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari sana..?”.Seorang murid tampak angkat bicara, “Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan rezekinya kepada ku lewat berbagai cara.”

Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, “Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan.” Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya. “Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau.”

***

Adalah benar bahwa Tuhan ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah benar pula, Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, adakah Dia berikan kepada kita gandum-gandum itu hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan. Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.

Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika disana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari Tuhan. Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin membalas budi.

Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab disana, akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan kalbu. Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau.

From:email

Kamis, 05 Maret 2009

Memulai Suatu Pergerakan

Pergerakan bukanlah satu even besar yang menghebohkan seperti yang selama ini diidam-idamkan banyak orang. Pergerakan bukan one time revival dari satu atau dua hamba Tuhan. Pergerakan adalah sebuah penyatuan derap dan langkah untuk menunaikan Amanat Agung. Apa itu pergerakan?

Bersatunya Dua Alam: Roh dan Jasmani Pertama, pergerakan adalah bersatunya dua alam, yaitu dunia roh dan jasmani. Firman Tuhan mengatakan di dalam: Mat 6:9-10 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Eze 37:3-5 Lalu Ia berfirman kepadaku: "Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?" Aku menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!" Lalu firman-Nya kepadaku: "Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. Apabila ‘pergerakan’ adalah bagian dari penggenapan Amanat Agung, maka setiap orang perlu untuk memulai sebuah ‘pergerakan’ dengan memahami tujuan dan panggilan Tuhan dalam ‘pergerakan’ tersebut. ‘Pergerakan’ bukan sebuah program yang dinilai hanya berdasarkan dari banyaknya program, melainkan dinilai dari setiap visi dan panggilan Tuhan dalam pergerakan tersebut. ‘Pergerakan’ ada demi tujuan dan kehendak Tuhan dalam pergerakan itu sendiri. Mengapa kita memulai hal ini? Mengapa kita memercayai bahwa ini sebuah ‘pergerakan’? Inilah yang harus kita ketahui dengan pasti sebelum mulai melangkah lebih jauh. Menemukan kehendak Tuhan di bumi seperti di Sorga adalah bagian terpenting pada awal, proses, dan akhir dari perguliran pergerakan. Bahkan, kegagalan terbesar dari banyaknya pergerakan adalah kehilangan fokus dan kewaspadaan terhadap arah dan kehendak Tuhan. Bersatunya Para Pemimpin Kedua, pergerakan adalah bersatunya para pemimpin, sepertiyang dapat kita baca di dalam Firman Tuhan: 1Ch 12:22 Dari hari ke hari orang datang kepada Daud untuk membantu dia sehingga mereka menjadi tentara yang besar, seperti bala tentara Allah. ‘Pergerakan’ bukan one man show! Saat memasuki sebuah pergerakan, kita akan menemukan ada banyak orang bergabung untuk terlibat di dalamnya. Motivasinya pun berbeda-beda. Tetapi yang pasti, pergerakan adalah tempat berkumpulnya para pemimpin. Dalam 1 Tawarikh 12, kita akan menemukan 5 jenis pemimpin. Pertama, Daud (pemimpin yang memimpin), Pemanah (pemimpin yang memberi arah), Infantri (pemimpin yang merekrut dan bergerak), Pemimpin (pemimpin yang mengawasi), dan Penguasa (pemimpin yang menyatukan atau mengintegrasi). Kita mungkin melupakan suatu kebenaran penting, yaitu ‘yang perlu dan lebih dahulu harus bersatu adalah para pemimpin.’ Ini akan menjadi tugas tersulit yang akan dihadapi selama perguliran ‘pergerakan’, bahkan ini sudah menjadi penyebab rusaknya suatu pergerakan. Pemimpin akan merasa diri penting atau bahkan terjebak untuk merasa tidak membutuhkan orang lain, terutama ketika apa yang dipercayakan Tuhan makin besar. Atau, kita akan melihat ‘pergerakan-pergerakan tandingan’. Bersatunya Jalur Pemberi Dampak Ketiga, ‘pergerakan’ adalah bersatunya dua jalur pemberi dampak yang ditentukan Tuhan. Transformasi seperti yang didengung-dengungkan hari-hari ini adalah hasil dari revival dan ‘pergerakan’. Mat 5:13-14 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Untuk melaksanakan kehendak Tuhan dalam mentransformasi suatu masyarakat, dapat dilakukan dengan dua jalur: GARAM dan TERANG. GARAM berarti, kita tidak merubah penampilan sebuah masyarakat dari luar, melainkan masuk dan terlibat sepenuhnya dalam masyarakat tersebut dan merubah ‘rasa’ atau atmosfir masyarakat tersebut. Ini berarti pergerakan memerlukan dan memacu mereka yang ada dalam sosial masyarakat terlibat aktif untuk menggenapi kehendak Tuhan bagi masyarakat. Merubah dunia kerja merupakan penggenapan GARAM DUNIA pada hari-hari ini. TERANG berarti, kita memerlukan sebuah shock therapy bagi mereka yang ingin kita jangkau. Di sini dibutuhkan orang-orang yang ‘memukul genderang perang’. Disinilah tujuan dan visi Tuhan dinyatakan secara gamblang dan lugas. Disinilah setiap pemimpin diuji komitmen dan keseriusannya terhadap pergerakan Tuhan. Kedua hal ini harus berjalan bersama-sama agar maksimal.

Oleh: Donny Tatimu

Senin, 02 Maret 2009

Iman Mengalahkan Ketakutan

Ringkasan khotbah 15.02.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Ketiga Pebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)


IMAN MENGALAHKAN KETAKUTAN
Yesaya 12:2


Saudara kekasih di dalam Kristus!
Kita hari ini masih berada di dalam tema bulanan IMAN. Betapa perlunya kita memahami tentang iman. Sebab iman merupakan dasar dari perjalanan hidup setiap orang percaya.
Hari ini kita telah membaca sebuah ayat diambil dari Yesaya 12:2 yang berbicara tentang Allah yang adalah keselamatan kita, olehNya Yesaya percaya dengan tidak gementar, dasarnya karena TUHAN ALLAH itu kekuatan dan mazmurnya…….
Ada dasar bagi orang percaya untuk tidak takut menghadapi apapun, yaitu percaya kepada Dia yang adalah sumber kekuatan. Amin!
Tetapi hari-hari ini, khususnya manusia akhir zaman, hati mereka akan menjadi lemah dan takut karena begitu banyak peristiwa yang sedang terjadi bahkan yang diprediksi akan terjadi. Mata rantai dari krisis global akan mengakibatkan kesulitan dan kesusahan bagi banyak orang. Ekonomi menjadi kacau balau, bursa saham dunia berguguran, sendi-sendi perekonomian dan keuangan berantakan. Negara-negara di dunia sedang bergumul dengan sekuat tenaga untuk berusaha bangkit dari keterpurukan ini. Saat-saat inilah merupakan saat-saat yang dapat membuat orang gementar – kata Yesaya.
Kata gementar dalam Yesaya 12 ini, bukan suatu ketakutan yang biasa-biasa, tetapi ketakutan yang membuat orang menggigil/gemetar. Ini adalah sebuah perasaan takut yang dapat melumpuhkan orang. Sebab perasaan takut ini akan masuk dalam hati dan pikiran serta mengakibatkan tekanan dan kecemasan, dan akhirnya membuat orang tidak dapat menikmati hidup dengan baik.
Yesus tidak pernah bermaksud supaya kita menjadi budak ketakutan, seringkali kita membaca dalam Injil, Dia berkata “Jangan takut, jangan takut!” Yesus ingin kita menolak ketakutan, sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan – 2 Tim. 1:7. Allah tidak mau kita hidup dalam ketakutan.
Orang bisa menjadi penakut, karena dia kurang percaya. Sebab kalau dia percaya bahwa Allah menyertainya, dia pasti tidak takut. Saudara lihat dalam markus 4:35-40. Dikisahkan Yesus bersama murid-murid-Nya menyeberang danau Galilea, ditengah perjalanan tersebut, mengamuklah angin taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu mulai penuh dengan air, artinya perahu sudah mau tenggelam. Siapa yang tidak takut menghadapi peristiwa yang demikian. Bukankah kehidupan saudara dan saya juga sering mengalami hal yang sama? Kehidupan kita ibarat perahu yang sedang berlayar ditengah lautan yang luas, yaitu dunia ini. Seringkalikali kita mengahdapi hantaman angin dan gelombang yang besar. Berapa banyak kali saudara berteriak ketakutan? Tetapi kita mau belajar dari Markus pasal 4 ini. Yesus ada bersama-sama murid-murid di dalam perahu, tetapi mereka membiarkan Yesus tertidur di buritan. Mereka mau coba mengandalkan kebisaan mereka – yaitu keahlian, kepintaran, pengalaman, kemampuan. Jadi seakan-akan mereka mau berkata, “Yesus Engkau istirahat saja, kami bisa berlayar dengan kemampuan kami, kami sudah berpengalaman, kami ‘kan mantan-mantan nelayan di danau ini, jadi kami sudah biasa.” Bukankah saudara juga sering berperilaku seperti demikian? Manusia terlalu sombong dengan kemampuannya sendiri, sehingga pada waktu berhadapan dengan masalah bereka ketakutan. Seperti murid-murid ini, mereka dalam ketakutan akan binasa, lalu datang pada Yesus dan berkata “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Makia Yesus dengan penuh kasih Dia bangun dan menghardik angin itu dan memerintahkan kepada gelombang danau itu :”Diam! Tenanglah!” Lalu semua menjadi tenang. Dan perhatikan, inilah sumber ketakutan itu, Yesus berkata kepada mereka :”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Ketakutan datang karena tidak percaya (Bhs Ingg. Have no faith) – tidak mempunyai iman. Takut dan tidak takut, itu semua bergantung apakah engkau memiliki iman atau tidak memiliki iman. Jadi bagaimana mengatasi ketakutan, jawabannya adalah saudara harus memiliki iman kepada Allah, percaya kepada Firman Allah, sebab hanya Firman Allahlah yang dapat membangkitkan imanmu dan berdoalah senantiasa sampai engkau dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus yang akan memberikan kekuatan dan damai sejahtera kepadamu – Filipi 4:6-7. Amin!

Kamis, 26 Februari 2009

Hidup Oleh Iman

Ringkasan khotbah22.02.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Keempat Pebruari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)


HIDUP OLEH IMAN
Ibrani 10:38

Betapa pentingnya Firman ini, sehingga ayat ini dikutip oleh rasul Paulus dari Perjanjian Lama yaitu Kitab Habakuk 2:4 sebanyak tiga kali ke dalam surat-suratannya kepada jemaat di Roma, Galatia dan kepada orang-orang Ibrani. Betapa pentingnya kita harus hidup oleh iman.
Saya sudah berbicara tentang iman selama tiga minggu berturut-turut, yaitu iman yang merobohkan tembok-tembok penghalang, tindakan iman yang membelah laut masalah, iman yang mengatasi ketakutan, dan hari ini sebagai klimaksnya yaitu kita harus hidup oleh iman.
Saudara-saudara, kita kenal bangsa Israel dari Alkitab, dimana kehidupan mereka di dalam iman kepada Allah, sering maju mundur. Ada kalanya mereka setia, pada lain waktu mereka berontak. Ada kalanya mereka menyembah Allah yang hidup, Allah Abraham Ishak dan Yakub, pada saat yang lain mereka menyembah berhala yang sangat dibenci oleh Allah.
Pada suatu ketika mereka datang minta pertolongan kepada Mesir, karena berperang melawan bangsa Asyur. Mengapa mereka tidak minta pertolongan kepada Allah? Yesaya 31:1 katakan “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yangn begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari Tuhan.” Mereka lebih percaya kepada Mesir dengan segala peralatan perangnya yang kuat dan pasukannya yang besar. Inilah yang mereka andalkan, yaitu apa yang mereka lihat dengan mata mereka. Sehingga Tuhan kecewa dengan bangsa ini. Seringkali juga orang percaya berlaku demikian. Yaitu lebih percaya dengan apa yang dilihatnya, sehingga mereka mau mengandalkan Mesir (hal-hal duniawi), kuda-kuda dan pasukan berkuda (kekuatan dunia) sebagai tempat perlindungan mereka, saya mau katakan, hati-hati, sangat berbahaya. Coba simak Yesaya 36:6 “Sesungguhnya, engkau berharap kepada tongkat bambu yang patah terkulai itu, yaitu Mesir, yang akan menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang kepadanya. Begitulah keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua orang yang berharap kepadanya.” Jangan berharap kepada manusia, engkau akan kecewa, bahkan engkau akan terluka. Daripada berharap kepada dunia, sebaliknya Yesaya 30:15-16 katakan “……. Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal percaya terletak kekuatanmu tetapi kamu enggan, kamu berkata :”Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula :”Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.” Jadi dengan lain, berdoalah dan beriman saja kepada Tuhan, maka kau akan diselamatkan dan mendapatkan kekuatan.
Contoh yang lain lagi dari tokoh Alkitab yang hidup oleh iman adalah Abraham. Kejadian 15:5-6 mengatakan kepada kita, bahwa betapa pentingnya iman, sehingga melaluinya Abraham dibenarkan (Galatia 3:6), bahkan Galatia 3:7 katakan bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan ayat 9 katakan, mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu melalui Kristus yang telah mati tergantung di kayu salib. Dia telah melakukan ini supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain …….. Sebab semua orang yang hidup dari pekerjaan Hukum Taurat, berada dibawah kutuk …. Dan tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, karena “Orang yang benar akan hidup oleh iman.”
Oleh sebab itu saudara-saudaraku dalam Kristus! Jangan tawar hati dalam menghadapi keadaan bagaimanapun juga beratnya, dalam 2 Korintus 5:4-7 “……..sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” Amin!

Rabu, 25 Februari 2009

Esensi Diri

Esensi Diri

Alkisah di suatu desa, ada kabar yang menggembirakan. Orang-orang di desa itu gembira mendengar bahwa putra sulung sang kepala desa akhirnya akan pulang ke desanya setelah meraih gelar sebagai seorang dokter. Rencananya, ia pulang untuk mencari istri alias pendamping hidupnya.

Mendengar si putra sulung kepala desa akan mencari seorang calon istri, Orang-orang di desa sibuk memikirkan putri siapa yang pantas disandingkan dengan putra sulung kepala desa. Ketika berkumpul di aula desa, diputuskanlah bahwa ada 3 orang gadis yang menurut mereka paling sesuai disandingkan dengan putra sulung kepala desa.

Yang pertama adalah putri seorang juragan beras yang kaya di desa. Selain kaya, putri juragan ini sangat cantik dan molek. Perawakannya bak peragawati. Ramping, langsing dan singset. Menurut mereka, inilah pasangan yang cocok bagi putra sulung kepala desa. Yang satu cantik, dan yang lainnya ganteng.

Yang kedua adalah putri bendahara desa. Bendahara desa adalah seorang yang terpelajar, semua anaknya terpelajar. Putri sulung bendahara adalah seorang yang sangat pintar. Ia sangat jeli dan banyak membantu ayahnya. Nantinya ia diharapkan bisa menjadi pengganti ayahnya sebagai bendahara desa. Lagi-lagi, menurut orang-orang desa, inilah pasangan yang ideal. Sama-sama pintar, bendahara pintar dan dokter hebat.

Yang ketiga adalah putri seorang dokter desa. Menurut orang-orang desa, pasangan ini ideal ‘wong sama-sama dokter. Apalagi yang kurang?

Lalu, tibalah saat yang mendebarkan bagi seluruh isi desa. Putra sulung kepala desa akhirnya tiba di desa. Untuk membuktikan pilihan siapa yang paling tepat. Maka bergiliranlah putri si juragan, putri bendahara desa, dan putri dokter desa bertandang ke rumah Pak kepala desa untuk berkenalan dengan putra sulung pak kepala desa. Tiga hari berturut-turut mereka berdatangan. Tetapi, tidak ada satupun dari mereka yang dipilih oleh putra sulung kepala desa menjadi istrinya. Orang-orang di desa terheran-heran akan kenyataan ini.

Satu bulan kemudian, putra sulung kepala desa meminang putri seorang tukang kayu. Setelah melangsungkan pernikahan, mereka langsung meninggalkan desa, menuju ke kota tempat praktek si putra sulung sebagai dokter.

Setelah kepergian mereka, orang-orang desa yang penasaran bertanya kepada Pak kepala desa. “Bapak, kenapa anak bapak malah memilih anak seorang tukang kayu menjadi istrinya?” Dengan tersenyum pak kepala desa menjawab,”Ia sudah memilih yang terbaik. Ia memilih apa yang ada di dalam, bukan apa yang tampak di luar.”

“Maksud bapak?” Tanya orang-orang desa yang penasaran.

Lalu pak kepala desa menjelaskan dengan bijaksana “Benar, bukan putri juragan yang cantik, molek, dan langsing yang dipilih anakku. Karena, ia tidak melihat fisik seseorang. Wajah yang cantik, tubuh yang langsing tidak akan bertahan lama. Ia akan pudar seiring waktu. Bukan juga, putri bendahara desa yang pintar. Karena, kepintaran tidak menjamin apapun. Ia juga tidak memilih putri dokter desa. Karena, profesi hanyalah bagian dari pekerjaan seseorang. Bukan menentukan bagaimana sebenarnya orang itu”

“Kalau akhirnya anakku memilih putri si tukang kayu, itu lebih karena esensi diri yang baik. Putri si tukang kayu setiap sore selalu menyempatkan diri memberi minum pada beberapa kelinci yang tidak ia pelihara. Meskipun ia telah lelah membantu ayahnya bekerja. Esensi dirinya yang sederhana, tulus, dan rela melakukan pekerjaan yang sekecil apapun membuat anakku memilihnya sebagai pendamping hidupnya. Itu adalah hal yang terpenting bagi anakku.”

From:email

Selasa, 24 Februari 2009

Tempaan Emas

Saat tukang emas sedang membentuk emas menjadi bentuk yang diinginkannya, tukang emas memiliki 2 pilihan utama yakni terus membentuknya hingga emas itu terbentuk seperti yang diinginkannya atau berhenti dan melakukan hal yang lainnya. Ada konsekuensi dari tiap pilihan tukang emas tersebut.



Pilihan pertama, membentuk hingga emas tersebut terbentuk sesuai dengan yang diinginkannya. Pilihan ini membawa konsekuensi pada usaha yang terus menerus dan hanya berhenti sebentar untuk memastikan bahwa arah bentuk emasnya sudah hampir sempurna. Prosesnya tempa-cek-tempa-cek-tempa-cek terus menerus hingga akhirnya jadilah seperti bentuk yang diinginkannya. Untuk dapat konsisten terus menerus melakukan proses ini, dibutuhkan kesabaran, keuletan dan dedikasi yang tinggi. Bila tidak, emas tersebut akan terbentuk hanya seperti sempurna.



Pilihan kedua, berhenti karena alasan apapun. Pilihan ini membawa konsekuensi jika suatu saat tukang emas itu ingin membentuk emasnya, maka ia harus mulai dari awal proses. Semua harus diulang, langkah demi langkah, tempaan demi tempaan. Pilihan kedua mempunyai efek perjuangan yang lebih berat karena proses yang sama harus diulang dua kali.



Tidak ada bedanya jika kita dalam hidup ini adalah sebagai tukang emasnya ataupun sebagai emasnya. Sebagai tukang emas, kita berperan untuk membentuk sesuatu seperti yang kita inginkan. Sebagai emasnya, kita adalah pihak yang sedang dibentuk untuk menjadi yang diinginkan ’tukang emas’ kita. Apapaun diri kita dalam kontek ini, jika kita berhenti sebelum proses selesai, maka, kita pasti harus memulai dari awal untuk menuju bagian yang seharusnya telah kita selesaikan.



Perjuangan tidak pernah ringan, tidak pernah menyenangkan dan selalu ada pengorbanan. Namun pada saat kemenangan, kita akan melihat setiap hal yang kita lewati dan korbankan, saat itulah, kita akan bangga atas penderitaan kita. Karena kita menang atas penderitaan kita. Kebanggaan manusia adalah penderitaannya karena tidak ada seseorangpun yang dapat berbangga akan sesuatu yang didapatkannya dengan percuma. Tidak ada seorang pemenang lomba yang tidak bangga atas setiap ringangan lomba yang berhasil diatasinya.



Jangan takut ditempa – Jangan takut menderita

Perjuangan adalah proses

Penderitaan adalah kebanggaan sang pemenang

From;email