Rabu, 11 Maret 2009

Pengharapan Yang Tak Tergoyahkan

Ringkasan khotbah08.03.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Kedua ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)


Pengharapan Yang Tak Tergoyahkan
Roma 15:4


Saudara-saudara yang kekasih!
Dalam Perjanjian Lama, kita mengenal bangsa Israel sebagai satu bangsa yang selalu mengeluh, bersungut-sungut, suka berbantah-bantah dengan Tuhan. Apa yang mereka inginkan, mereka bersungut-sungut, mengeluh, marah kepada Musa, marah kepada Tuhan. Tidak mau berharap sama sekali kepada Tuhan.
Sekali peristiwa dalam perjalanan mereka menuju ke tanah Perjanjian, mereka bersungut-sungut di hadapan Tuhan tentang nasib buruk mereka, dan hal ini membangkitkan murka-Nya sehingga menyalalah api Tuhan diantara mereka. Mereka ketakutan dan berteriak kepada Musa, dan Musa berdoa kepada Tuhan maka padamlah api itu. Bilangan 11:1-3.
Hal yang sama dengan orang percaya di zaman ini, selalu mengeluh dengan berbagai macam hal kepada Tuhan, “mengapa ‘nasib’ saya demikian?” “mengapa hidup saya begini, begitu” dan seterusnya. Demikianlah keberadaan iman anak-anak Tuhan hari-hari ini, dapat dikatakan sebagai orang percaya yang kurang percaya dan kurang/tidak berharap lagi kepada Tuhan. Keluhan dan sungut-sungutan mencerminkan keberadaan rohani seseorang yang tidak mempunyai pengharapan di dalam Tuhan.
Oleh karena itu Roma 15:4 katakan, bahwa segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita. Bahkan dalam 1 Korintus 10 dicatat disana, semua peristiwa yang terjadi dengan bangsa Israel telah ditulis sebagai contoh dan peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, dimana zaman akhir telah tiba.
Waktu itu bangsa Israel ditimpa dengan kebinasaan di pagut oleh ular, karena mereka tiada hentinya mencobai Tuhan.
Sebagai manusia biasa, kita memang tidak luput dari kelemahan, termasuk ada saat-saat tertentu dalam hidup ini, kita merasa putus asa karena begitu banyak beban masalah yang menekan. Tetapi sebagai orang percaya, marilah kita melihat dengan teliti, bahwa di dalam masalah-masalah tersebut, pasti ada maksud dan rencana Tuhan bagi kita. Rasul Paulus, sebagai seorang Rasul yang dipakai oleh Tuhan begitu luar biasa pun, pernah berkata “……beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati.” 2 Korintus 1:8b – 9a. Ini sangat manusiawi. Sebab ada waktu-waktu tertentu dalam kehidupan ini, kita merasa lemah dan bahkan putus asa. Tetapi belajarlah kepada Paulus, bagaimana sewaktu dia menghadapi beban yang begitu besar dan berat, apa yang dia lakukan? 2 Korintus 1:9b “Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” Inilah juga yang harus kita belajar, didalam bergumul dengan persoalan hidup, yaitu jangan menaruh keyakinan (be persuaded) pada diri sendiri, tetapi percaya dan berharaplah kepada Allah yang hidup dan berkuasa. Amin!
Abraham adalah contoh yang sangat baik di dalam hal beriman dan berpengharapan kepada Allah. Roma 4:18-22 mengatakan, bahwa sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa. Dan hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Dan hasilnya adalah, keturunan Abraham secara jasmani dan secara rohani melebihi separuh penduduk dunia saat ini. Haleluyah! Berharap dan percayalah kepada Tuhan Yesus dengan tidak tergoyahkan oleh apapun. Amin!

Tidak ada komentar: