Kamis, 29 Januari 2009

Adat Istiadat dan Ke-Keristenan

Ringkasan khotbah 25.01.’09
Pengkhotbah: Pdt. Eddy Tatimu MA – Gembala SidangGPdI HF MDS.
(Ibadah minggu Keempat Januari ’09 GPdI Hagios Family Mangga Dua Square)

Adat Istiadat dan KeKristenan

Hari-hari ini, di seluruh dunia orang-orang Tiong Hoa sedang berada di dalam suasana Imlek.
Saudara-saudara jemaat Tuhan di sini juga tidak terkecuali sedang berada dalam suasana yang sama untuk menyambut Hari Raya Imlek besok bukan? Menjadi pertanyaan yang sama sampai hari ini adalah “Apakah orang Tiong Hoa yang sudah Kristen boleh merayakan Hari Raya Imlek?” Tetapi sebelumnya saya mengajak saudara-saudara untuk mengerti, apakah Imlek itu. Kata “Imlek” sendiri artinya “penanggalan menurut peredaran bulan”. Jadi tidak ada arti apa-apa. Cara penanggalan berdasarkan peredaran bulan, sudah dilakukan orang sejak zaman dahulu kala. Baik orang Tiong Kok, Arab, Yahudi, Mesir dlsb melakukan hal yang sama. Dan penanggalan yang kita kenal sekarang adalah penanggalan berdasarkan peredaran matahari atau yang disebut “Yang Lek”. Yang sebenarnya yang dimaksudkan orang dengan Hari Raya Imlek adalah Hari Raya Musim Semi, atau Sin Cia (Sin Chun dalam dialek Mandarin). Sin Chun (Chun / musim semi yang baru) adalah hari pertama Musim Semi. Ini adalah saat para petani bersuka ria karena menyambut musim tanam. Mereka telah melalui Musim Gugur dan Musim dingin dimana mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Maka sangat wajar, bila musim Semi datang perasaan mereka penuh dengan kegembiraan. Peristiwa ini terjadi sejak zaman dahulu kala. Tiongkok adalah bangsa agraris, penduduknya kebanyakan bertani. Oleh karena itu sudah menjadi satu tradisi, bila musim semi tiba, mereka sangat bersuka cita; mereka berpesta rakyat, makan minum, menari-nari, saling berkunjung keluarga dan lain sebagainya. Dengan berjalannya waktu, tradisi ini mereka mulai ritualkan. Ada sembahyang sebagai tanda ucapan syukur kepada Dewa Langit dan Dewa Bumi. Membagi-bagi Ang Pao(bungkusan merah) dalamnya diisi sejumlah duit. Seturut dengan perkembangan zaman, tradisi ini terus dikembangkan sampai seperti hari ini.
Kembali kepada pertanyaan, apakah orang Kristen Tionghoa boleh merayakan Sin Cia? Saya mau katakan dalam batas-batas tertentu, BOLEH! Artinya kalau hanya salaman, makan, kasih Ang Pao pun boleh-boleh aja. Kasih selamat sukses dan sehat. Boleh juga. Tanpa Sin Cia pun kita sering berkata demikian kepada orang-orang kan! Yang tidak boleh adalah, kalau setiap adat-istiadat itu kita kaitkan dengan unsur-unsur spiritual lalu kita sakralkan dalam bentuk-bentuk penyembahan, INI SAMA SEKALI TIDAK BOLEH!
Yesus pernah menegur dengan keras kepada orang-orang Yahudi yang menanyakan kepada Yesus tentang murid-murid-Nya yang makan dengan tidak membasuh tangan – Markus 7:1-2,5. Rupanya hal membasuh tangan dan lain-lain adalah merupakan adat-istiadat nenek moyang mereka – Markus 7:3-4. Maka Yesus menjawab mereka :”…. Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat-istiadat manusia.” – Markus 7:6-8.
Adat-istiadat tidak semua jelek, juga tidak semua baik bagi kita orang Kristen. Semua bangsa di dunia mempunyai adat-istiadat masing-masing. Kebiasaan manusia di dunia ini kalau ketemu – apa lagi kalau sudah lama tidak ketemu – saling salam salaman, apakah ini tidak baik? Tentu saja baik. Walaupun cara menyampaikan salaman itu masing-masing bangsa berbeda-beda, ada yang berjabat tangan, ada yang menggenggam kedua kepalan tangan sambil digoyang-goyangkan didepan dada, ada yang nunduk 90 derajat, ada yang cipiki-cipika dlsb. Tradisi yang tidak baik bagi kita orang percaya adalah kalau tradisi-tradisi itu dimasukan unsur spiritual/kepercayaan tertentu. Hal ini kita jauhi. Saudara harus ingat, Firman Allah mengingatkan kita pada kondisi jemaat di Galatia, mereka tadinya tidak mengenal Allah dan menyembah para berhala. Tetapi setelah diselamatkan oleh pelayanan Paulus mereka mengenal Allah. Lama kelamaan mereka kembali kepada cara penyembahan mereka yang lama, sehingga Paulus menulis surat kepada mereka dalam Galatia 4:9-11 “….. kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun……” Inilah yang banyak dilakukan oleh orang-orang Kristen akhir zaman. Kalau ada perayaan suka lihat hari, bulan, tahun, bahkan jam-jam tertentu. Ini sama dengan yang Yesus katakan kepada orang Yahudi “Munafik”- Markus 7:6.
Kita sekalian tidak mau disebut orang munafik ‘kan! Makanya jangan ikut-ikutan dengan tradisi-tradisi yang mengandung unsur ritual dan kepercayaan. Anda mau saling kunjungi keluarga besok, silahkan. Itu Alkitabiah sebab memelihara persatuan keluarga dan saling mengasihi antara saudara yang satu dengan saudara yang lain – 1 Yoh. 4:20-21. Mau makan bersama? Silahkan. Mau kasih Ang Pao atau terima Ang Pao, silahkan. Pendeta pun mau “Ang Pao”.
Saya bukan mau kompromi dengan tradisi Tiong Hoa, tetapi apa yang wajar-wajar saja yang kita lakukan. Yang terpenting kita jangan mempercayai kepercayaan-kepercayaan yang ada dibalik tradisi-tradisi dan adat istiadat nenek moyang itu. Sebagaimana Firman Allah katakan dalam Kolose 2:8 “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” Terlalu banyak tradisi dan adat-istiadat Tionghoa kalau mau dibicarakan. Dari perkawinan, kehamilan, kelahiran anak, usaha bisnis, pekerjaan, rumah tinggal, sampai kematian, pekuburan semua ada tata cara tradisinya. Oleh karena itu, saudara-saudara harus sangat berhati-hati dengan semuanya itu, jangan sampai terpengaruh atau tertawan dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia. Tetapi sebaliknya marilah kita meninggalkan segala tradisi-tradisi dan adat-istiadat leluhur yang hampa dan tidak berarti itu, dan lakukanlah segala sesuatu menurut ajaran dan perintah Kristus. Amin!

Tidak ada komentar: